24 Juli 2013

TRAP [3]

3. Bangkrutnya Haling


Shilla mendengus, tangannya terasa kram karena sudah hampir satu jam lamanya ia mencatat materi sejarah yang seakan-akan tak ada ujungnya. Ify bahkan berkali-kali menguap karena mulai mengantuk dan bosan dengan kesunyian di kelas. Bu Ira, guru sejarah sedang marah, pasalnya minggu kemarin, separuh murid di kelas ini tidak mengejarkan PR. Dan kekesalannya ia luapkan dengan bungkam selama pelajaran dan mencatat tanpa henti.

“sampai kapan nih guru diem?” keluh Ify frustasi.

“sampe bel istirahat bunyi, Fy.” Shilla terkekeh.

“Gawat juga kalo tiap ngambek dia kaya gini. Bisa memutus syaraf tangan ini, mah.”

“Paling bentar lagi selesai, udah mau istirahat, nih.”

“Minggu depan, kita ulangan. Pelajari semua yang sudah ibu tuliskan hari ini.” Ujar bu Ira dingin, dan berlalu dari sana, beriringan dengan suara bel istirahat yang menggema di seluruh ruangan kelas.

“Akhirnyaaa!!!!” lega Ify

“Ke kantin?” tawar shilla. Ify mengangguk.

**__**

“ini...kan...prokernya dayat? Kenapa musti kita yang ngerjain, sih?” Alvin berdecak kesal.

“siapa lagi anak osis yang bisa di andalin? Pricilla? Zevana? Mereka nggak mungkin. Difa? Oik? Oca? Cahya? Itu juga gak mungkin. Cuma kita, senior, yang paling ngerti soal ini. Lagian, kan, kamu tau sendiri dayat, tuh, sibuknya kaya gimana.”

“Tapi ini tanggung jawab dia, program kerja dia, Cuma gara-garra dia, kita yang kena imbasnya. Kita yang repot. Kita yang nanggung,”

“Kalo kamu nggak mau yaudah, nggak apa-apa. Aku kerjain sendiri.” Tegas Sivia yang lalu beranjak dari ruang Osis.

“loh? Loh? Via!” alvin berlari mengejar Sivia.


“Darimana, via?” tanya Cakka yang tak sengaja melihat Sivia terburu-buru berjalan di koridor.

“dari ruang osis. After meeting,”

Cakka meng O kan mulutnya. “I wanna go to canteen. Do you want join with me?

“Boleh. Wait for minute, aku mau kembaliin ini dulu.”

“Nggak usah, i bring that for you, come here.” Cakka meraih kertas-kertas dan sebuah buku yang sangat tebal yang sedang di bawa Sivia. Sivia terkekeh saja,

“Thankyou, Mr. Cakka.”

“Youre welcome, Mrs. Sivia.”

Alvin mengepalkan tangannya pada dinding kuat-kuat. Melihat peristiwa yang baru saja terjadi di hadapannya tersebut membuat hatinya teremas-remas.

“Jadi... ini yang di namain cemburu?” Alvin tertawa sinis, pada dirinya sendiri.

**__**

Ify memandangi Shilla yang sibuk dengan ikat rambutnya. “Ribet amat, sih, gitu doang?”

“Tau, nih. Kayanya aku musti potong rambut. Gimana kalo nanti pulang sekolah kita ke mall? Mau potong, udah gerah.”

“Oke, terserah. Tapi temenin gue hunting novel di gramed, ya”

“Siap, boss.”

“Hai, berdua aja? Aku sama cakka boleh gabung, kan?” tanya Sivia yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapan mereka bersama Cakka.

“Boleh, tentu aja. Silahkan, silahkan.” Shilla merapatkan duduknya pada Ify. Cakka masuk dan duduk di sebelah Shilla. Mau tak mau membuat semburat merah jambu mekar di wajah putih Shilla.

“Mau pesen apa?” tanya Sivia.

“Nitip somay, ya, mba.” Ujar ify sambil tertawa

“Yeee, oke. Kamu apa, shill? Kka?”

“bakso aja,” jawab keduanya bersamaan.

“Cie, bisa kompakan gitu. Minumnya?”

“Lemon tea”

Ify dan sivia membulatkan matanya, mendengar jawaban dari Shilla dan Cakka yang lagi-lagi sama.

“oke, oke, kalau emang udah ada chemistry-nya, sih, emang nggak di ragukan, hahaha. Tungguin bentar ya, aku pesen dulu.” Sivia langsung beranjak darisana.

“Gimana disini? Enak?” tanya Ify membuka pembicaraan

“Not bad, kok. Standartnya sama, like my singapore’s school. Pelajarannya, guru-gurunya, anak-anaknya, they was fun, kind.”

“Nggak kefikiran buat terus stay di Indonesia?” tanya Shilla

I think...not for now. I mean, suatu saat, ada harapan untuk stay di Surabaya, di Indonesia, remember i still have javanesse blood in my body.

“Kamu orang jawa?”

My father was born in Jogjakarta, my brother too. Aku lahir di Singapore, besar disana. Dan baru berkesempatan mengunjungi indonesia sekarang, hanya untuk dua bulan. Exchange student. I will finishing my study first, and i promise i will back soon to Indonesia.”

Ify tersenyum jahil, “buat siapa lo berjanji?” ujarnya sambil melirik Shilla

Cakka tersenyum, “buat siapa saja yang menagih janji kepadaku,”

Muka shilla merah padam. Kedatangan Sivia menyelamatkan Shilla dari rentetan introgasi ify.

“Sayang, kamu tau, kan hari ini, tuh, hari ulang tahun adek aku, Lydia. Kok kamu nggak bisa dateng, sih? Aku, kan, mau ngenalin kamu ke orang tua aku.” Kesal Pricilla.

“Maaf, Priss. Aku bener-bener nggak bisa. Ada sebuah acara keluarga yang harus aku datengi. Kalo aku nggak dateng, aku nggak menjamin tetep bisa make mobil ke sekolah. Bisa anter jemput kamu lagi. karena papa aku ngancem kaya gitu, sayang.”

Mata ify menyipit mendengar pembicaraan yang ada di depannya. Sivia yang tau arah tatapan ify pun hanya mengangkat bahunya, tak acuh. “Mereka pacaran. Dan... freak. Aku jijik sendiri ngelihat mereka berdua kalo udah pacaran. Rio yang biasanya aku lihat cool, keren, pendiem, bisa 180 derajat beda kalo ada di depan cewek itu. Hih.” Sivia bergidik ngeri.

“mereka pacaran? Gue baru tau, si nenek sihir satu itu ada yang mau juga.”

“Jangan salah, fy. Rio, tuh, cinta mati banget sama dia. Dia selalu ada di samping Pricilla. So sweet gila. Rio yang prefeksionis, bisa pacaran sama anak manja yang Cuma suka ngesok di depan anak-anak. Dunia memang aneh,” Komentar Shilla.

“Kalian lagi ngomongin apa?” tanya cakka yang tidak mengerti.

“Tuh, mereka. Sepasang mahluk aneh yang lagi pacaran di depan kita. Udah, ah, daripada ngeliatin mereka mending makan aja. Nggak bikin kenyang juga ngeliatin mereka.” Sivia kembali melahap mangkuk soto yang ada di hadapannya. Diikuti Shilla dan Cakka. Fikiran ify masih melayang-layang.

Sedikit aneh. Tapi..... ah, sudahlah.

**__**


“Kamu yakin, kka, mau ikut?” tanya Shilla tak yakin.

of course. Seminggu aku disini, aku belum sempat jalan-jalan. I heard from sivia, if you both will go to plaza. Can i join with you?”

“Boleh-boleh aja, sih, tapi kita naik angkot, loh.” Ujar Ify tak enak.

“Nggak usah, pake mobil aku aja. Ada di parkiran. Yuk.” Cakka berjalan mendahului ify dan shilla.

**___**

Hati alvin terasa tak tenang. Ia merasa sangat bersalah kepada Sivia, apalagi sivia selalu mengabaikan panggilan telefon, chat, dan smsnya. Rasa bersalahnya makin menumpuk, saat mengetahui tugas yang kemarin di serahkan Bu Risa padanya dan Sivia sudah terselesaikan atas kerja keras Sivia sendiri.

Ia tau, hari ini sivia ada di ruang osis, mengecek proposal yang di buat oleh osis junior mereka untuk acara BRAV-FEST minggu depan. Ia pasti sangat sibuk, dan sebagai wakil ketua osis, ia merasa gagal.

Alvin melangkah masuk, melihat sivia membelakanginya dengan rambut di cepol, gaya khas sivia kalau sedang berkonsentrasi. Alvin tersenyum sendiri. Lalu duduk di sampingnya. “Perlu saya bantu, ketua?”

Sivia terjengat ke belakang kalau alvin tak memegangi kursi sivia. “alvin...ngagetin aja.” Responnya.

“Maaf... aku kesini mau minta maaf soal kemarin. Bukannya aku nggak mau ngerjain tapi−“

“nggak papa. Tugasnya udah selesai, udah aku kasih ke bu Risa. Udah beres, kok. Nggak perlu di fikirin.”

“Bukan gitu, via... aku...”

“Udah, lah, vin. Nggak usah di perpanjang.”

“Sekali lagi maafin aku, ya, vi. Aku emang egois. Dari dulu−“

“Nggak usah bahas-bahas yang dulu.” Desis sivia tajam, “Aku udah berusaha bersikap profesinal ke kamu, selama dua tahun. Asal kamu tau aja. Itu semua nggak gampang, perlu proses yang panjang. Jangan pernah ngebahas yang udah lewat. Karena masalalu, ya masalalu. Nggak perlu untuk di ungkit-ungkit lagi.” Sivia bangkit dari sana, lalu menyambar tasnya.

“via,” Alvin mencekal pergelangan tangan Sivia.

“aku cinta kamu. Seharusnya kalimat ini yang keluar empat tahun yang lalu. Aku...cinta...kamu...”

“Lepasin, vin.” Alvin menurut. Ia melepaskan cekalan tangannya. Dan sedetik kemudian, sivia sudah tak ada disana. Ia sudah berlari.

“bego lo vin... lo bego vin bego..” maki alvin pada dirinya sendiri.

**__**

“Mau potong model gimana mbak?”

“Potong pendek aja, kaya ini nih,” Shilla menunjuk salah satu foto yang ada di hadapannya.

“Kamu mau potong sependek itu?” kaget cakka.

“Apaan? Cuma sebahu, kok. Nggak pendek-pendek banget.”

“Iya, mas. Cuma sebahu. Rambutnya kalo kepanjangan jelek, keliatan nggak fresh.” Ujar mbak-mbak pemotong rmabut(?)

“Udah, kka. Bagus, kok kalo pendek. Gaya baru seorang shilla gitu itung-itung.” Ujar ify sambil terkekeh.

“whatever. Kalau jadinya jelek awas, ya, mbak.”

“kok jadi dia, sih, yang sensi? Pacarnya, ya mbak?” bisik mbak-mbak pada shilla.

Shilla terkejut, sedetik kemudian ia tertawa. “Nggak, mbak. Baru juga kenal beberapa hari.”

“Oh, kirain pacarnya. Cocok, sih, mbak, sama mbak.”

“Ah, bisa aja.” Shilla melirik ke arah cakka diam-diam. Apa iya, aku sama Cakka cocok kalo pacaran?

“Kenapa lo shill senyum-senyum geje gitu?”

“hah? Nggak, nggak papa.” Jangan berhayal ketnggian, shill. Inget, kamu tuh siapa. Cuma anak orang miskin yang nggak pantes bergaul sama mereka. Kamu harus sadar derajat.

Shilla menghembuskan napas, panjang.

**__**


“Perusahaan papa ada di ujung tanduk, Rio. Kalau kita nggak cepet-cepet cari jalan keluar, kita akan benar-benar jadi gembel. Apa kamu mau, tidur di emperan jalan?!?! Haling corp berdiri atas jerih payah papa bertahun-tahun, papa sudah mempertahankannya mati-matian. Tapi semuanya di perburuk dengan masalah penipuan klien dan korupsi manager papa. Perusahaan benar-benar akan hancur.”

Rio terdiam.

“Jalan satu-satunya ya dengan perjodohan kamu! Nggak usah nolak, kalau kamu nolak, papa bener-bener jamin setelah ini, kita akan tidur di kolong jembatan!” Zeth haling meninggalkan Rio di ruang kerjanya.

Rio bingung, frustasi. Mendengar kabar dari mamanya bahwa dia akan di jodohkan dengan relasi bisnis ayahnya yang akan membantu kesuksesan bisnis keluarganya yang sempat tersendat karena krisis moneter perusahaan beberapa waktu yang lalu.

“kenapa harus rio, sih? Ada kak marzel. Kenapa rio? Kenapa?”

“karena papa sayang sama rio. Papa mau rio bahagia. Kak marzel udah bahagia, dengan pilihannya sendiri, meninggalkan kita. Papa nggak ingin, kamu juga meninggalkan mama dan papa seperti kakak kamu. Kami ingin kamu bahagia bersama kami, Rio.”

“Tapi nggak kaya gini caranya, ma. Rio udah punya pacar. Orang yang sangat rio cintai. Rio nggak bisa ninggalin dia.”

“Bantulah papa kamu mempertahankan perusahaannya yang ia bangun atas kerja kerasnya, rio. Apa kamu tidak ingin mempertahankan semuanya? Kesuksesan papa kamu, kebahagiaan kita, semuanya. Itu tak ternilai harganya. Mama dan papa nggak pernah minta apa-apa sama kamu. Jadi, kali ini saja, turuti papa. Maaf, mama nggak bisa bantu banyak. Karena mama setuju dengan ide papa kali ini.”

“Mama!” teriak rio frustasi.

**__**

“cari novel apa, sih, fy? Lama bener. Udah jam 5 sore, nih.”

“Bentar, kalo kalian mau balik dulu nggak papa, rumah gue deket, kok dari sini. Gue bisa pulang sendiri.”

“Nggak, ah. Kamu kan perempuan, aku nggak akan ninggalin kamu buat pulang sendirian” sahut cakka

“yaudah, kalian tunggu aja. Ke foodcourt kek ato kemana gitu. Gue masih lama soalnya.”

“hmm yaudah, kita ke foodcourt aja, yuk, shill? Aku kurang suka di toko buku.”

“Oh, mm iya deh. Gak apa-apa, kan, kalo aku tinggal?”

“nggak papa asal nggak di tinggal pulang.”

“Oke, paling lambat jam 6 sore udah harus selesai. Aku tunggu di foodcourt!”

“Siap boss!”

Ify kembali menjelajahi rak demi rak buku, dan  terpaku saat buku yang selama ini diincarnya sudah bertengger manis disana.

“L’s bravo viewtiful!” pekiknya senang. Tapi, ketika ia akan mengambilnya, seorang cowok berpostur tinggi mengambil buku tersebut.

“yah... padahal itu satu-satunya,” sedih ify.

“Kamu mau ini?”

Mata ify berbinar saat cowok itu menyodorkan buku yang ia incar di hadapannya.

“Nih, buat kamu aja. Aku bukan penggemar kpop, aku Cuma penasaran sama buku fotografi. Ini buku fotografi kan?”

ify mengangguk. “Bener nih buat aku?”

“Iya, lagian buku fotografi masih banyak disana.”

“Ya ampun mas, makasih banget ya makasih. “

“Iya, sama-sama.”

Cowok itu pun pergi darisana. Ify bersyukur dan mulai menjerit-jerit histeris. Tapi sebuah telefon menyadarkannya dari kegilaan yang sedang berlangsung.

“Halo?”

“kamu dimana?”

“ify di toko buku, kek.”

“kakek kan sudah bilang, kosongkan jadwalmu hari ini! Kamu lupa, hari ini kamu ada acara sama kakek?”

“astaga! Ify lupa! Maaf, kek, abis ini ify pulang..”

“cepetan. Sebelum jam 7, kamu udah harus sampe sini.”

“Iya kek.”

Mampus. Suara kakek udah menggelegar begitu. Bisa-bisa sampe rumah gue di makan nih. Wah gawat.

**__**


hai part 3nya selesai , makin gak jelas aja perasaan =_='
haha tinggalkan comment. sudah di tag ya :3

TRAP [2]

2. Exchange Student From Singapura

ify berada di tengah lapangan, sekarang adalah jam olahraga, dan dia benar-benar benci pelajaran itu. Melebih apapun didunia. Ify hanya memandang malas pada bola basket yang sedang dipermainkan oleh beberapa temannya. Ia hanya berdiri di sudut lapangan bersama Shilla.

“lo nggak ikut main?”

Shilla menggeleng, “aku nggak bisa olahraga.”

“nggak bisa, apa gak suka?”

Shilla meringis. “dua-duanya..”

“Gue benci olahraga.”

“kenapa?”

Ify memandang lagi kearah teman-temannya yang lain, yang asyik dengan bola di tangan mereka. “bola itu pernah bikin gue mimisan sampe pingsan.”

“Kok... bisa?”

“hahaha kejadiannya konyol. Gue malu nyeritainnya,”

“nggak apa-apa, cerita aja...”

“jadi gini.......”

********)))*********

“Vin oper bolanya!” teriak Patton

Alvin menendang bola tersebut, mengoper kearah Patton. Dan karena patton seorang penyerang yang hebat, ia melambungkan bolanya terlalu tinggi.

“fy, ini bagus ya. Gimana kalo bunga ini aja buat praktek?”

Ify mengangguk setuju. Saat berbalik, tiba-tiba sebuah bola mengenai pelipis kepalanya. Ify yang masih berada di kelas 5 SD pun berlari kekelasnya dan menangis disana. Menelungkupkan wajahnya pada bangku. Tiba-tiba alvin menghampiri ify, dan mengangkat wajah ify.

“Astaga fy!! Wajah kamu!! Hidung kamu berdarah!! Wajah kamu merah semua!!”

Ify melotot lalu tiba-tiba pandangannya semakin kabur. Ia hanya bisa mendengar suara alvin memanggil-manggil namanya.

******(((*******

“Alvin? Anak Bahasa itu? Yang temennya....rio?” tanya shilla ragu.

Ify mengangguk. “Ya, dia temen gue dari kecil. Rumah kita yang di Jakarta dulu satu blok, dan pas SMA dia pindah kesini. Gue baru pindah setahun kemudian. Dan nggak taunya ketemu lagi disini.”

“mereka, kan, dingin banget sama cewek. Sama kamu enggak, ya? Beruntung banget,”

“ya ampun, apaan, sih? Lo suka sama mereka?”

“hah? Eng..enggak..kok” gagap Shilla. “Udah, yuk, kita kesana. Ntar bisa di marahin Pak Duta gara-gara Cuma berdiri doang disini.” Shilla menarik tangan ify ke tengah lapangan. Ify hanya pasrah di tarik shilla seperti itu.


**__**

“Ify cantik, ya, yo?” ujar Alvin sambil duduk di angkringan, sebuah tempat di kantin yang duduknya di bawah pohon.

“Ify, siapa?” tanya rio tak acuh sambil membuka chitatonya

“Ify yang kemaren kenalan di kantin itu.”

“Ooh.. biasa aja.”

“dih mata lo perlu di periksa.”

“apaan, sih? Gue bilang biasa aja, ya biasa aja. Mau gimana lagi?”

“ya, ya, ya. Bagi lo yang cantik, kan, emang Pricilla.”

you know my answer, Alvin.”

“Sampai kapan lo tahan pacaran sama cewek kaya dia? Yang Cuma ada butuhnya doang ke lo? Lo beneran cinta, sayang sama dia? Lo Cuma di manfaatin, mario.”

“Gue ga peduli. Yang jelas gue sayang sama dia. Gue cinta sama dia. Dia cinta pertama gue. Obsesi gue dari pertama kali gue masuk SMP. Dia hidup gue. Dia passion gue.”

“gila lo, bener-bener deh.” Alvin geleng-geleng kepala melihat sahabatnya yang anti-cewek itu bisa sebegitu cintanya dengan gadis matre yang...yah−lumayan cantik.

“Alvin, kamu dipanggil sama bu Risa. Kita akan ada rapat osis hari ini jam sepuluh,” ujar Sivia sambil memberi selembar kertas pada alvin.

“Siap, ketua!” alvin memberi hormat, membuat sivia terkekeh.

“Lo suka sama dia?” tanya Rio setelah sivia menghilang darisana.

Alvin mengangkat bahunya, “Ntahlah. Lo tau sendiri gue nggak gampang suka sama cewek,”

“Kalo sama ify?”

“Itu, sih, beda kasus. Gue sama dia udah sahabatan dari kecil. Udah tau busuknya dia, dia juga udah tau busuknya gue. Jadi......gue gak bakal pacarin dia.”

“Biasanya, persahabatan antara cowok dan cewek tuh nggak bakalan ada yang bener-bener pure sahabatan. As far i know, one of both can falling love with each other.”

Alvin menyerngit, “sejak kapan lo komentarin persahabatan orang lain?” tiba-tiba sebuah seringai nakal muncul di wajahnya.

Rio terdiam. Iya,ya? Buat apa gue peduli. Bukan gue banget. “Tau, ah. Ayo balik, lo di panggil mami kesayangan lo, tuh.”

Alvin menjitak kepala rio. “Sialan.”

**__**

Pricilla dan Zevana berulang kali mencuri pandang kearah lapangan, memperhatikan seseorang yang sejak kemarin membuat mereka kesal, sekaligus penasaran.

“dia bego banget olahraganya, pris. Untung nggak masuk cheers,”

“ya, tapi gue masih berasa ada yang aneh dari dia. Nggak ada yang berani nantang gue, secara, semua orang tau gue anak pemilik yayasan. Kenapa dia berani banget sama gue?!” kesal Pricilla.

Zevana mengangkat bahu. “Mungkin dia belum tau., buktinya setelah dia tau, nyalinya langsung ciut dan dia balik ke bangkunya sama cewek cupu itu, kan?”

“Iyasih, tapi sama aja... arrgghhh tau deh. Tuh anak ngeselin. Perlu di kasih pelajaran...”

“apa lo se pemikiran sama gue?” tanya zevana dengan senyum licik mengembang di wajahnya.

Pricilla mengangguk. “jangan sekolah disini kalo ngga mau berurusan sama gue, pricilla agatha...” ujarnya lirih sambil berlalu dari kelasnya, diikuti zevana.

**__**

“lo tau? Gue tadi malu-maluin banget di lapangan.” Ify berjalan menuju kelasnya yang berada di kelasnya bersama shilla.

Shilla menggeleng. “aku juga malu-maluin, kok. Udah, lah. Kamu nggak separah yang dibayangin. Kamu selevel lebih tinggi daripada aku di bidang olahraga.”

“lo lumayan, lari kenceng, lah gue? Boro-boro. Nangkep bola aja nggak bisa.”

excuse me,

Ify dan shilla menghentikan langkahnya, melihat seorang pemuda berkulit putih dengan headphone yang menggantung di lehernya.

“ya? Ada yang bisa kami bantu?” tanya ify

“erh, saya murid exchange dari Singapore. Nama saya Cakka Kawekas, kebetulan saya masuk ke kelas XI IPA 1,can you both tell me where is the class?” ujarnya dengan bahasa indonesia yang terbata-bata.

“shill, lo tau kan? Gue nggak,”

Shilla terkekeh. “follow me,”

Mereka berdua pun mengikuti langkah Shilla ke kelas yang di maksud.

**__**

“hai fy, ngapai disini?” tanya Sivia menyambut kedatangan ify beserta shilla dan cakka.

“nih, gue nganterin exhange student.” Ify melirik kearah cakka

“ah, iya, mrs. Anita told me last day. Welcome to our school, by the way.”

“Thanks, whats your name?”

Im ify. This is shilla. We are from eleven social two. And now we must go back. Haha goodbye, nice to meet you cakka.

nice to meet you too, shilla, ify. Thanks for your help.

dont mention it, ify dan shilla berpamitan pada sivia, lalu beranjak darisana.

im sivia, and we will on the same class. Welcome!

Cakka mengangguk-angguk dan masuk ke kelasnya.

**__**

“sialan! Baju gue kok jadi kaya gini!!!” pekik ify kaget melihat seragamnya yang sudah terbelah menjadi dua.

“i...itu pasti kelakuan Pricilla and the genk... kamu kemarin pake ngelawan dia, sih.”

“oh, jadi gini, cara main anak pemilik yayasan itu?! Hah. Dia kira dia siapa?!?! Sok berkuasa! Dia kan gak tau kalo....” ify terdiam. Nggak, gue nggak boleh bilang siapa gue sebenernya.

“kalo kenapa, fy?”

“nggak. Lupakan. Gue perlu bikin perhitungan sama mereka. Kurang ajar! Ini seragam baru! Bagus, lagi!”

Ify menatap nanar pada kemeja cream-nya yang sudah terbelah jadi dua, dengan rompi hitam yang juga terbelah jadi dua, untung roknya masih utuh.

“udah, kamu jangan cari gara-gara lagi. kasian kamu kalo nanti mereka makin ngebully kamu..”

“tapi kalo nggak di kasih pelajaran, mereka gak akan kapok, shilla. Sekali-kali mereka juga harus tau gimana rasanya di kerjain!”

“aku nggak ikut-ikut, ya. Udah cukup kenyang berurusan sama mereka.”

“nggak, lo harus ikut. Lo harus ngebales apa yang mereka lakuin buat lo dulu. Ayo, ikut gue.”

“fy... ify... aku nggak beraniiii!!” shilla mendengus saat ify sudah menarik tangannya ke kelas Pricilla yang tepat berada di hadapan kelasnya.


‘HEH!!” ify menggebrak meja Pricilla. Pricilla dan zevana kaget, mereka menatap ify dengan pandangan kesal sekaligus menang.

“Apa lo? Dateng-dateng gebrak meja orang. Di kira ini meja punya kakek lo apa!”

Ify melempar seragamnya yang sudah tak berbentuk seragam itu ke wajah Pricilla. “jangan karena lo anak pemilik yayasan, lo bisa seenaknya, ya!” ujar ify penuh penekanan.

“lo kurang ajar! Lo kira gue yang ngelakuin ini ke lo?!?! Kurang kerjaan banget gue!”

“ter..nyata... ka..kamu... selain sok.. pengecut juga...” lirih shilla di belakang ify

“apaa?!?!? Pengecut?!! Lo ngomongin diri lo sendiri?!?”

Shilla melirik kearah Pricilla. “aku ngomong sama kamu! Kamu pengecut! Nggak mau mengakui kesalahan kamu sendiri. Cuma menggunakan titel kebanggaan kamu itu, si anak pemilik yayasan.” Sinisnya.

“heh berani lo ya sama kita sekarang!” suara zeva meninggi. Dia sampai bangkit dari duduknya.

“kenapa nggak? Kita sama-sama makan nasi. Sama-sama manusia. Sama-sama sekolah di tempat yang sama. Kalo kamu merasa kamu anak pemilik yayasan yang nggak butuh belajar, nggak butuh sekolah, nggak butuh temen, ya nggak usah sekolah. Kamu bisa ,kan, home schooling aja? Nggak perlu dnegan cara nampang sok berkuasa di sekolah ini.”

“Lo kurang ajar ya sekarang!” Saat tangan Pricilla hendak melayangkan tamparan, tangan ify mencekalnya dan menguncinya hingga Pricilla mengumpat kesakitan. Dan cueknya, ify meninggalkan TKP bersama Shilla dengan senyum mengembang di wajahnya.

“bagus, shill. Lo harus berani kalo di lawan. Gitu seharusnya.”

“a...aku...nggak tau kenapa tiba-tiba kata=kata itu keluar...ma.makasih ya fy...”

“harusnya, lo berterima kasih sama diri lo sendiri...”

Shilla tersenyum. Baru kali ini ia merasakan benar-benar punya teman.

**__**


“Ify pulang...” ify melangkahkan kakinya masuk ke kediaman kakeknya.

Tak jauh dari sekolahnya, arsitekturnya pun hampir sama. Rumah kakek ify bertingkat tiga, dengan delapan kamar tidur dan kamar mandi di setiap ruangannya. Dua kamar tidur utama, dan enam kamar tidur tamu.

Dapur dan ruang makan ada di lantai dua. Ruang TV dan ruang tamu ada di lantai satu. Rumah ini begitu megah, banyak pembantu,supir dan tukang kebun yang ramah. Tapi tetap saja, semuanya berasa sepi. Kakeknya sendiri jarang di rumah. Ia lebih suka menghabiskan waktu di rumah kecilnya dulu bersama almarhum nenek, di bilangan Keputih.

Ify menatap langit-langit kamarnya. Ia masih mengingat jelas saat ia memaksa dan memohon pada kakeknya agar identitas aslinya tidak di ketahui oleh teman-temannya yang lain. Ia tak suka berteman dengan orang yang menganggapnya sebagai anak pemilik yayasan yang bisa di manfaatkan. Akhirnya kakek Samuel mengalah dan membiarkan ify memutuskan sendiri bagaimana hidupnya di Surabaya.

Tok tok..

“masuk...” ify melepas sepatunya. Tiba-tiba sang Kakek muncul.

“ka..kek? tumben...”

“kakek Cuma mau kasih tau. Lusa, kosongkan jadwal kamu. Kakek akan bawa kamu ke suatu tempat. Ingat, jangan pakai jeans, jangan pakai sneakers butut kamu. Kakek udah siapin di lemari. Sampai ketemu dua hari lagi.”

Ify melongo. Sedikit tak terima sneakers kesayangannya di berinama dengan ‘sneakers butut’. Kakeknya memang menyebalkan! Dan itulah yang membuatnya malas tinggal di Surabaya.

Ify pun membuka lemarinya dan betapa terkejutnya ia melihat sebuah dress berwarna silver di lemarinya. Sangat indah. Lalu wedges berwarna senada di bawahnya. Ify mendengus. Pasti lusa akan ada sesuatu yang besar. Itu berarti... BENCANA...


=======____=======

Gimana part duanya? Nggak jelas? Hehhee maaf belum bisa tag, belum sempet ngetag.
Tapi udah lanjut.... gak ngaret kan... semoga aja nggak kaya KMA yang sampe bertahun2 ngaretnya... wkwkkw

Jangan lupa comment nya di tunggu...
Muchluv @achaDG

TRAP [1]

1. New School




Gadis itu menghela napasnya, berat. Agak menyesali keputusan kedua orangtuanya yang mendadak menyuruhnya untuk tinggal di Surabaya, di kediaman sang Kakek atas alasan kesibukan kedua orangtuanya yang luar biasa hebat hingga tak bisa tinggal berlama-lama di Indonesia. Namanya Alyssa Saufika Umari, anak seorang pengusaha restoran terkenal di Jakarta dan Amerika di bawah perusahaan Umari Corp yang juga menangani bidang funiture dan meubel.

Gadis yang akrab di sapa ify ini berumur tujuh belas tahun. Masih duduk di kelas XI SMA. Ia bukan gadis manja yang menikmati semua hartanya. Seringnya ia sendiri dirumah membuatnya hanya menghabiskan uangnya untuk membeli berbagai dvd dan novel agar ia merasa tak kesepian, bukan untuk shopping baju atau apapun yang memang belum pantas untuk gadis remaja seusianya.

“Kamu kok bengong aja? Ayo, kamu sudah boleh berkeliling sekolah baru kamu,” ujar Bu Winda, guru piket setelah mengurus keperluan Ify.

Ify lagi-lagi mendengus. Ia sekarang berada di sekolah milik kakeknya, SMA BRAVIE. Dimana seluruh arsitekturnya dirancang oleh Kakeknya sendiri, Samuel Umari. SMA yang megah, memiliki berbagai gedung, dan lapangan yang sangat luas.

Di depan, kita bisa menjumpai pagar khas yunani yang dibangun tinggi-tinggi, lalu parkiran dengan halaman luas yang mayoritas adalah mobil dengan berbagai macam merk. Lalu ada gang di tengah-tengah, terbagi atas tiga jalan setapak kecil. Jalan setapak sebelah kanan, mengarah ke gedung belajar. Mulai dari kelas X, XI, hingga XII. Jalan setapak kedua mengarah ke ruang guru dan ruang extra. Jalan setapak ketiga mengarah ke kantin, lapangan, juga aula putih.

Aula putih adalah sebuah aula super besar yang dilengkapi oleh penthouse. Tempat murid-murid BRAVIE mengadakan lomba, pesta, dan perayaan lainnya.

Ify menganga melihat sebuah air mancur di dekat kantin, “Gila. Ini, sih, bukan mau makan, tapi piknik!” ia geleng-geleng kepala melihat suasana kantin yang rindang dengan banyak pohon. Meja-meja terbuat dari kursi, beberapa lesehan di bawah pohon tersebut. Benar-benar sejuk.

Kaki ify kembali melangkah menuju ruang extra yang berseberangan dengan kantin. Ruang ekskul sangat besar, karena terdapat berbagai ekskul disini. Kolam renang ada di atap, benar-benar asyik.

“Hai, nama kamu alyssa, ya?” tanya seorang gadis berambut sebahu sambil terengah-engah.

Ify memandangnya sambil melongo, namun ia mengangguk.

“Namaku Sivia Azizah, cukup panggil sivia, aku adalah ketua osis disini. Maaf, aku baru sempet kesini nyamperin kamu, tadi ada ulangan sejarah di kelas.”

“No Problem, gue juga ga papa kalau misalnya disuruh keliling sendiri. Oiya, panggil gue ify, ya.”

“okay ify,  mau kemana kamu setelah ini?”

**__**

Ify melahap habis somaynya, rasanya benar-benar enak. Beda dengan di Jakarta.

“Kamu nggak makan berapa lama, neng?” Sivia tertawa melihat teman barunya ini yang sedang memasukkan somay demi somay dengan gelagat kesetanan.

Ify meringis. “Abhis dhishinhi enhaaggg bhanghed shomehhnyhah...” ujarnya tak jelas dengan mulut penuh somay.

Sivia makin tertawa melihat ekspresi lucu ify. “udah kamu makan dulu sampe puas, aku mau beli minum dulu. Kamu mau apa?”

“akhhu ess thehh ajhhaa.”

Sivia mengangguk dan beranjak darisana. Ketika ify masih sibuk dengan somaynya, datang dua orang cowok yang duduk tak jauh dari ify. Ify tak terlalu memperhatikan mereka karena ia merasa masih harus menghabiskan satu porsi somay yang baru saja datang (lagi) kepadanya.

Abis dirumah kakek makanannya western terus. Gue, kan, kurang suka.

“Ify ya?” sebuah suara bass yang entah sejak kapan sudah ada dihadapannya membuat ify tersedak somay yang sedang ia makan.

“Eh eh ify kamu kenapa? Ini. Minum dulu” sivia langsung menyodorkan es teh yang baru saja ia beli. Dengan kecepatan ekstra dan mata yang sudah berair, ify meneguk es teh itu dengan cepat dan menoleh marah kearah cowok yang mengagetinya tadi.

Matanya terbelalak ketika mendapati teman sepermainannya, Alvin Jonathan, ada dihadapannya. “ALVIN!!!” pekiknya senang..

Alvin nyengir tak jelas, sivia memandangi keduanya dengan bingung.

“kok lo disini? Gue yakin lo pasti sedang menjalankan ide gila ortu lo lagi.” ujar alvin sok tau.

as well you know, lah, Vin. Mereka, kan, emang gila.”

“Eh, iya. Yo, sini!” panggil alvin kepada temannya yang sedang berdiri di stand makanan jepang, memesan sesuatu.

Setelah pemuda itu selesai memesan, ia berjalan menghampiri alvin.

“kenalin, ini Mario. Yo, kenalin, ini sahabat gue dari kecil, Ify.”


Ify mengulurkan tangannya. “Ify...”

“Rio” balasnya tanpa menjabat tangan ify. Ia melengos dan duduk di meja sebelah ify.

Alvin hanya geleng-geleng kepala, “dia emang gitu, maapin yak, hehhee. Yaudah lo have fun disini, via jagain dia, ya, dia sahabat kesayangan gue nih,”

Tawa pecah di antara alvin dan ify. Sivia hanya mengangguk enggan,

**__**

Disinilah ify sekarang. Di kelas XI IPS 2. Duduk sendiri dengan sabar karena seluruh pandangan cowok mengarah padanya. Gadis cupu di sampingnya juga hanya diam, tidak banyak bicara ke dia. Setidaknya, ify bersyukur di beri teman sebanggu seperti dia.

“Heh jelek, minggir lo.” Hardik seorang gadis cantik berambut panjang.

Si-cewek-cupu itu pun beringsut dari bangkunya, keluar dari kelas dan entah menghilang kemana. Ify hanya memandangi orang-orang didepannya dengan tatapan kesal.

“Hai, gue Pricilla. Ini Febby, dan ini Zevana. Kita mau ajakin lo masuk tim cheers kami. Lo mau join? Secara, lo cantik. Lo juga tinggi. Postur-postur anak cheers. Kita lagi kekurangan anggota, soalnya.”

Ify tertawa. “apa lo bilang? Cheers?”

Pricilla menyipitkan matanya tak suka, :”ya, ada yang salah?”

“Konyol. Dan gue sama sekali nggak akan masuk kedalam tim yang hobinya nari pake baju minim nggak jelas gitu.”

Febby., pricilla dan zevana melongo. Cewek baru ini, nolak mereka?!?!?!

“Lo!!! Lo bakal nyesel udah nolak masuk ke dalam cheers! Salah satu extra paling bergengsi dan eksis di sekolah ini!!”

I wont regret it, miss. I swear. Ify tersenyum sinis.

Ketiga cewek itu beranjak dari sana dengan amarah yang meluap. Tiba-tiba si-cewek-cupu berjalan masuk ke kelas. Melihat pemandangan itu, Pricilla dengan kesalnya meluapkan amarahnya ke cewek cupu tersebut.

“awww!!!” teriak cewek cupu itu. Pricilla menjambak rambutnya yang di kuncir ekor kuda..

Ify melompat dari bangkunya dan menghampiri ketiga gadis yang sedang membully teman sebangkunya itu. “heh! Cukup! Katanya anak-anak bergengsi, eksis, tapi kelakuan lo semua kampungan tau ngga!!” ify menarik cewek cupu tersebut kearahnya.

“heh! Lo ga usah ikut campur! Lo ngga tau kan siapa pemilik yayasan ini!? GUE!! Jadi, lo ga usah macem-macem sama gue!”

Ify tertawa. “Oh jadi lo pemilik yayasan? Hebat banget!” Nona, lo adalah seorang pembohong besar karena di hadapan lo sekarang ini, gue, adalah seorang cucu pemilik yayasan yang sebenarnya. Batin ify

“Ya! Maka dari itu elo ga usah berani bentak gue!”

Ify tak mengacuhkannya. Ia membantu si cewek cupu berdiri dan berjalan kembali kearah bangkunya.

“heh kalo gue ngomong, dengerin!” maki Pricilla sebal.

“udah, udah. Kita balik aja” ujar Febby menenangkan.


“Lo ga papa?” tanya ify mendudukkan cewek tersebut.

“aku gapapa, kok”

“syukurlah, kalo ada yang gituin lo, lo jangan diem, lo harus ngelawan. Jangan mau kalah sama cewek-cewek sok kaya mereka,”

Cewek cupu itu terkekeh. “buat apa? Nguras tenaga aja,”

“tapi lo bakal diinjek-injek terus sama mereka.”

“mereka anak pemilik yayasan, dan aku tau diri. Aku bukan siapa-siapa disini. Modal pintar aja ga ngejamin seseorang bisa banyak temen disini.”

Ify menghela napas. “nama lo siapaa?”

“aku Ashilla...”

“Okee, shilla. Mulai sekarang, lo temen gue,”

Shilla –si-cewek-cupu- mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya.


***___****


hai saya comeback sama cerbung baru hehehe maap geje dan sebagainyaaa~ semoga sukaaaah :*
dont forget to like and comment :3

08 Juli 2013

Henry Lau - Trap

[Henry] Oh~Woah Oh~Woah Oou~Woah~Oh

[Henry] Umjigil su eobseo wae Naneun mugeowojyeo gagiman hae Ne mam guseoge nohyeojin chae Nohin chae Yeah Nege dako sipeunde Geujeo keomkeomhan i eodum soge Jakku garaanja gateun gose Geu gose Yeah

[Henry] Ne aneseo jeomjeom nan ichyeojyeo ga Neul meomulleo inneun i sarang ane Oh nan I’m Trapped I‘m Trapped

[Henry] Naneun jichyeoga Na honjaseoman kkumeul kkugo innabwa Sege heundeureo nareul kkaewojugenni Kkaewojugenni I‘m Trapped I‘m Trapped Nan nareul irheoga neo eobsin naui ireum jocha gieogi an na Ijen ne aneseo nareul nohajugenni Nohajugenni I‘m Trapped I‘m Trapped I‘m Trapped

[Henry] Oh~Woah I‘m Trapped Oh~Woah

[TaeMin] Neowa nan ireoke Dallajyeo ganeunde Neoui kkeuchi eomneun yoksime Geu yoksime [Henry] Neoraneun saejange Jageun saejang ane beoryeojin sae Naragal su jocha nan eomneunde Eomneunde Yeah

[Henry] Ne aneseo jeomjeom nan yakhaejyeo ga ([TaeMin] Oh~) Neul meomulleo inneun i sarang ane Oh nan [TaeMin] Oh nan) I‘m Trapped I‘m Trapped

[TaeMin & Henry] Naneun jichyeoga Na honjaseoman kkumeul kkugo innabwa Sege heundeureo nareul kkaewojugenni Kkaewojugenni I’m Trapped I’m Trapped ([TaeMin] I‘m Trapped) Nan nareul irheoga neo eobsin naui ireum jocha gieogi an na ([Henry] Oh~) Ijen ne aneseo nareul nohajugenni Nohajugenni I’m Trapped I’m Trapped [Henry] I‘m Trapped

[Henry] Oh~Woah I‘m Trapped Yeah~

[Kyuhyun] Neol itgo sipeo ([Henry] Neol itgo sipeo) Naragago sipeo ([Henry] Naragago sipeo) Neol naeryeonoko ([Henry] Neol naeryeonoko) Jayuropgo sipeo ([Henry] Jayuropgo sipeo~)

Naneun jichyeoga Na honjaseoman kkumeul kkugo innabwa Sege heundeureo nareul kkaewojugenni Kkaewojugenni I’m Trapped ([Henry] Yeah~Yeah oh) I’m Trapped Nan nareul irheoga neo eobsin naui ireum jocha gieogi an na ([Kyuhyun] Gieogi) Ijen ne aneseo nareul nohajugenni Nohajugenni I’m Trapped I’m Trapped

Naneun jichyeoga ([Henry] Oh~) Na honjaseoman kkumeul kkugo innabwa Sege heundeureo nareul kkaewojugenni Kkaewojugenni I’m Trapped I’m Trapped Nan nareul irheoga neo eobsin naui ireum jocha gieogi an na ([Henry] Nan nareul irheoga) Ijen ne aneseo nareul nohajugenni Nohajugenni I’m Trapped I’m Trapped [Henry] I‘m Trapped

23 Mei 2013

Pudar.

Assalamualaikum wr.wb...
Gue bawa lagi satu post an yang menurut gue penting tapi nggak tau apa kata orang.

Pudar diinsini bukan judul lagunya rossa ya. Tapi sebuah ungkapan perasaan gue.
Ini tentang sebuah dunia yang sudah gue kenal hampir enam tahun yang lalu,
Dunia idola cilik.

Gue ngerasa semuanya berubah, mulai dari komunitinya, sampe semua anak-anak idola cilik itu sendiri.
Bukan pacar-pacar mereka yang gue permasalahkan, tapi sifat mereka.
Gue jadi agak kecewa dengan beberapa anak idola cilik itu, dan stelah gue fikir-fikir gue lebih baik keluar dari komunitas-komunitas tersebut. Gue dukung mereka bertahun-tahun, kasih mereka hadiah tuap ulangtahun mereka, gue gk menuntut lebih kok, gue cuma pengen mereka bersikap baik aja sama fans-fans mereka ini. Dan dari salah satu anak ic yg pernah sangat gue idolakan itulah gue mulai berfikir. Apa semua anak ic kaya dia ya? Apa mata duitan juga? Apa cuma pura-pura baik didepan doang?

Lo boleh bilanh gue musiman krn setelah itu gue pindah komun,karena gue hanya ingin punya idola yang bener-bener menghargai apa arti fans. Asal lo tau,gue jadi fansnya 3tahun dan selama itupula gue ga berhenti mensupport dia. Eh, kenyataan setelah ketemu sama dia,semua berbanding terbalik. Dan gue kira itu karena sikap egois gue, ternyata banyak juga yg keluar komun krn anak ic itu sendiri. Contohnya seseorang tetua yang bener-bener ngfans anak ic itu banget, tibatiba keluar komunnya anak itu karena beberapa kali ketemu sama dia, ketauan juga 'belang'-nya. Hahaha kalo gue sih sekali ketemu juga pasti bakal tau dia orang yang kaya gimana.

Dan nyatanya setelah gue pindah komun krn usulan beberapa temen yg juga out dari komun gue sebelumnya, malah makin parah. Padahal gue belum ketemu sama dia, tapi sekali ngstalk....wah lama-lama nih anak juga sama kaya anak ic yg sebelumnya. Apalagi ditambah kata beberapa admin daerah yg bilang dia berubah sejak masuk SMA. oke gue yakin karena pergaulannya.

Setelah itu gue nggak mau ngfans ex ic yang cowok lagi. Cukup ify dan marsha untuk sekarang. Jujur sejak insiden itu gue jadi ,ales baca cerbung ic yang baru-baru. Apalagi yang couplenya..........ah sudahlah. Dan gue cuma baca cerbung kslo alurnya bagus, ga peduli apa couplenya.

Rasa sesal makin menggerogoti ketika gue muak liat fanwar antar komun couple. Dan faktanya, separuh followers gue adalah anak komun couple itu, juga komun anak ic yang pernah gue idolain itu. Gue enek-.- apa-apa di sambing-sambungin. Sudahlah, dunia nyata dan harapan kalian itu berbanding terbalik. Kaya kutub positif sama positif. Saling tolak menolak. Terima aja,jangan segala di tweet (?)

Mau gue unfoll, tapi banyak yang udah gue kenal. Maka dari itu gue bikin twitter baru.  Hahaha mau sembunyi dari mereka sementara.

Lgian, gue gapernah tau ify atau marsha bilang kalo haters mereka adalah org gila/bodoh. Dan ntahlah ada salah satu anak komun anak ic ex idola gue yng secara gak langsung dibilang gila sama idola mereka dan mereka ga mempermasalahkan itu karema mereka cukup seneng dm mereka dibales. Hahahaha kalian itu dibutakan sama dia ya, makanya kalau ngfans jangan fanatik. Suatu saat sakit,loh,dikecewain sama idola sendiri. Lebih skt drpd dikecewakan sama pacar
Perasaan gue udah bener-bener purdar sama mereka

yaudahlah aegitu dulu, tab gue eror grgr ngebahas anak anak itu hahahaha
sekian dari gue...
kompor gas....!!!!

wassalamualaikum wr.wb