24 Juli 2013

TRAP [12]

12. Rahasia Rio


Rio tersenyum lega, masa hukumannya sudah berakhir. Ia sudah duduk kembali didalam mobil kesayangannya bersama Ify. Lagi-lagi ia harus melaksanakan tugasnya untuk mengantar-jemput ify. Apalagi saat kakek Ify menegurnya karena membiarkan Ify di antar pulang oleh cowok lain selain dirinya. Ntah sudah yang keberapa kalinya mereka berdua melewatkan perjalanan dengan diam. Hingga ponsel Rio berdering.

"Halo?"

"Dengan Mas Rio?"

"Iya, ada apa Suster Nova?"

"Mas Kiki, Mas. Dia...."

"Kumat lagi?"

"I..iya.."

"Yaudah, saya kesana sekarang."

Ify memperhatikan Rio dengan tatapan bertanya.

"Sory fy, hari ini kita bolos dulu. Ada hal yang lebih penting daripada sekolah."

IFy melotot. "Hey! Nggak bisa gitu dong. Kalo emang lo mau bolos, jangan ajak-ajak gue. Turunin gue di sekolah."

"Nggak keburu, Fy. Ini menyangkut hidup dan mati seseorang." 

"Alasan." cibir ify kesal.

"Please, sekali ini aja. Gue janji, ini yang pertama, sekaligus terakhir kalinya." ujar rio setengah berteriak, kesal.

Ify mendengus kesal. "yayaya, terserah."

Mobil Rio pun melaju kencang membelah kemacetan di Surabaya.


**__**


Sivia berlari kencang dengan napas terengah-engah, satu menit sebelum bel masuk berbunyi. 

"Huh!" Sivia mengelap keringatnya, lalu berjalan cepat menuju kelasnya. Tapi saat ia masuk kelas, kelasnya kosong. Tidak ada satupun tanda kehidupan disana. Dia berdiri dengan ekspresi kebingungan. Ini jam tujuh tepat. tapi dimana teman-temannya? Ini bukan hari libur, kan? Batin Sivia.

Suara langkah kaki mendekat, Sivia menoleh dan mendapati teman sekelasnya, Oik, memasuki kelas dengan tergesa-gesa.

"Kamu ngapain masih disini? Classmeeting udah di mulai di Aula Putih! Kamu, kan, ketua osis? kenapa nggak kesana?"

Mata Sivia membulat, lalu ia menepuk dahinya. "Astaga!"

Oik hanya mengedikkan bahu dan beranjak darisana. Sivia pun menaruh tasnya di bangku dan berlari menuju aula putih.

BRAAKKK

"Eh maaf, maaf. aku nggak sengaja." ujar Sivia sambil membungkuk.

Alvin meringis, seluruh minuman yang ia bawa terjatuh. Bahkan beberapa gelasnya sudah pecah berkeping-keping. "Ngg...gue sih gak papa. tapi..."

"Alvin? Sivia? Apa-apaan ini?" Tanya Bu Okky marah. "kalian bikin kotor rumput sekolah! oh, astaga! kalian!"

"ADUH BU ADUH.." Ringis sivia dan alvin karena bu Okky menjewer telinga mereka berdua.

"Kalian, bereskan ini. jangan sampai tersisa kotoran sedikit pun! kalo saya tau kalian meninggalkan tempat ini sebelum bersih, saya akan menskors kalian dari pelajaran saya selama satu semester!"

keduanya melotot. " Iya bu, iya." 


**__**


Rio terdiam di dalam mobilnya. Ia sudah berada didepan Rumah Sakit Jiwa Menur. Ify melongokkan kepalanya, lalu menyerngit. 

"ngapain di rsj? lo nggak gila, kan? ato obat lo abis, gitu? ato jangan-jangan lo mau ngirim gue ke rumah sakit jiwa? please, yo. gue masih waras!"

"bisa nggak sih lo diem?" ujar rio datar, tapi tajam.

ify berdecak. "yayaya suka-suka lo aja."

Rio memantapkan hatinya untuk keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam rsj. "Lo mau ikut, apa disini?" tanya Rio sebelum ia benar-benar keluar dari mobil.

ify mengangkat bahunya, "gue ikut aja, deh."


dan mereka berdua sudah berada di depan kamar nomor 27. dengan papan bertuliskan Kiki Ekaputra H.

ify menyerngit. H? bisa berarti itu adalah Haling, marga keluarga Rio. tapi...kakek, maupun orang tua rio tidak bercerita tentang adanya Haling lain selain Rio dan Agni. jadi, dia siapa?

"Dia kakak gue." seolah bisa membaca fikiran ify, rio pun duduk pada bangku di hadangan pintu kamar kiki, dan ia mulai bercerita. "kakak gue yang cacat mental karena kesalahan bokap gue." rio menghela napas, berat. "tiga tahun lalu, saat kakak gue usianya 22 tahun, dia dipaksa buat bertanggung jawab atas kehamilan Adella. lo tau, kan, yang beritanya heboh itu?"

ify mengangguk. "Ehm, Adella Wibawa?"

"Tepat. anak seorang pengusaha yang lagi berjaya-berjayanya, hamil di luar nikah. karena kak Adella itu salah satu mantan kak Kiki, kak Kiki-lah yang di tuduh oleh keluarga kak Adella. sedangkan saat itu, kak Kiki udah punya kak Nandra yang lagi ngandung anak asli kak Kiki."

"..keluarga kak Adella mengancam keluarga gue. dan papa gue pun memaksa kak Kiki buat ceraiin kak Nandra. itu nggak mungkin. karena waktu itu kak Nandra baru hamil dua bulan. lalu bokap gue dengan kejinya nyuruh kak nandra untuk..."

"ngegugurin kandungannya?" tebak ify

rio mengangguk. "yah. dan kak kiki marah besar. untung saat itu kak nandra belum bener-bener menggugurkan kandungannya. mereka akhirnya kabur dari rumah."

"Terus?"

"Bokap ga diem aja. dia nyari kak kiki. dan ketika ketemu, dia ngancem bakal bikin kak nandra kenapa-kenapa, kalau kak kiki gak mau menikah sama kak adella. tapi kak kiki tetep kekeuh sama pendiriannya. dia gak akan tanggung jawab sama sesuatu yang bahkan bukan perbuatannya. sampai suatu malam, di depan matanya sendiri, kak kiki ngelihat seseorang ngebunuh kak nandra."

Ify melotot. tanpa sadar, sejak tadi menahan napas.

cerita rio terhenti ketika pintu kamar kiki terbuka, dan menampakkan sosok suster nova. baik rio mau pun ify sama-sama berdiri tegang.

"eh, Mas Rio sudah datang, ya. maaf, saya baru aja ngasih suntik ke mas kiki. biar bisa tenang. tadi....dia nemu pisau dan....dia menyilet tangannya lagi." ujar Suster Nova

wajah rio memucat. "terus? dia gak apa-apa, kan sus?"

"untung dia gak apa-apa. dia gak terlalu kehilangan banyak darah, karena ada perawat lain yang memergoki tindakan mas kiki tadi. sekarang, mas sudah boleh menjenguk mas kiki kedalam."

"makasih, ya sus. makasih. saya gak tau harus membalas dengan apa. terimakasih." rio sampai membungkuk berkali-kali.

ify melihat pemandangan itu dengan tatapan takjub. baru pertama kali ini dia melihat sosok rio yang berbeda dari biasanya.


**__**


sivia menatap rerumputan di hadapannya dengan lega. peluh membanjiri wajahnya. tak beda jauh dengan alvin. mereka sekarang terduduk di sebuah bangku tak jauh dari tkp(?)

"makanya kalo jalan hati-hati. cerobohnya ga ilang-ilang."

sivia mendengus, "ya kan aku lagi buru-buru. lagian udah minta maaf, udah bantuin bersihin juga."

"heh harusnya kan yang bantuin gue. secara gue gak salah tapi dengan suka rela bersihin rumput-rumput sialan itu."

"Ye, iya-iya. sory."

"eh lagian bu okky niat amat sih ngehukumnya? sekarang coba logika. jus apukat, es teh, jus mangga, jatuh ke rumput. bukan lantai, ya. rumput. dan dia nyuruh bersihin sampe bersih? itu guru sakit jiwa? ato gimana?"

sivia terbahak-bahak.

sejenak alvin merasa dunia berhenti saat itu juga. saat ia bisa melihat sivia tertawa terbahak-bahak karenanya. sungguh, rasanya sudah lama sekali. ia bahkan tidak bisa mengingat bagaimana tawa sivia karena leluconnya dulu.

"iya, tuh orang emang agak-agak. di kira gampang gitu ngelap rumput yang masih pendek-pendek itu sampe bersih? utung rumput plastik."

"tapi yang lebih bego kita, deh kayanya."

sivia menoleh, dan menyerngit. "maksud nya?"

"ya kita lebih bego. kenapa nurutin orang yang agak-agak gitu. "

sivia kembali tertawa. "seenggaknya kita gak durhaka sama guru."

"lah? gak durhaka? terus ngomongin guru gini namanya gak durhaka juga?"

"Mungkin...nggak?" sivia terkikik.

alvin geleng-geleng kepala. "dasar, gembul." gumamnya

"eh, aku denger ya vin,"

alvin meringis. "lo udah gak keberatan gue panggil gembul kaya dulu?"

sivia terdiam.

"via, maafin gue ya? gue emang salah di masa lalu. gue emang gak termaafkan. gue gak nyuruh lo lupain. gue cuma minta lo maafin gue, dan kasih gue kesempatan kedua buat memperbaiki semua."


Sadar sudah tak bisa mengelak, sivia pun mengangguk.

Semoga keputusan akukali ini tepat.

“be..beneran?”

“ya, kalo gak percaya yaudah. Aku bisa ta…”

“eitss! Gak gak. Bercanda. Makasih sivia!” Alvin mengacak-acakrambut sivia dengan gemas.

Muncul perasaan berdesir dari dalam hati sivia. Semoga kaliini Alvin benar-benar bertanggung jawab atas ucapannya.

**__**

Ify mengamati sosok pemuda yang sedang tertidur pulas diranjangnya. Mukanya pucat, matanya berkantung, tangannya di perban, tubuhnyakurus. Ify yakin, kalau Kiki sehat, ia akan tampak seperti rio versidewasa.  Ify melirik kearah rio yangduduk di sebelah ranjang kakaknya.

“lo tau? Lo adalah satu-satunya orang, selain kelurga gue,yang tau gimana keadaan kak kiki.”

“Pricilla?”

Rio tertawa tanpa selera. “lo fikir dia bakal terima kalogue kasih tau yang sebenernya?”

“yah, kalo di liat dari modelnya Pricilla, sih, gak lah ya.”

“itu juga lo tau.”

“eh bukannya lo orang terkenal? Kenapa gak ada yang tau samakondisi kakak lo?”

“bokap gue bohong sama media kalo kakak gue udah meninggalkarena perampokan yang menewaskan kak nandra itu.”

“segitu kejamnya kah bokap lo?”

“ntahlah. Gue juga gak percaya kalo itu kelakuannya bokap. Tapi…faktanyaemang gitu.”

“gue tau, berat nanggung semuanya. Tapi percaya, yo. Lo gaksendiri. Banyak orang yang lebih menderita dariapda lo. Lo harus tetep semangatbuat ngehadapin cobaan di hidup lo. Apapuun yang terjadi, smile!” ujar ifyriang sambil memamerkan gigi behelnya.

“cobaan hidup gue ya? Termasuk lo, dong?”

Ify terkekeh. “ya, gitulah.”

Rio tersenyum, :thanks.” Ujarnya tulus.

“buat?”

“kebawelan lo. Yah, lumayan bikin suasana hati gue membaik.”

“gue gak bawel, gue bijak.”

“lo bijak karena prihatin sama kak kiki yang kondisinya samakaya lo ya?”

Ify melotot. “enak aja! Lo kira gue gila?”

“emang”

“ye udah syukur gue kasih advice.”

“kan gue gak minta”

“eh kok lo nyebelin?”

“kok lo nyolot?”

“Mario!!”

“ya?”

“errggghh”

Tiba-tiba rio memeluk ify. “makasih. Makasih.”

“a…apaan…” kaget ify

“makasih. Gue bener-bener berterimakasih sama lo.”

Ify merasakan mukanya memanas, “i..itu kangunanya..te..men..” ujarnya terbata

Rio melepaskan pelukannya dan menatap ify tajam. “temen? Lo kantunangan gue.”

Ify melongo. “yo, gak mulai.”

“lo kan emang tunangan gue. Bukan temen,”

“rio, udah syukur lo gue anggep temen ya!”

Rio menatap ify geli. “oke, oke. Bercanda.”

Ify menghela napas. Nihcowok emang sedeng! Beberapa detik nyenengin, beberapa detik nyebelin.


 **__**

 hai hehehe maaf ngaret. nih udah rify kan hehe maaf gak memuaskan, boleh di kritik sesuka kalian asal gak denghan bahasa kasar aja(?) oke jangan lupa comment ya makasih makasih L)
@achaDG

TRAP [11]

11. Big Ambition.


Seorang gadis turun dari motornya dengan helm full facenya. Dengan cuek ia melangkah santai kearah gedung belajar. Semua orang yang ada disana memandangi gadis itu sambil berbisik-bisik. Namun tampaknya gadis itu tak acuh dengan semuanya. Ia melenggang santai menuju kelasnya.

“Preman dateng!” seru Mikha setengah berteriak.

Seperti tau yang di maksud, semuanya pun langsung kembali ke bangkunya masing-masing.

gadis berkulit sawo matang dengan rambut kucir kuda memasuki kelas dengan santainya. Tak mempedulikan tatapan teman sekelasnya yang sebagian tampak takut, sebagian tampak sangat ingin tau.

Ia menghempaskan tubuhnya pada bangku paling belakang. Lalu setelah dirasa telah mendapatkan posisi wenak, ia memejamkan matanya dan mulai tidur.

Ify menatapnya sambil menyerngit, “Dia siapa?” tanyanya pada Shilla.

“Kamu nggak tau? Dia tuh...preman kedua di sekolah ini setelah pricilla. Tapi kalo serem, sereman dia. Secara,fisik dia lebih unggul karna dia atlet judo sekolah kita. Selain itu, dia sepupu dari tunangan kamu. Rio. Dia....Agni Yuniar Haling.”

Ify mengangguk-angguk mengerti. Di pesta pertunangannya dengan Rio, ia sudah mendengar nama itu. Satu-satunya sepupu yang Rio punya. Agni. Tapi sama sekali tidak ada dalam bayangannya gadis seperti ini. Ify kira, agni adalah gadis macam Pricilla, mengingat agni termasuk dalam keluarga Haling yang terkenal kaya raya itu.

**__**

Sivia menenggelamkan diri dengan tugas-tugas sekolahnya. Bahkan sudah hampir dua hari ini dia tidak sempat ke kantin untuk berkumpul dengan teman-temannya. Ia juga menghindari Alvin untuk sementara waktu. Dan berhasil. Ia bersembunyi di perpustakaan yang sepi, agar bisa mengerjakan tugas-tugasnya dengan tenang. Karena dapat di pastikan, setelah ia berada dirumah, ia tidak bisa konsen untuk berfikir. Apalagi mengerjakan tugas.

“Disini, ternyata.”

Sivia mendongak, menatap wajah Alvin yang tau-tau sudah ada di hadapannya.

“Lo mau ngehindar dari gue?”

“Nggak. Aku Cuma mau ngerjain tugasku.” Sinisnya pada Alvin.

“Bohong. Lo bisa, kan, ngerjain di rumah? Terus, kenapa lo gak pernah respon sms dan  telfon gue?”

“Aku gak sempet ngurusin handphone.”

Alvin mendesah, “Please, sivia. Jangan hindarin gue. Gue tau, gue salah. Gue tau, gue gak pantes dikasih kesempatan kedua. Gue juga tau, kalo gue gak termaafkan. Tapi apa gue nggak boleh ngeliat lo? Kenapa lo nyiksa gue dengan menghindar gini,sih? Gue gak menuntut lo harus maafin gue, atau apalah. Gue Cuma ingin semuanya seperti biasa. Dengan lo ada di sekitar gue.”

“Sori, aku bener-bener sibuk.” Sivia mencoba berkutat dengan buku matematikanya.

Alvin menarik buku tersebut, hingga tanpa sadar Sivia berdecak keras.

“Bisa nggak sih kamu gak ganggu hidup aku?”

“gue gak ganggu. Gue Cuma pengen lo dengerin gue.”

“Kamu lihat ini kan?” sivia menunjuk telinganya. “Apa aku keliatan nutup telinga aku, atau buang telinga aku pas kamu tadi ngomong? Aku denger semuanya, alvin! Aku bener-bener sibuk. Gak ada waktu buat ngurusin hal-hal gak penting, kaya kamu!”

Sivia merebut paksa bukunya dari alvin, dan beranjak dari perpustakaan dipenuhi emosi yang ada di ubun-ubun.

**__**

Ify menatap sebal layar ponselnya. Sudah dua hari Tristan tidak bisa di hubungi. Dua hari sudah ia mendiamkan kakeknya. Dan dua hari juga dia tidak melihat Rio dimana-mana.

“Aku liat kamu akhir-akhir ini uring-uringan sendiri. Kenapa?” tanya Shilla disela-sela pelajaran Ekonomi.

“Lagi banyak pikiran, shill. Ntahlah, gue sendiri bingung.”

Shilla mengetuk-ngetuk bolpoinnya di dahi, “Perasaan kemarin kamu cerita tentang Tristan. Gimana dia?”

Ekspresi ify berubah makin masam, “Tau, ah. Dia udah tau kalo gue tunangan sama Rio. Dan dia gak pernah ngerespon sms gue lagi. sedangkan gue juga gak berani nelfon. Duh, shill. Kayanya, gue beneran suka sama dia, deh.” Keluh ify putus asa.

Shilla menepuk bahu ify pelan. “Inget juga, walaupun kamu gak suka sama Rio, bagaimanapun Rio tetep tunangan kamu. Kamu gak bisa seenaknya suka sama cowok lain. Kamu nanti bakal denger omongan yang nggak-nggak dari orang lain yang tau status kamu yang udah tunangan sama Rio.”

Bahu ify melemas. Status itu menyentakkannya pada kenyataan. Dia sudah terikat. Dan masa depannya milik Rio. Tidak ada tempat lagi untuk Tristan. Walaupun hatinya sangat menginginkan itu.

**__**

“Nilai kamu bagus. Sebenarnya bapak tidak ingin kamu cepat-cepat kembali ke Singapura. Tapi bagaimana lagi.” Pak Farid menyerahkan selembar kertas berisi nilai-nilai cakka selama hampir dua bulan bersekolah disini.

Cakka menerimanya dengan tersenyum lebar, “Thanks, Mr. Farid. Well, saya juga berat meninggalkan Indonesia. Mengingat saya memiliki sahabat baru disini. Tapi mau bagaimana lagi?”

“Sering-seringlah berkunjung ke Indonesia setelah kamu pergi.”

Cakka mengangguk mantap. “Pasti, Mr. Baiklah, saya permisi.”

Cakka bangkit dari duduknya, telinganya menangkap suara ribut-ribut dari ruang BK yang terletak di sebelah ruangan Pak Farid.

BRAKKK
Pintu BK di banting, Cakka sampai terlonjak kaget dari tempatnya berdiri. Muncul sosok gadis berkucir kuda dengan plester di dahi, dagu, dan siku. Penampilannya kacau, sambil menggerutu kesal dia berjalan kearah cakka.

“Are you okay?” tanya Cakka ragu.

Agni terdiam mengamati sosok di hadapannya. Seorang pemuda berkulit putih dengan rambut cepak dan wajah khawatir berada kurang dari semeter darinya. Agni mengamatinya nyaris tanpa berkedip. Pesonanya....begitu menyilaukan mata.

“Eh? Kenapa bengong?”

Agni mengerjapkan matanya. “E...anu...”

“Kamu nggak apa-apa? Kenapa penampilan kamu acak-acakan gini?” tanya Cakka lagi.

“Gue...ng...gak apa-apa...” jawab Agni terbata-bata.

“Oh, yaudah. Aku duluan, ya.”

“Tun..tunggu...” Agni menarik lengan cakka ragu.

Cakka mengangkat sebelah alisnya, menunggu Agni bicara.

“Nama lo... siapa?”

“Nama? Oh, Cakka Nuraga. You can call me Cakka.”

“Cakka...student exchange?”

Cakka mengangguk.

“Nice to meet you. Gue Agni Yuniar Haling. Panggil aja Agni.”

“Oke Agni, nice to meet you too. Aku ke kelas duluan, ya. See you”

Tanpa sadar agni mengangguk-angguk. Matanya tak lepas memandangi sosok cakka yang berjalan menuju gedung belajar. Sebuah ide terbesit di kepala Agni. Ia mengikuti Cakka dari belakang.

Cakka...lo udah bikin gue jatuh cinta pada pandangan pertama ke elo. Gue gak akan lepasin lo gitu aja. Gue bakal bikin lo ngerasain apa yang gue rasain ke lo. Cakka....

**__**

Alvin sibuk mengamati wajah Rio yang beberapa hari ini terlihat semakin dingin daripada biasanya. Bahkan Rio seperti mayat hidup. Tubuhnya memang ada di kelas, tapi jiwanya melayang entah kemana.

Walaupun Rio bukan murid pandai, tapi nilainya selalu stabil. Tapi tidak akhir-akhir ini. Nilai pelajarannya menurun. Hampir seluruh pelajaran ia tertidur. Benar-benar bukan Rio yang biasanya.

“Lo kenapa, sih yo?”

Diam. Tak ada jawaban. Alvin berdehem. “Yo...”

“eh? Iya vin?”

“Lo kenapa?”

“Gue kenapa? Gak apa-apa.”

“Ck, ah. Lo kalo boong bego banget, gak pinter lo. Kenapa? Cerita sini lah sama gue.”

Rio terdiam cukup lama, sebelum menjawab dengan mantap. “Kak kiki, vin.”

Ekspresi wajah Alvin menegang. “kenapa kakak lo? Ada apa?”

“Dia baik-baik aja. Gue Cuma....yah lo tau sendiri lah.”

Alvin mengerti kesedihan sahabatnya itu. Tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghilangkan kesedihan Rio. Jadi ia hanya menepuk bahu Rio pelan, mencoba memberikan energi agar Rio tidak terus larut dalam kesedihannya. Dan Rio membalas dengan senyum samar.

**__**

Agni menjijit sedikit, mencari sosok Cakka di kelas IPA yang hampir tidak pernah ia jajaki sebelumnya. Cakka tidak ada.

Agni berdecak, “Pasti di kantin. Ah, gue kan males kesana. Pasti rame. Bikin emosi aja,” gerutunya. Namun keinginannya untuk bertemu Cakka lebih besar, dengan langkah agak ragu-ragu, ia berjalan kearah kantin.

“Eh ini bawa, masa aku yang bawa semuanya?”

“Wait, aku ambil kembalian dulu. Kamu tunggu disini. Aku lupa.”

Shilla mengangguk. Cakka dengan cepat melesat kearah stand soto yang tak jauh darisana.

Agni yang melihat perhatian cakka pada shilla menggeram kesal. Tak terasa tangannya terkepal, dan kakinya sudah berjalan kearah Shilla.

“Heh kucel, lo ngapain di sini? Bukannya lo anti sama tempat rame?” Rio menarik kerah agni hingga agni terhenti.

“Mario!!! Erggg lepasin!”

“Males, lo harus traktir gue dulu!”

Agni melotot. “Hey! Lo yang tunangan. Kenapa harus gue yang nraktir lo?!”

Rio menjitak agni keras hingga agni mengaduh dan membuat beberapa perhatian terpusat pada Rio dan Agni. “lo cablaknya kebangetan. Ngeselin. Diem diem kan enak.”

“Tau ah, gue lagi bad mood.” Agni melirik kearah Shilla ,tapi shilla sudah tidak ada di tempatnya. Mata agni mencari kemana cakka pergi. Dan matanya terhenti pada sosok Cakka, Shilla dan ify yang ada di salah satu meja.

Tapi ketika agni sedang asyik memperhatikan cakka, Rio merangkul Agni menjauh darisana. Agni mendengus kesal dengan pemandangan terakhir yang di lihatnya. Cakka dan Shilla tertawa bersama.

Gak. lo harus jadi cowok gue. Gimanapun caranya. 


**__**





rifynya dipending dulu. next part baru rify hehe
maap belum bisa tag. buru-buru nih. lagian di tag juga yg comment dikit. comment kek jgn cuma jadi silent reader:( cedihh uwe:(
@achaDG

TRAP [10]

10. Preassure


"Lo mau yang rasa apa?" Tanya tristan sambil menoleh kearah ify.

"Vanilla aja." Ujar ify lalu mencari tempat untuk duduk. Dan pilihannya jatuh pada bangku panjang yang ada dibawah pohon. Diam-diam ify tersenyum memperhatikan punggung tristan yg sedang memesan ice cream untuknya. Ia bingung mengapa didekat tristan jantungnya berdetak lebih kencang daripada biasanya.

Ini pertemuan keduanya dengan tristan, walaupun sebenarnya merupakan yang keempat. Rasa canggung itu ada ketika ify dan tristan sama-sama diam tak bicara.  Ify bahkan selalu berusaha mencari topik agar mereka terus berbicara,karena ia takut jika mereka berdua diam,tristan bisa mendengar debaran jantung ify.

"Kok ngelamun? Nih," tristan menyidorkann ice cream ify.

"Makasih" ify menyambutnya dengan senang hati. Dan beberapa detik kemudian,ia mulai melahap ice cream vanillanya tanpa ampun.

Tristan geleng-geleng melihat wajah ify yang dipenuhi oleh ice cream. Dengan sigap,tanganny mengambil sapu tangan di sakunya dan membersihkan wajah ify.
Dengan gerakan tristan yg mendadak tersebut, ify membelalak. Mematung ditempatnya. Bahkan,ia menahan napasnya. Terlalu kaget dgn apa yg dilakukan tristan padanya.
''Makannya kaya anak kecil.'' Komentar tristan,

''E..e..emang gue masih kecil'' ujar ify mencoba mencairkan suasana dan mengalihkan kesaltingannya.

''Kalo segini masih kecil,gedenya gimana? Eh,tapi emang masin kecil. Makan aja belum bener'' ujarnya sambil mengacak-acak rambut ify. , ''Tristan!!" Pekik ify pura-pura kesal yg disambut gelak tawa tristan.

**__**

...Tak kumengerti, mengapa begini... Waktu dulu, ku tak pernah merindu,..


Mobil alvin sudah lebih dari setengah jam berhenti didepan rumah sivia. Dengan keadaan sivia yg pucat begini,ia sama sekali tak berani membangunkan sivia. Dengan sabar ia menunggu sivia hingga bangun.

...Tapi saat semuanya berubah... kau jauh dariku, pergi tinggalkanku...


''Maaf vi, gue gak ngerti kalo perasaan lo ke gue sedalem ini. Gue...'''

''Lupain. Anggap aja semuanya mimpi. Anggap aja gak pernah kejadian. Aku udah berusaha ngilangin perasaan aku ke kamu kok vin.''

''Tapi vi.. gak dengan lo jauhin gue juga. Gue bener-bener frustasi lo giniin gue. Kenapa,sih,kita gak kaya dulu?"

''Gak bisa. Semuanya gak bisa kaya duu lagi.''

''Kenapa?""

''Karena lusa aku pindah ke surabaya.''


...Mungkin memang ku cinta.. Mungkin memang ku sesali... Pernah tak hiraukan rasamu dulu...


Lo bego, tiga tahun sahabatan sama dia,lo gak pernah peka. Sekalipun lo ga dikasih kelebihan buat peka sama sekitar, tapi...hello...sivia sahabat lo. Orang yg spesial buat lo. Prioritas lo. Dan yang paling penting...sahabat lo. Kenapa lo baru ngerasa kalo lo punya perasaan yg sama,ketika sivia udah pergi jauh dari lo? Andai waktu bisa diputer. Andai gue gak fokus sama yang sempurna. Pasti kita udah bahagia ya vi sekarang?

Lo emang ga sefeminim mantan-mantan gue. Gak se kaya mantan-mantan gue, gak se cantik mantan-mantan gue. Tapi lo lah yang berhasil mengisi hati gue. Dan begonya gue baru sadar, maafin gue, sivia. Gue emang cowo bego yang ga bisa peka.


...Aku hanya ingkari, kata hatiku saja... Tapi mengapa cinta datang terlambat?


Tau janji gue pada diri gue sendiri kalo gue berhasil ketemu lagi sama lo? Gue akan mencintai lo dengan sepenuh hati gue. Dan gak akan sia-siain lo lagi. Sivia Azizah.

Sivia menggeliat pelan, lalu perlahan membuka matanya. ''Udah sampe? Kok ga bangunin aku sih?"

"Gak tega. Lo tidurnya pules banget.''

Sivia memutar bola matanya kesal. ''Yaudah deh makasih udah dianter pulang.'' Ujarnya sambil membuka kenop pintu mobil alvin.

Tiba-tiba tangan alvin mencekal lengan sivia. "Via..."

Sivia terdiam, tanpa menoleh ke arah alvin.

''Gue cinta sama lo. Cinta yang bener-bener cinta, lo....segalanya buat gue. Gue cuma pengen lo tau,kalo gue selalu ada disini buat lo.''

Hampir saja air mata sivia menetes kalau dia tidak pandai menahannya. Setelah dirasa alvin tak bersuara lagi, ia langsung menggunakam kesempatan itu untuk keluar dari mobil alvin.

Alvin menghela napas, pasrah. Menatap sivia yang menghilang dibalik pintu rumahnya.

Setelah dirasa aman, sivia meneteskan airmatanya dengan deras. Tanpa suara,dari balik pintu.

**__**

Rio melangkah malas menuju dapur. Mamanya dan pembantunya tengah memasak makan malam. Ia menuangkan segelas air mineral dan beranjak darisana.

“Rio, mama tau kamu kesiksa sama sikap egois kami. Mama minta maaf,”

Rio hampir tersedak ketika mamanya tiba-tiba duduk di hadapannya. Ia tak berniat untuk menjawab, ia hanya ingin mendengarkan.

“Siapa lagi yang bisa di andalin selain kamu? Kamu tahu sendiri, kan, kakak kamu−“

“Nggak usah sebut-sebut dia di rumah ini.” Ujar suara berat yang membuat Rio dan mamanya terperanjat kaget.

“Pa..pa..”

“Nggak usah sebut-sebut dia dirumah ini. Papa nggak suka.”

“Ta...tapi pa...”

Zeth Haling menatap Rio tajam. “Papa nggak suka kata tapi dan tidak. Papa nggak mau di bantah.”

Rio menggeram kesal. “Tapi Kak Kiki itu kakak kandung Rio, pa! Papa nggak bisa menutup mata terus-terusan sama kak Kiki! Walaupun kak Kiki udah nggak kaya dulu, papa gak bisa terus-terusan nyalahin kak Kiki. Bagaimanapun dia dulu, sekarang dia butuh kita, Pa...”

PLAKK

Rio meringis kesakitan ketika tangan besar ayahnya menampar keras pipinya.

 “Pa, udah pa. Rio nggak salah.” Bela Amanda Haling.

“Jadi papa mulai nyamain Rio sama Kak Kiki?”

Ekspresi wajah Zeth Haling mengeras. Mati-matian ia menahan emosi yang meluap di dadanya. berdebat merupakan hal yang sudah sering mereka lakukan. Tapi tidak dengan topik seperti ini. Dia...belum siap.

“Gak ada mobil selama seminggu. STNK papa bawa.”

Mata Rio melotot. “Apa-apaan...”

“Udah, Yo. Udah. Mama akan coba ngomong sama papa kamu,”

Sampai kapan hidup gue di kekang mulu sama bokap? Rio mendesah kesal.

**__**

“Makasih ya Tris buat hari ini. Maaf ngerepotin lo.”

“Nggak ngerepotin sama sekali, kok. Hmm, rumah kakek lo besar banget.”

Ify hanya nyengir. “Mau masuk?”

“Kapan-kapan aja. Nggak papa kan?”

“Nggak papa, kok.”

“IFY!”

Ify dan Tristan menoleh, mendapati kakek samuel berada di gazebo rumahnya sambil menatap kedua orang itu dengan tatapan kejam.

“Eh, kakek...”

“Sama siapa kamu?” kakek Samuel mendekat, menatap Tristan dari atas sampai bawah.

“Sama temen, kek.”

“Nama saya Tristan, Kek.”

Tanpa mengindahkan perkenalan Tristan, kakek Samuel menatap ify kesal. “Kenapa kamu nggak pulang bareng Rio?”

Wajah ify menegang. “Eh. Itu kek, ify−“

“Tadi saya mengajak ify pulang bareng saya, Kek.” Jawab Tristan santai.

Kakek Samuel mendelik kearahnya, “Apa kamu nggak tau, ify sudah punya tunangan?”

Tristan menyerngit. Ify menggigit bibir bawahnya.

“Tunangan?” ulang tristan.

“Ya. Kamu nggak seharusnya mengantar ify pulang. Saya yakin tunangan ify akan marah melihat kedekatan kalian berdua yang terlalu....”

“Kakek..” ify mencoba melotot pada kakeknya, tapi kakeknya tetap tak acuh.

“Jadi, jangan pernah berani berharap lebih terhadap kedekatan kamu dengan Ify.”

“Ya,” Jawab Tristan susah payah.

“Dan kamu, ify. Kabari Rio kalau kamu udah ada dirumah. Kamu nggak mau kan bikin tunangan kamu khawatir?”

Tristan menoleh kearah Ify, seakan menuntut banyak penjelasan. Sedangkan Ify hanya mampu mengangguk pasrah atas vonis telak yang diberikan kakeknya pada Tristan agar segera menjauhi Ify. Dan itu terlihat dari ekspresi Tristan yang mendadak jadi dingin.

**__**


Sivia menutup telinganya rapat-rapat. Pertengkaran orangtuanya akhir-akhir ini membuatnya stres. Ia lebih sering mengurung diri di kamar daripada keluar. Itulah yang membuat kesehatannya menurun. Hingga tadi ia pingsan di sekolah. Dan mendengar perasaan alvin padanya, yang makin menyiksa perasaannya.

“Selingkuh? Ngaca dong! Kamu juga selingkuh! Kamu kira aku nggak tau? Hah?!”

“Aku? Selingkuh? Nggak kurang-kurang aku menjaga perasaan ku ke laki-laki lain! Tapi kamu? Aku memang nggak cantik seperti selingkuhan kamu! Tapi aku ini istrimu! Kalau kamu mau berhubungan sama wanita-wanita itu, ceraikan aku dulu!”

Air mata Sivia menetes. Aku harus kuat. Kalo aku nggak kuat, siapa yang bisa melindungi keluarga ini? Nggak sivia. Kamu nggak boleh nangis. Yah, kamu harus kuat. Setidaknya bertahan untuk orang-orang yang menyayangi kamu.

Saat itu juga, Sivia menghapus air matanya dan bertekad tak akan menangis lagi. setidaknya untuk saat ini.

**__**


Semua memasang ekspresi berbeda-beda. Ify dan Sivia dengan ekspresi murungnya, sedangkan Shilla dan Cakka dengan ekspresi bingungnya.

“Kalian ada apa?” tanya Shilla perihatin.

“You can tell us anything.” Cakka menimpali.

“Gue nggak apa-apa. Cuma..badmood aja.” Jawab Ify sambil menatap jus lecinya tanpa selera.

Pandangan Shilla dan Cakka mengarah pada Sivia yang sama sekali tidak menampakkan tanda-tanda mendengarkan ucapan mereka. Shilla mendengus, cakka menepuk bahunya dan memberikan kode seolah biarin aja dulu.

Shilla yang mengerti pun mengangguk patuh. Dan itu adalah jam istirahat terlama dan tersepi yang pernah mereka lalui.

**__**


 haaai maaf pendek ya. kalo bisa aku post hari ini juga yang part 11nya. tapi insyaallah~ gak janji.
oke leave your comment here!
@achaDG