24 Juli 2013

TRAP [6]

6. Rahasia Ify


“Permainan piano kamu bagus, fy. Kamu pernah les?”

Ify menggeleng, “Saya otodidak, bu. Mama saya suka main piano, saya belajar dari mama. Tapi nggak lama setelah itu, mama saya mulai sibuk sama urusan kerjaan. Jadi, saya udah hampir nggak pernah menyentuh piano yang ada dirumah.”

“Sayang banget, padahal kamu bisa jadi composer terkenal, loh, kalo terus di latih.”

Ify terkekeh. “Cita-cita saya bukan jadi composer, atau pemusik, atau apalah yang ada hubungannya dengan musik. Karena musik Cuma hobi saya, bukan untuk dijadikan sebuah cita-cita.”

“Lalu, apa cita-cita kamu?”

“Saya ingin menjadi seorang chef, seperti mama saya.”

Great, it was a big dream, fy. Kamu harus mewujudkannya, someday.”

“Ya, cakka. I will.”

“Oke, gladi bersih cukup. Saya rasa kalian siap tampil besok. Ingat, jaga stamina. Saya ingin BREV-FEST berjalan lancar besok.”

“Siap bu!”

Cakka, shilla dan sivia melongo melihat seseorang yang masuk kedalam ruang musik. Dilihatnya sosok Rio, dengan gaya coolnya, dan tatapan tak acuh pada sekitar, berjalan menuju Ify. “Udah selesai? Pulang, yuk?”

Ify keki di tempatnya. “Lo apa-apaan, sih? Kenapa lo kesini? Ini sekolah, mario!”

“So? Lo tunang...”

Ify menutup mulut Rio. Seluruh ruangan menatap kedua orang ini dengan tatapan penuh penjelasan.

“ARGHH!!!” ify mengerang dan menyambar asal tasnya. Lalu beranjak darisana tanpa mengatakan apa-apa.

Sedetik kemudian, rio menyusul ify.

Zevana mencium sesuatu yang tak beres. Segera ia mengetikkan sesuatu pada Pricilla.


Zevana: Rio, tadi ke ruang musik. Nyamperin ify. Kayanya mau nganterin ify pulang.

“Liat, nih, sayang. Aku suka yang ini.” Ujar Pricilla menunjuk boneka teddy bear besar di depan sebuah toko.

“kamu mau yang ini?”

Pricilla mengangguk dan memasang muka penuh harap.

“tunggu bentar disini,”

Senyum pricilla mengembang, tapi sedetik kemudian, senyum itu lenyap saat ponselnya bergetar dan memperlihatkan isi pesan di dalamnya.

“Sialan tuh cewek! Bener-bener minta di habisin!” geramnya.

“Ini buat kamu!” ujar Kenneth sambil memberikan teddy bear yang baru saja di belinya.

“Udah gak mood. Ayo pulang,” jutek Pricilla yang lalu berjalan mendahuluinya.

“Loh? Loh? Gimana, sih? Pricilla, tunggu!”

**__**

“Fy, tungguin gue!”

“lo pulang sana sendiri! Bilang sama bokap lo, kalo lo udah anter gue pulang. Gue juga bakal bilang gitu ke kakek gue.” Sinisnya.

“fy gue minta maaf kalo kata-kata gue kemarin...”

“Ya, ya, ya. Udah gue maafin. Udah, pergi sana.” Usir ify

“Nggak, lo harus pulang bareng gue hari ini.”

“Gue bilang nggak mau, ya nggak mau. Denger nggak sih?!”

“Nggak. Gue nggak denger. Kecuali lo bilang mau pulang bareng gue, gue bakal dengerin.”

“ARGHHH Tuhan kenapa kau memberi cobaan kepada hambamu yang tidak berdosa ini...” rintih ify frustasi.

Rio tersenyum simpul. “Gue bakal ngikutin kemanapun lo pergi. Nggak ada tempat buat lo lari dari gue, fy.”

“Lo kira gue mau lari dari lo? Gue bukan pengecut! Oke, gue pulang sama lo.” Kesal ify yang lalu berjalan menuju mobil Rio.

Rio terkekeh. “Gengsi kok di gedein.” Gumamnya.

**__**

“Rio...sama...ify?” pertanyaan sivia menggantung, melihat Cakka, Shilla dan Alvin yang sama-sama memasang ekspresi nggak tau apa-apa.

“Ada yang aneh, ada rahasia yang disembunyiin ify dan rio dari gue... ify nggak biasanya diem aja. Apalagi dia tau, rio udah punya cewek.” Simpul alvin.

“Ify juga nggak cerita apa-apa....eh, tunggu.”

Sivia, alvin dan cakka menatap Shilla penuh Tanya.

“kemarin pagi, muka ify kusut banget. Pas aku nanya kenapa, dia bilang dia lagi kesel sama rio, rio nyebelin, tapi pas aku mau nanya udah keburu masuk bu Ira-nya.”

“Berarti, sebelum ini mereka udah deket...”

are they in a relationship?”

“gue akan cari tau,” Lirih alvin sambil melihat mobil rio yang perlahan mulai meninggalkan parkiran sekolah.

**__**

“gue ingetin, tuan Haling. Jangan sekali-kali lo nyebut tentang status kita di depan anak-anak.”

“Kenapa? Lo malu punya tunangan seganteng gue? Seperfect gue? Oh, c’mon. Semua cewek-cewek di sekolah ingin jadi pacar gue.”

“Sorry, tolong minimalisir kenarsisan lo didepan gue. Karena gue bukan satu di antara cewek-cewek di sekolah yang mau jadi pacar lo.” Ujar ify sambil mengutip ucapannya.

yes, you are. Karena lo mau jadi tunangan gue.”

“Itu terpaksa!”

“Gak peduli apapun alasannya, sekali tunangan, ya tunangan. Lo lebih dari pacar gue.”

“Gue nggak pernah anggep lo tunangan gue.”

“Terserah, nggak ngaruh, karena lo tetep tunangan gue.”

Ify mulai frustasi lagi menghadapi manusia ganteng di hadapannya ini. Tunggu, ganteng? Ya, dia memang ganteng, tapi busuknya lebih hina daripada koruptor!

“Berdamailah sama situasi. Gue udah mulai menerima lo dalam hidup gue. Sebaiknya lo juga kaya gitu ke gue.”

Ify menoleh. “Menerima lo? Nggak! Nggak akan!” ify geleng-geleng sendiri. Nih anak abis kebentur apa, sih?? Kok omongannya ngaco banget.

“Tunggu aja, fy. Gue akan bikin lo jatuh cinta sama gue.” Ucap rio dengan santainya, membuat pupil mata ify melebar selebar lebarnya.

“turunin gue!”

“No.”

“Turunin gue sekarang!”

“Gak akan.”

“Rio turunin gue!!!” ify menjambak rambut rio, hingga terpaksa rio menepikan mobilnya. Pintu mobil masih terkunci, ify tidak bisa keluar.

“yo, buka mobilnya.”

“Gak”

“buka!”

“Gak mau!”

“ARRGGHHH!!”

Tiba-tiba, rio tangan rio terulur mendekatkan tubuh ify kearahnya, sejurus kemudian, ia mencium puncak kepala ify. Membuat ify mematung di tempat duduknya.

“Lo kurang ajar!!” tuding ify emosi.

“apa? Gue tunangan lo, nona Umari.”

“AARRRGGHH!!!!!!” ia pun langsung pindah ke jok belakang. Tak peduli tatapan protes dari Rio. Dia tidak ingin melihat wajah rio sekarang. Kalau bisa selamanya.

**__**

Cakka calling...

Shilla menyerngit, tumben? Ia melirik jam dinding rumahnya. Udah jam 8 malem, ada apa?

“Halo, ada apa, kka?”

“Nggak apa-apa, are you hungry? Mau cari makan sama aku?”

Shilla terkekeh, “kamu masih ngehawatirin aku, gara-gara kejadian kemarin?”

“Iya, siapa yang gak khawatir, nunggu nasi goreng lewat sampe pingsan.”

“Jangan diingetin, ah, malu. Aku udah makan, tadi beli KFC pulang sekolah.”

“Jangan makan junk food terus, nggak sehat. nanti gendut.”

“Suka-suka aku, lah. Kenapa kamu jadi kaya mama aku gini, sih?” diam-diam, muka shilla memerah malu karena perhatian cakka yang semakin hari semakin berlebihan padanya.

“aku cerewet, because i care to you, Ashilla. Aku nggak ingin kejadian kemarin keulang lagi.”

thankyou, kka.”

For what?”

For your care, its too much for me.”

“Jangan sungkan, ini gunanya sahabat, kan?”

Glek. Sahabat? Jadi Cuma sahabat ya?

“Hahaha, ya. Yaudah, aku ngantuk. Malam, kka.”

Night, see you tomorrow. Nice dream, Shilla.”

Klik. Telfon di matikan. Tak terasa, air mata shilla jatuh menetes.

**__**

Sekolah masih sepi. Hanya ada segerombol anggota osis, dan anak-anak ekskul yang sedang bekerja rodi menyulap lapangan menjadi sebuah pasar dengan berbagai stand. Setiap kelas wajib menyumbangkan sesuatu, entah itu makanan, baju bekas, atau apapun itu. Bravie-festival diadakan setahun sekali, dan dana dari BRAV-FEST sendiri di kumpulkan untuk membantu bencana-bencana yang makin banyak di Indonesia.

Pricilla mendekor panggung yang nantinya akan menjadi opening dari BRAV-FEST. Alvin dan Sivia sibuk mengecek semuanya, tak lupa dengan handycam di tangan alvin. Alvin benar-benar mengabadikan momen-momen sebelum BRAV-FEST di mulai hingga hari H.

“Eh, kalian udah dateng! Kalian bisa masuk ke aula putih, ada kostum disana. Terus ada make up. Bakal ada yang ngurus, kok. Maaf, ya, aku nggak bisa kesana. Kerjaan aku disini juga lumayan banyak.”

“Nggak papa, via. Semangat ya! Pasti sukses!” ujar ify menyemangati.

“Thanks, fy.” Sivia kembali sibuk dengan Dayat dan Oik.

Ify, shilla, dan cakka segera menuju aula putih untuk bersiap-siap.

**__**

“Yakin sama rencana kamu?” tanya Zevana takut-takut.

“Yakin, lah! Gue udah gak bisa mundur. Dan nggak ada alasan buat nggak yakin. Semuanya udah gue susun. Dia harus tau, kalo Rio tuh milik gue!” Pricilla melenggang santai di atas panggung, lalu mengelus grand piano putih di pojok panggung. “Semoga lo beruntung, Ify.”

**__**

“Ify dimana?” tanya Rio tanpa ekspresi, membuat Shilla sedikit takut untuk menunjuk kearah ify sedang bermake up ria.

“Lo kenapa berangkat sekolah sendiri?” tanya Rio dingin, sambil mencekal lengan Ify

“Rio lepasin!”

“kenapa lo berangkat sekolah sendiri?!?!”

“Terserah gue, dong! Bukan urusan lo.”

“urusan gue, ify. Lo tuh tunangan gue! Jangan seenaknya sendiri kalo ambil keputusan!” bentak Rio emosi.

PLAKKK...

Ify menampar Rio keras-keras. “Gue...udah...bilang...jangan...sebut...status...kita...disini..” ujarnya penuh penekanan, dengan emosi yang menggumpal di dadanya.

“kenapa? Lo emang tunangan gue. Lo nggak bisa apa-apa lagi dengan status itu. Lo punya gue.”

“Nggak! Sampai kapanpun, gue gak setuju tunangan sama lo.”

“Fine! Dan lo bakal tau akibatnya!” Rio beranjak darisana.

Cakka dan shilla masih melongo di tepat duduk mereka. Ify menatap kedua temannya itu dengan tatapan sendu. Cakka menyenggol bahu shilla, memberi kode. Shilla yang menangkap langsung mengangguk dan mendekati ify.

“kalo kamu ada masalah, kamu bisa cerita ke kita, kok. Kalopun rahasia, kita juga bisa jaga rahasia kamu. Kita temen, inget?”

Ify yang tak kuat akhirnya menangis, dan meluncurlah cerita dari mulutnya. Runtut, dan jelas. Sesekali shilla dan cakka menepuk bahu ify, menenangkannya.

“Mungkin Rio bener, fy. Mulailah menerima kenyataan, karena ini kehendak keluarga kamu. Mereka tau yang terbaik buat kamu. Aku yakin, mereka ingin kamu bahagia dengan orang yang benar.”

“Rio? Dia orang yang benar?” sinis ify.

life must go on, fy. Kamu nggak mungkin terus-terusan nentang keputusan keluarga kamu. Suatu saat kamu pasti mengalah. Keputusan keluarga itu telak, kalo ngelawan, kita dosa. Kalau ngejalanin dengan terpaksa, kita juga dapet dosa. Mulai ikhlas aja. Pasti semua nya akan berujung indah.” Cakka tersenyum melihat tangis ify yang sudah berhenti.

“Makasih, kka, shill. Gue nggak tau apa jadinya tanpa kalian.”

“Ya, itulah gunanya sahabat.” Cakka mengacak-acak rambut ify.

Seketika jantung shilla mencelos. Kata-kata itu lagi. batinnya pedih.

“Cakka! Rusak, tau!”

“Kamu udah cukup berantakan karena nangis, jadi aku tambahin aja.”

“Udah, jangan kaya anak kecil. Dua jam lagi acara mulai, kita harus siap-siap.” Ujar Shilla menengahi.

“Siap, bu guru...” koor ify dan cakka sambil cekikikan.

**__**

Part 6 sudah di possstt!!!
Jangan lupa commentnyaaaaa (:
@achaDG

TRAP [5]

5. Pricilla


Rio dan Pricilla ada di dalam aula putih, berdua. Pricilla dengan ice cream di tangannya, dan rio dengan jantungnya yang berdegup kencang. Hari ini, ia bertekad untuk putus dari Pricilla. Karena perjodohan sialan itu yang memaksanya seperti ini. Ayahnya melarangnya untuk berhubungan dengan gadis lain, selain ify. Bahkan ayahnya sudah menyuruh beberapa intel untuk mengawasi gerak-gerik rio di sekolah.

Ayahnya hanya memberi waktu 1 hari untuk menyelesaikan hubungannya dengan Pricilla. Dan hari inilah saatnya.

“Priss...”

“Iya, yo?”

“Aku... aku...”

Pricilla menghadap Rio. “Kamu kenapa?”

“Aku mau kasih tau sesuatu ke kamu... aku...”

Pricilla masih menunggu. Ia duduk mendekat pada rio. Dan sebuah kecupan kilat mendarat di bibir Rio. “Aku sayang kamu,” bisik Pricilla.

Rio seakan terhempas dari kenyataan. Ternyata, berpisah dengan Pricilla tak segampang yang ia bayangkan. “Aku juga...”

Dan, semuanya gagal. Maaf, pa. Rio nggak bisa.

**__**

“Lo kenapa, bro, mukanya di tekuk terus?”

Rio mengangkat bahunya tak acuh.

Alvin menyerngit, “Ada masalah sama pacar kesayangan lo itu?”

“Dari nada bicara lo, kayanya lo nggak suka banget gue pacaran sama dia.”

“Baru sadar? Sejak lo pacaran sama dia, lo berubah, Rio. Lo menjelma jadi sosok Rio yang gak gue kenal. Lo jadi orang lain.”

“Gue tetep Rio. Mario Stevano Haling. Bukan siapa-siapa.”

“Terserah! Mau sampai kapan lo berubah jadi Rio yang gak gue kenal? Lo sahabat gue, yo. Dan gue berhak ngasih tau mana yang salah dan mana yang bener buat lo. Gue mencoba ngasih tau lo, tapi gagal. Lo udah di butain sama cewek macem Pricilla!”

“heh! Jaga mulut lo! Dia cewek gue, cewek sahabat lo!”

“Oh, lo sahabat gue? Hah. Gue nggak punya sahabat kaya lo. Sahabat gue Mario! Bukannya cowok bermuka Rio tapi berkelakuan bukan Rio!” alvin meninggalkan kelas.

Rio mengacak-acak rambutnya frustasi. Apa iya gue bener-bener berubah? Berubah jadi apa gue? Power ranger? HAH LUCU BANGET.

 **__**

“Hai, gue boleh gabung?” tanya Alvin pada sivia, ify, cakka dan Shilla.

Shilla mengangguk. Ify sudah menggeser tempat duduknya.

“Tumben? Ada apa lo tiba-tiba nyamperin kita? Mana, tuh, temen lo yang satunya?” tanya ify basa-basi

“Temen? Ilang. Noh di lalap sama pacarnya,” alvin mengedikkan bahu kearah Rio dan Pricilla yang ada di pojok kantin.

“jadi kamu cemburu liat mereka?” goda Shilla.

“Cemburu? Lo kira gue homo!?!?!”

“Jadi kamu mikir, aku nuduh kamu cemburuin Rio? Apa kamu emang benr-bener cemburu sama Rio?”

“Nggak! Gila gue masih normal kali.” Alvin menyambar jus strawberry yang ada di depannya

“Itu minum aku, alvin” ujar sivia kesal lalu mencubit pinggang alvin.

“eh eh aduh aduh maaf vi iya iya sori gak lagi.”

Ify tersenyum melihatnya, diam-diam, ia melihat kearah cakka dan shilla yang juga menikmati kedekatan mereka.

**__**

“Rio, kamu sudah menyelesaikan semuanya?”

“Belum, Pa.”

Zeth haling menatap garang kearah Rio. “Belum?!?! Papa sudah kasih kamu kesempatan. Nggak ada kesempatan kedua. Papa nggak mau tau, jauhi pacar kamu! Dan mulai sekarang, kamu harus antar jemput ify ke sekolah.”

“papa...”

“Nggak pake bantah! Papa udah kasih kamu kesempatan buat nyelesaiin semuanya, tapi kamu menyia-nyiakan kesempatan itu. Cuma dua tahun, rio, setelah itu, kamu bebas. Hanya buat ify jatuh cinta sama kamu, lalu ambil aset perusahaannya, dan kamu boleh menjalankan hidup kamu seperti biasanya. Kalau kamu bisa cepat, papa yakin, nggak sampe dua tahun, perusahaan papa kembali bangkit. Semuanya ada di tangan kamu, Rio.”

Rio kembali diam. Ia benar-benar bingung dengan apa yang harus ia lakukan sekarang.

**__**

Tin tin...

Ify baru saja selesai sarapan saat sebuah klakson berada tepat di depan rumah kakeknya. Samuel umari yang turun dari tangga langsung memberi kode pada ify untuk membukanya. Ify mengangguk malas, tapi tetap berjalan untuk membuka pintu.

“Pagi...” sapa Rio dari balik pintu.

Ify melongo. “Pa..pagi juga...”

“Berangkat bareng?”

“Eng...gue...naek angkot aja.”

“kok naik angkot? Sama gue aja.”

“Siapa, fy?” tanya kakeknya dari dalam.

“ehh, anu, kek... itu... Rio...”

“Rio? Suruh masuk...”

Ify memberi kode pada rio untuk mengikutinya. Kakeknya sudah duduk di ruang tamu dan membaca koran.

“Pagi, kek...”

“Pagi, Rio. Udah sarapan? Tuh, ify bikin nasi goreng.”

“Nggak, kek. Rio udah kenyang, tadi udah sarapan roti di rumah.”

“Fy, daripada nasi gorengnya mubazir, kamu bawa buat bekal gih, nanti di makan sama Rio pas istirahat.”

Damn! Si kakek nih kalo nyari kesempatan bisa aja!

Ify mendengus, lalu membereskan meja makan.

“Mau nganterin ify, ya?”

“Iya, kek. Boleh, kan?”

“sangat boleh. Kalau perlu tiap hari, ya. Biar ify ada yang jaga. Kakek, kan, udah tua. Nggak bisa terus jagain ify. Kedua orang tua ify juga lagi di luar negri. Jadi Cuma kamu harapan kakek, buat jagain ify.”

“Beres, kek. Bakal Rio jagain.”

“Ayo, berangkat.” Ujar ify jutek.

“Yaudah, kalian hati-hati ya. Rio, jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya.”

“Iya, kek. Kita berangkat dulu.” “kek, ify berangkat.” Ujar rio dan ify hampir bersamaan.

**__**

Rio dan ify melewatkan lima belas menit perjalanan dengan diam. Tak ada yang berniat memulai pembicaraan. Rio terlalu bingung, dan ify terlalu malas. Beberapa ratus meter dari sekolah, ify menoel bahu Rio.

“Gue turun disini aja.” Ujarnya sambil merapikan seragamnya.

“Kok?”

“Gue nggak mau dateng ke sekolah sama cowok yang masih berstatus pacar orang.”

Rio menepikan mobilnya. “Terus, kalo gue udah gak berstatus pacar orang, lo mau?”

Ify terdiam. Tanpa basa-basi, dia membuka pintu mobil rio.

“Fy!” rio ikut keluar dari mobil dan mengejar ify.

“apa, sih?”

“Gue Cuma sedang mematuhi perintah bokap gue, buat anter jemput lo. Karena status lo sekarang adalah tunangan gue.”

“gue bahkan lupa naruh cincin tunangan kita dimana,” sahut ify sakartis.

Rio menghela napasnya berat, “Lo nurut aja, seenggaknya nggak usah jadi pengacau. Cuma gue anter jemput doang, juga. Biar gue terbebas dari amukan bokap gue.”

“Pengacau lo bilang?!” desis ify tajam. Ia makin mempercepat langkahnya, tak mempedulikan Rio yang menyerukan namanya berkali-kali.

**__**

“Gawat! Gawat! Gue liat rio sama Ify di jalan deket sekolah!” ujar zevana pada febby.

“Rio? Ify? Ngapain?”

“Nggak tau, tapi gue lihat rio megang tangannya ify. Jangan-jangan...dia selingkuh lagi.”

“Siapa yang selingkuh?” tanya pricilla yang tiba-tiba sudah ada di bangkunya.

“eh, itu, anu...”

“Siapa?” tanyanya dingin.

“rio... aku lihat rio sama ify di jalanan deket sekolah, pegangan tangan.”

“Shit! Macem-macem dia sama gue!” geram Pricilla. “Dia harus di kasih pelajaran! Supaya gak asal serobot cowok orang aja.”

Dan sebuah ide terlintas di benak Pricilla.

**__**

“Kemarin alvin, sekarang kamu. Kenapa muka kamu kaya gitu?”

“Sebel, kesel. Gue paling nggak suka kalo di ejek. Apalagi sama cowok! Sumpah, gue pengen banget nyumpel mulutnya pake kaos kakinya sepupu gue yang gak pernah di cuci itu... erghhhh nyebelin.”

“Siapa, sih?”

“Rio! Sok banget jadi cowok. Awal-awalnya manis tapi ternyata busuk juga. Ngeseliiiiinn...”

“Rio?”

Ups. Ify menutup mulutnya, sadar, bahwa ia sudah keceplosan.

“eh, gue baru sadar. Kok akhir-akhir ini style lo berubah? Rambut sering di cepol, terus, kacamata ganti, ada perubahan yang sangat signifikan dari diri seorang Ashilla.” Ujar ify coba mengalihkan pembicaraan.

Tiba-tiba muka Shilla bersemu merah. Ify tau, semua penyebab shilla berubah karena Cakka. “Cie shilla mukanya merah, ciee shilla jatuh cinta...”

“Ify, apaan sih?”

**__**


Just the way you say hello
With one touch I can't let go
Never thought I'd fall in love with you...

“Kurang tinggi,ify. Coba kamu tinggikan lagi suara kamu. Saya yakin, kamu mampu.”

Ify mengangguk dan mulai menyanyi.

Dua jam yang lalu, sivia tiba-tiba datang ke kelasnya dan mengajaknya, juga shilla untuk keluar atas keperluan BRAV-FEST lusa. Dan ify di tunjuk sebagai opening acara, dengan grand piano putih dan lagu pembukaan berjudul Because of you. (hayo grand piano putih jangan random ya wakakaka)

Sedangkan Shilla, Sivia, Cakka, Debo dan Zevana akan ada pada satu band, BRAVESound. Band milik sekolah. Shilla sebagai gitaris bersama cakka, debo sebagai drummer, zevana sebagai bassist dan sivia sebagai vocalist.

Sedangkan alvin sedari tadi merekam jalannya latihan.

“Jadi kerjaan gue gini doang, nih? Jadi asisten kalian? Beliin kalian minum, gitu-gitu doang?” tanya Alvin kesal.

Shilla dan cakka cekikikan.

“Kalau kamu nggak mau, yaudah, aku bisa suruh anak osis lain kok, jadi sie dokumentasi.”

Alvin mendengus. “ya ya ya. Sory ketua. Hamba tidak akan protes lagi.”

Diam-diam, sivia tersenyum.

“Kok lo nunjuk gue, sih ?”

“Karena kata shilla, suara kamu bagus. kamu juga bisa main piano. Buktinya, pelajaran seni kamu selalu dapet A.”

“tau dari mana lo?”

“aku ketua osis, fy. Remember?”

“Cih, jadi ketua osis jaman sekarang suka mencuri informasi orang lain? Itu namanya ilegal.”

“Nggak kok, siapa yang mencuri? Aku Cuma melihat. Beda, ya.” Sivia terkekeh.

“Sivia..” panggil Pricilla yang tiba-tiba datang menghampiri via.

Sivia menyerngit. “ya?”

“Ini, tugas gue, bisa ganti nggak, sama tugasnya Difa? Biar gue aja yang ngurus acara. Dia ngurus promosi,”

“Ehm... gimana ya? Kemarin, kan, kamu gak ikut rapat.”

“tenang, gue bisa tanya anak-anak yang ikut rapat, kok.”

“yaudah, terserah kamu aja. Tapi konfirmasi sama difa dulu, ya.”

“yap. Udah gue bilang ke difa. Thank you.” Pricilla mengedipkan sebelah matanya ke sivia, sambil melirik ify dengan tatapan yang tak bisa terbaca.

Kali ini, lo akan bertekuk lutut di hadapan Pricilla, ify. Lo kira, gue akan diem aja, liat pacar gue lo ambil? Nggak, ify. Liat aja lusa. Gue akan bikin sebuah sejarah baru di hidup lo.


====____=====

donee! dua part nih sehari. gimana? comment jangan lupa yaaaa. hehehehe :3
@achaDG

TRAP [4]

4. Perjodohan dan Pertunangan


“Sebenarnya kamu ini dari mana saja? Lihat, kita jadi terlambat. Ini, tuh, acara penting banget, fy. Dan kamu jadi pengacau.”

Ify merengut sepanjang perjalanan. Gue pengacau? Ah, c’mon. Gue bahkan sampe rumah jam setengah tujuh! Dan mandi sepuluh menit. Dandan Cuma lima menit. Kurang cepet apa gue???

“Kalau sampai semuanya gagal, itu salah kamu. Ayo turun,” perintah kakek Samuel

“Salah gue? Enak banget tuh mulut kalo ngomong!” maki ify. Ia pun terpaksa turun dari mobil Pajero Sport milik kakeknya itu.

Sebuah restoran di bilangan Surabaya Pusat menjadi tempat acara malam hari ini. Banyak orang berjas dan berdress didalam sana. Ify mendengus. Pesta? Pesta orang tua? Apa maksud kakek pake ngajak-ngajak gue segala? Nyebelin!


“Ify, ayo!” teriak kakeknya.

“arghhh!” ify berjalan gontai memasuki restoran tersebut. Sama sekali tidak ada cewek atau cowok seumurannya. Itu adalah neraka.

“Ya, hadirin sekalian, tamu penting kita sudah datang. Pak samuel umari, silahkan maju kedepan!” ujar seorang MC.

Kakek ify pun melangkahkan kakinya keatas panggung dan mengambil microphone. “Selamat malam semuanya. Malam ini adalah malam yang sangat spesial sekali, dimana Haling Corp dan Umari Corp akan menjadi sebuah perusahaan besar. Dimana cucu saya, Alyssa saufika dan cucu Hardiyan Haling, Mario Stevano, akan mengikat cinta mereka dalam sebuah pertunangan malam ini juga.”

Ify membelalakkan mata, mulutnya melongo. Apa ia salah dengar? Cinta mereka? Mario stevano? Pertunangan? Ada apa ini?!

“PERTUNANGAN?!?!?!” pekik seseorang di seberang ify. “PAPA SAMA SEKALI NGGAK BILANG SAMA RIO SOAL INI!”

“Rio... turuti papa...”

“NGGAK! RIO NGGAK MAU DI JODOHIN. APALAGI DI TUNANGIN!”

Ify melirik cowok itu sekilas dan betapa terkejutnya ia melihat sosok Rio yang ia kenal sebagai teman alvin, juga pacar Pricilla. “Rio?” panggilnya.

Rio yang melewatinya pun terhenti. Ia memandangi ify. “Elo... alyssa saufika?”

Dengan berat, ify mengangguk.

Rio melengos, lalu duduk di pojok ruangan. Sama sekali tak berminat dengan pesta ini dan semuanya. Perjodohan. Pertunangan. Harta. HAH. PERSETAN SAMA SEMUANYA!

Zeth haling menghampiri rio, ia menghela napas berat. “Kamu nggak perlu anggap tunangan ini sebagai hal yang besar, rio. Kamu bisa anggap ini sebagai.....permainan... setelah Haling corp stabil kembali dan semuanya berjalan seperti semula, kamu boleh tinggalin perjodohan ini. Hanya sampai semuanya kembali normal.”

“Tapi... sampai kapan, pa?”

“dua tahun. Hanya dua tahun.”

“PAPA! DUA TAHUN BUKAN WAKTU YANG SEBENTAR!”

“Papa tau, tapi untuk perusahaan kita yang sudah diambang kehancuran, dua tahun adalah waktu yang paling singkat untuk mengembalikan semuanya menjadi semula. Kamu Cuma harus nurut, dan sabar sampai waktu itu tiba. Dan kamu bisa tinggalkan ini semua. Papa janji, setelah itu, kamu bebas memilih apa yang kamu ingin.”

“bebas? Apapun?”

Zeth haling mengangguk.

2 tahun? Itu artinya, dua tahun gue harus tahan pacaran sama cewek macam dia? Dua tahun gue berstatus tunangan dia? Dan... Pricilla? Gimana dengan dia? Apa yang harus gue lakuin? Menyelamatkan keluarga gue? Atau menyelamatkan hati gue?

**__**

“Kakek kenapa nggak kasih tau ify dulu, sih?”

“kalo kakek kasih tau, kamu pasti nggak mau.”

“jelas nggak mau, lah. Kakek kira ini zaman siti nurbaya, pake jodoh-jodohan segala? Ify juga bisa, kali, cari pacar sendiri.lagian, ify masih kelas dua SMA. Masih belum pantes pacaran. Pacaran tuh kalo udah lulus, udah mapan. Kenapa kakek kebelet ngasih ify jodoh aja,sih.” Sungut ify

“kedekatan kakek dengan kakek hardiyan udah sangat lama, kami berteman baik. Dan ini adalah permintaan terakhir sebelum beliau meninggal Kakek Cuma nggak mau, kalau terlalu lama kakek mengulur waktu, kamu akan menemukan pacar yang membuat kamu buta akan segalanya.”

“Tapi lihat! Rio nggak mau di jodohin sama ify, ujung-ujungnya ify juga yang malu. Lagipula, ify nggak mau di jodohin sama cowok yang udah punya pacar!”

Samuel umari menghela napas, “Kamu harus coba menerima dia, ify. Karena bertunangannya kamu dan dia, itu adalah sebuah project besar untuk Umari corp, dan Haling corp. Kita akan menjadi sebuah perusahaan besar yang nantinya akan mendunia jika melakukannya bersama-sama. Apa kamu nggak ingin membahagiakan orangtua kamu? Sekaranglah saatnya, ify. Kalau kamu sayang sama mereka, turuti perjodohan dan pertunangan ini.” Tandasnya tajam, lalu berlalu darisana.

Ify membeku di tempatnya. Membahagiakan? Dengan cara merelakan kebahagiaan gue sendiri?! Hah!

**__**

Senangnya dulu saat bersamamu...
Setiap waktu terasa indah bagiku...
Saat kau memelukku... ku makin jatuh cinta...
Takkan ku lupa rayuan cintamu...

Alvin calling...

Sivia tersenyum kecut saat mengingat bagaimana senangnya dia, dulu, empat tahun yang lalu, saat nama alvin tertera pada layar ponselnya. Sekarang? Muak.

Alvin: via, angkat please.

Sivia tak mengacuhkan sms dari alvin. Sampai tiba-tiba jendela kamarnya berbunyi.

Klotek.. klotek...

Ia mendekat, dan membuka jendelanya. Alvin sudah ada disana, di hadapannya. Sedang tersenyum padanya. Senyum yang membuat jantungnya berdetak lebih kencang daripada biasanya. Senyum yang selalu di nantikannya. Tapi senyum itu juga yang menghancurkan segalanya.

Sadar, ia memasang ekspresi sinisnya kembali.

Bahagia ku rasa... hanya sementara...
Ku terbuai cintamu...

“Ngapain kamu kesini?”

“Salah sendiri nggak respon telfon, sms, dan chatku.”

“Males.”

“Yaudah, kan mending ngomong langsung biar nggak males.”

“Makin males. Udah, kamu pulang sana. Udah malem, aku ngantuk, mau tidur.”

Alvin kembali mencekal pergelangan tangan via. “Via... maafin aku...”

“Nggak ada yang perlu di maafin.”

“Tapi aku merasa aku salah,maafin aku via, maafin aku.”

Air mata sivia mulai tak bisa di bendung lagi. ia pun meninggalkan alvin yang masih berdiri pada jendela kamarnya, dan masuk kedalam selimut tempat tidurnya. Tangannya dengan asal mengklik tombol play pada musik, dan keluarlah reff lagu Gruvi yang membuat alvin tertohok di luar sana.


Dulu kau bilang... sayang padaku...
Dulu kau bilang... ya Cuma aku...
Selalu kau bilang... kau rindu aku...
Tapi ternyata... semua itu palsu...

**__**

“Kita tetap lanjutkan acara pertunangan ini.” Tegas Hanafi Umari via telfon.

“Papa...” lirih ify.

“Ini juga buat kebaikan kita semua, fy. Sudah,lah. Turuti saja, toh, nggak merugikan kamu. Papa denger-denger, anak Haling juga ganteng, kan? Apa salahnya kalau gitu.”

“Terserah!” ify memutuskan sambungan telfon. Dia sudah benar-benar badmood malam ini.

Ketika sang MC asik berkoar-koar tentang acara pertunangan ini, badan ify bahkan hampir bergetar menahan semua emosi yang seakan-akan berbondong ingin keluar saat ini juga. Tiba-tiba sebuah tepukan tangan di pundaknya membuat ia tersadar dan menoleh.

“Rio?”

“Nggak papa, kita lanjutin aja.”

“Tapi... Pricilla?”

“Urusan gue. Yang penting malem ini, urusan disini kelar dulu. Ayo, kesana.” Ajaknya.

Ify menghela napas sekali lagi, menguatkan dirinya sendiri. “Ya,” gumamnya malas.

**__**

Pertunangan done!

Ify merebahkan dirinya di atas kasur, memandangi cincin yang sekarang tersumat di jarinya. Dia bukan lagi seorang remaja normal. Dia seorang remaja yang sudah memiliki tunangan! Bayangkan. Dia bahkan belum pernah merasakan bagaimana indahnya jatuh cinta, saat faktanya sekarang ia bahkan sudah punya tunangan.

Kenapa hidup gue serumit ini, sih?

Ify menenggelamkan mukanya ke bantal. Hari ini sangat menguras emosinya. Ingin ia berteriak kencang-kencang sekarang, tapi dia bukanlah gadis yang tidak punya etika dan sopan santun.

Shilla calling...

Ify meraba-raba kasurnya, mencari sumber getaran dari ponselnya. Lalu menyerngit ketika mendapati shilla menelfon.

“halo? Ada apa shill?”

“No, no. Im not shilla. Im cakka, fy. Fy, can you help me? Shilla pingsan dan sekarang ada di rumah sakit dekat sekolah. Can you come here please? Now?”

“Hah? Shilla di rumah sakit? Iya, iya. Gue kesana. Oke, tunggu bentar ya kka.”

“Iya, asap fy.”

Klik. Telfon di matikan.
Ify segera mendial satu nomor lagi. sivia.

**__**

“Apa? Shilla masuk rumah sakit?? Dimana, fy?”

“Rumah sakit deket sekolah, lo tau kan?”

“Iya, rumah aku deket kok dari situ. Aku kesana duluan ya,”

“oke, kayanya parah banget sampe cakka panik.”

“sepertinya kita utang penjelasan sama dua anak itu, hahaha. Oke fy aku siap-siap dulu. Bye.”

Setelah memakai sweeter kebesarannya, bergambar Liverpool, ia segera memakai sepatu sneakersnya dan berpamitan pada mamanya. Dan melesat keluar.

“Mau kemana kamu?”

Sivia terjengat kebelakang. “alvin? Ngapain masih disini?”

“Nggak tau, masih pengen aja. Kamu mau kemana?”


“Rumah sakit, shilla pingsan.”

“Ah, aku anterin ya?”

Sivia menimbang-nimbang. Ia harus sesegera mungkin berada di rumah sakit. Dengan terpaksa ia mengangguk. Sedetik kemudian, tangannya sudah ada dalam genggaman alvin yang menuntunnya menuju motor alvin yang terparkir di sebelah rumah sivia.

**__**

“Dia sudah tidak apa-apa, Cuma kekurangan darah saja. Dia punya anemia, dan berdiri di jalan selama berjam-jam, ayolah, itu sangat menyita tenaganya. Kamu jangan bikin dia menunggu lagi, ya.”

“Hah? Maksudnya, dok?”

“Kamu pacarnya, kan? Pasti dia nungguin kamu, nih, sampe pingsan gini.”

Cakka speechless. Ia hanya tersenyum kikuk dan mengucapkan  terimakasih kepada dokter wanita yang baru saja memeriksa shilla.

“Errhh, aku...dimana?”

“Hospital..” cakka mendekati shilla. “Kamu pingsan. Lagi ngapain, sih, berdiri di jalan dingin gitu tanpa pake jaket?”

“Aku... Cuma nungguin nasi goreng lewat, kka.”

“Astaga, kenapa nggak telfon aja? My house is near from your house. You can ask me to buy fried rice. Kamu sendirian dirumah, kalo aku nggak jalan-jalan tadi, mungkin kamu pingsan disana sampe pagi.”

“Sorry, abis udah kelaperan tingkat dewa. Hehehe” Shilla tertawa garing.

“Shilla!!!” panggil Sivia heboh di ambang pintu. Cakka dan shilla menoleh. “Kamu kenapa? Ada yang luka? Kok bisa pingsan, sih? Lihat hantu? Ah, mana mungkin kalo hantunya secakep cakka.”

Shilla melongo. “Sivia!” tegurnya.

Sivia cengengesan.

Alvin menyipit melihat cakka. Nih cowok deketin sivia, tapi juga deketin shilla? Sok playboy ato gimana, sih?!?!

“Kok sama alvin, vi?”

“Oh.. iya.. itu.. ehm..”

“Abis ngerjain tugas osis bareng di rumah gue.” Jawab alvin singkat, dengan pandangan sinis tak lepas dari cakka.

“Gitu... oiya, aku cakka. Exchange student dari singapura.”

“Alvin.” Ujarnya sambil melengos.

Sivia menyipit melihat gelagat alvin yang aneh. Tapi hendak ia bertanya, ify datang dengan napas terengah-engah. “Kaya abis di kejar setan aja, lo.”

“loh...nggakh...tau...tadhi...ghueeh..suruhh..bhaphak..thankshi..nyahh..ngebhuthh...”

“Fy, minum dulu...”Cakka menyodorkan sebotol air mineral pada ify.

“Makhashih...kkha....”

Tuh! Abis sama sivia, terus shilla, sekarang sama ify. Maksud nih cowok apa coba? Mau gaet tiga-tiganya sekaligus? Alvin makin meneliti sosok cakka dari atas sampai bawah.

“eh, ada lo juga vin. Ngapain lo disini?”

“ah.. gue nganterin sivia..”

Ify berdehem. “Lo berempat utang penjelasan sama gue.”

“Utang penjelasan apa, fy?” tanya alvin bingung.

“kenapa kalian bisa....bercouple-couple gini?”

Sivia berdehem. “aku sama alvin abis ngerjain tugas osis, fy.”

“cakka nggak sengaja lewat depan rumah aku, pas aku udah pingsan.” Jelas shilla

Ify tertawa geli melihat ekspresi keempat temannya. “Kaya ketauan maling aja lo berempat.”

“Apaan sih.” Alvin mendorong bahu ify.

Ify masih tertawa. “Cinta lokasi mulai bersemi.” Ujarnya pelan tapi membuat keempat pasang mata melihat tajam kearahnya.

“IFYYY!!!!!”

**__**