24 Juli 2013

TRAP [5]

5. Pricilla


Rio dan Pricilla ada di dalam aula putih, berdua. Pricilla dengan ice cream di tangannya, dan rio dengan jantungnya yang berdegup kencang. Hari ini, ia bertekad untuk putus dari Pricilla. Karena perjodohan sialan itu yang memaksanya seperti ini. Ayahnya melarangnya untuk berhubungan dengan gadis lain, selain ify. Bahkan ayahnya sudah menyuruh beberapa intel untuk mengawasi gerak-gerik rio di sekolah.

Ayahnya hanya memberi waktu 1 hari untuk menyelesaikan hubungannya dengan Pricilla. Dan hari inilah saatnya.

“Priss...”

“Iya, yo?”

“Aku... aku...”

Pricilla menghadap Rio. “Kamu kenapa?”

“Aku mau kasih tau sesuatu ke kamu... aku...”

Pricilla masih menunggu. Ia duduk mendekat pada rio. Dan sebuah kecupan kilat mendarat di bibir Rio. “Aku sayang kamu,” bisik Pricilla.

Rio seakan terhempas dari kenyataan. Ternyata, berpisah dengan Pricilla tak segampang yang ia bayangkan. “Aku juga...”

Dan, semuanya gagal. Maaf, pa. Rio nggak bisa.

**__**

“Lo kenapa, bro, mukanya di tekuk terus?”

Rio mengangkat bahunya tak acuh.

Alvin menyerngit, “Ada masalah sama pacar kesayangan lo itu?”

“Dari nada bicara lo, kayanya lo nggak suka banget gue pacaran sama dia.”

“Baru sadar? Sejak lo pacaran sama dia, lo berubah, Rio. Lo menjelma jadi sosok Rio yang gak gue kenal. Lo jadi orang lain.”

“Gue tetep Rio. Mario Stevano Haling. Bukan siapa-siapa.”

“Terserah! Mau sampai kapan lo berubah jadi Rio yang gak gue kenal? Lo sahabat gue, yo. Dan gue berhak ngasih tau mana yang salah dan mana yang bener buat lo. Gue mencoba ngasih tau lo, tapi gagal. Lo udah di butain sama cewek macem Pricilla!”

“heh! Jaga mulut lo! Dia cewek gue, cewek sahabat lo!”

“Oh, lo sahabat gue? Hah. Gue nggak punya sahabat kaya lo. Sahabat gue Mario! Bukannya cowok bermuka Rio tapi berkelakuan bukan Rio!” alvin meninggalkan kelas.

Rio mengacak-acak rambutnya frustasi. Apa iya gue bener-bener berubah? Berubah jadi apa gue? Power ranger? HAH LUCU BANGET.

 **__**

“Hai, gue boleh gabung?” tanya Alvin pada sivia, ify, cakka dan Shilla.

Shilla mengangguk. Ify sudah menggeser tempat duduknya.

“Tumben? Ada apa lo tiba-tiba nyamperin kita? Mana, tuh, temen lo yang satunya?” tanya ify basa-basi

“Temen? Ilang. Noh di lalap sama pacarnya,” alvin mengedikkan bahu kearah Rio dan Pricilla yang ada di pojok kantin.

“jadi kamu cemburu liat mereka?” goda Shilla.

“Cemburu? Lo kira gue homo!?!?!”

“Jadi kamu mikir, aku nuduh kamu cemburuin Rio? Apa kamu emang benr-bener cemburu sama Rio?”

“Nggak! Gila gue masih normal kali.” Alvin menyambar jus strawberry yang ada di depannya

“Itu minum aku, alvin” ujar sivia kesal lalu mencubit pinggang alvin.

“eh eh aduh aduh maaf vi iya iya sori gak lagi.”

Ify tersenyum melihatnya, diam-diam, ia melihat kearah cakka dan shilla yang juga menikmati kedekatan mereka.

**__**

“Rio, kamu sudah menyelesaikan semuanya?”

“Belum, Pa.”

Zeth haling menatap garang kearah Rio. “Belum?!?! Papa sudah kasih kamu kesempatan. Nggak ada kesempatan kedua. Papa nggak mau tau, jauhi pacar kamu! Dan mulai sekarang, kamu harus antar jemput ify ke sekolah.”

“papa...”

“Nggak pake bantah! Papa udah kasih kamu kesempatan buat nyelesaiin semuanya, tapi kamu menyia-nyiakan kesempatan itu. Cuma dua tahun, rio, setelah itu, kamu bebas. Hanya buat ify jatuh cinta sama kamu, lalu ambil aset perusahaannya, dan kamu boleh menjalankan hidup kamu seperti biasanya. Kalau kamu bisa cepat, papa yakin, nggak sampe dua tahun, perusahaan papa kembali bangkit. Semuanya ada di tangan kamu, Rio.”

Rio kembali diam. Ia benar-benar bingung dengan apa yang harus ia lakukan sekarang.

**__**

Tin tin...

Ify baru saja selesai sarapan saat sebuah klakson berada tepat di depan rumah kakeknya. Samuel umari yang turun dari tangga langsung memberi kode pada ify untuk membukanya. Ify mengangguk malas, tapi tetap berjalan untuk membuka pintu.

“Pagi...” sapa Rio dari balik pintu.

Ify melongo. “Pa..pagi juga...”

“Berangkat bareng?”

“Eng...gue...naek angkot aja.”

“kok naik angkot? Sama gue aja.”

“Siapa, fy?” tanya kakeknya dari dalam.

“ehh, anu, kek... itu... Rio...”

“Rio? Suruh masuk...”

Ify memberi kode pada rio untuk mengikutinya. Kakeknya sudah duduk di ruang tamu dan membaca koran.

“Pagi, kek...”

“Pagi, Rio. Udah sarapan? Tuh, ify bikin nasi goreng.”

“Nggak, kek. Rio udah kenyang, tadi udah sarapan roti di rumah.”

“Fy, daripada nasi gorengnya mubazir, kamu bawa buat bekal gih, nanti di makan sama Rio pas istirahat.”

Damn! Si kakek nih kalo nyari kesempatan bisa aja!

Ify mendengus, lalu membereskan meja makan.

“Mau nganterin ify, ya?”

“Iya, kek. Boleh, kan?”

“sangat boleh. Kalau perlu tiap hari, ya. Biar ify ada yang jaga. Kakek, kan, udah tua. Nggak bisa terus jagain ify. Kedua orang tua ify juga lagi di luar negri. Jadi Cuma kamu harapan kakek, buat jagain ify.”

“Beres, kek. Bakal Rio jagain.”

“Ayo, berangkat.” Ujar ify jutek.

“Yaudah, kalian hati-hati ya. Rio, jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya.”

“Iya, kek. Kita berangkat dulu.” “kek, ify berangkat.” Ujar rio dan ify hampir bersamaan.

**__**

Rio dan ify melewatkan lima belas menit perjalanan dengan diam. Tak ada yang berniat memulai pembicaraan. Rio terlalu bingung, dan ify terlalu malas. Beberapa ratus meter dari sekolah, ify menoel bahu Rio.

“Gue turun disini aja.” Ujarnya sambil merapikan seragamnya.

“Kok?”

“Gue nggak mau dateng ke sekolah sama cowok yang masih berstatus pacar orang.”

Rio menepikan mobilnya. “Terus, kalo gue udah gak berstatus pacar orang, lo mau?”

Ify terdiam. Tanpa basa-basi, dia membuka pintu mobil rio.

“Fy!” rio ikut keluar dari mobil dan mengejar ify.

“apa, sih?”

“Gue Cuma sedang mematuhi perintah bokap gue, buat anter jemput lo. Karena status lo sekarang adalah tunangan gue.”

“gue bahkan lupa naruh cincin tunangan kita dimana,” sahut ify sakartis.

Rio menghela napasnya berat, “Lo nurut aja, seenggaknya nggak usah jadi pengacau. Cuma gue anter jemput doang, juga. Biar gue terbebas dari amukan bokap gue.”

“Pengacau lo bilang?!” desis ify tajam. Ia makin mempercepat langkahnya, tak mempedulikan Rio yang menyerukan namanya berkali-kali.

**__**

“Gawat! Gawat! Gue liat rio sama Ify di jalan deket sekolah!” ujar zevana pada febby.

“Rio? Ify? Ngapain?”

“Nggak tau, tapi gue lihat rio megang tangannya ify. Jangan-jangan...dia selingkuh lagi.”

“Siapa yang selingkuh?” tanya pricilla yang tiba-tiba sudah ada di bangkunya.

“eh, itu, anu...”

“Siapa?” tanyanya dingin.

“rio... aku lihat rio sama ify di jalanan deket sekolah, pegangan tangan.”

“Shit! Macem-macem dia sama gue!” geram Pricilla. “Dia harus di kasih pelajaran! Supaya gak asal serobot cowok orang aja.”

Dan sebuah ide terlintas di benak Pricilla.

**__**

“Kemarin alvin, sekarang kamu. Kenapa muka kamu kaya gitu?”

“Sebel, kesel. Gue paling nggak suka kalo di ejek. Apalagi sama cowok! Sumpah, gue pengen banget nyumpel mulutnya pake kaos kakinya sepupu gue yang gak pernah di cuci itu... erghhhh nyebelin.”

“Siapa, sih?”

“Rio! Sok banget jadi cowok. Awal-awalnya manis tapi ternyata busuk juga. Ngeseliiiiinn...”

“Rio?”

Ups. Ify menutup mulutnya, sadar, bahwa ia sudah keceplosan.

“eh, gue baru sadar. Kok akhir-akhir ini style lo berubah? Rambut sering di cepol, terus, kacamata ganti, ada perubahan yang sangat signifikan dari diri seorang Ashilla.” Ujar ify coba mengalihkan pembicaraan.

Tiba-tiba muka Shilla bersemu merah. Ify tau, semua penyebab shilla berubah karena Cakka. “Cie shilla mukanya merah, ciee shilla jatuh cinta...”

“Ify, apaan sih?”

**__**


Just the way you say hello
With one touch I can't let go
Never thought I'd fall in love with you...

“Kurang tinggi,ify. Coba kamu tinggikan lagi suara kamu. Saya yakin, kamu mampu.”

Ify mengangguk dan mulai menyanyi.

Dua jam yang lalu, sivia tiba-tiba datang ke kelasnya dan mengajaknya, juga shilla untuk keluar atas keperluan BRAV-FEST lusa. Dan ify di tunjuk sebagai opening acara, dengan grand piano putih dan lagu pembukaan berjudul Because of you. (hayo grand piano putih jangan random ya wakakaka)

Sedangkan Shilla, Sivia, Cakka, Debo dan Zevana akan ada pada satu band, BRAVESound. Band milik sekolah. Shilla sebagai gitaris bersama cakka, debo sebagai drummer, zevana sebagai bassist dan sivia sebagai vocalist.

Sedangkan alvin sedari tadi merekam jalannya latihan.

“Jadi kerjaan gue gini doang, nih? Jadi asisten kalian? Beliin kalian minum, gitu-gitu doang?” tanya Alvin kesal.

Shilla dan cakka cekikikan.

“Kalau kamu nggak mau, yaudah, aku bisa suruh anak osis lain kok, jadi sie dokumentasi.”

Alvin mendengus. “ya ya ya. Sory ketua. Hamba tidak akan protes lagi.”

Diam-diam, sivia tersenyum.

“Kok lo nunjuk gue, sih ?”

“Karena kata shilla, suara kamu bagus. kamu juga bisa main piano. Buktinya, pelajaran seni kamu selalu dapet A.”

“tau dari mana lo?”

“aku ketua osis, fy. Remember?”

“Cih, jadi ketua osis jaman sekarang suka mencuri informasi orang lain? Itu namanya ilegal.”

“Nggak kok, siapa yang mencuri? Aku Cuma melihat. Beda, ya.” Sivia terkekeh.

“Sivia..” panggil Pricilla yang tiba-tiba datang menghampiri via.

Sivia menyerngit. “ya?”

“Ini, tugas gue, bisa ganti nggak, sama tugasnya Difa? Biar gue aja yang ngurus acara. Dia ngurus promosi,”

“Ehm... gimana ya? Kemarin, kan, kamu gak ikut rapat.”

“tenang, gue bisa tanya anak-anak yang ikut rapat, kok.”

“yaudah, terserah kamu aja. Tapi konfirmasi sama difa dulu, ya.”

“yap. Udah gue bilang ke difa. Thank you.” Pricilla mengedipkan sebelah matanya ke sivia, sambil melirik ify dengan tatapan yang tak bisa terbaca.

Kali ini, lo akan bertekuk lutut di hadapan Pricilla, ify. Lo kira, gue akan diem aja, liat pacar gue lo ambil? Nggak, ify. Liat aja lusa. Gue akan bikin sebuah sejarah baru di hidup lo.


====____=====

donee! dua part nih sehari. gimana? comment jangan lupa yaaaa. hehehehe :3
@achaDG

TRAP [4]

4. Perjodohan dan Pertunangan


“Sebenarnya kamu ini dari mana saja? Lihat, kita jadi terlambat. Ini, tuh, acara penting banget, fy. Dan kamu jadi pengacau.”

Ify merengut sepanjang perjalanan. Gue pengacau? Ah, c’mon. Gue bahkan sampe rumah jam setengah tujuh! Dan mandi sepuluh menit. Dandan Cuma lima menit. Kurang cepet apa gue???

“Kalau sampai semuanya gagal, itu salah kamu. Ayo turun,” perintah kakek Samuel

“Salah gue? Enak banget tuh mulut kalo ngomong!” maki ify. Ia pun terpaksa turun dari mobil Pajero Sport milik kakeknya itu.

Sebuah restoran di bilangan Surabaya Pusat menjadi tempat acara malam hari ini. Banyak orang berjas dan berdress didalam sana. Ify mendengus. Pesta? Pesta orang tua? Apa maksud kakek pake ngajak-ngajak gue segala? Nyebelin!


“Ify, ayo!” teriak kakeknya.

“arghhh!” ify berjalan gontai memasuki restoran tersebut. Sama sekali tidak ada cewek atau cowok seumurannya. Itu adalah neraka.

“Ya, hadirin sekalian, tamu penting kita sudah datang. Pak samuel umari, silahkan maju kedepan!” ujar seorang MC.

Kakek ify pun melangkahkan kakinya keatas panggung dan mengambil microphone. “Selamat malam semuanya. Malam ini adalah malam yang sangat spesial sekali, dimana Haling Corp dan Umari Corp akan menjadi sebuah perusahaan besar. Dimana cucu saya, Alyssa saufika dan cucu Hardiyan Haling, Mario Stevano, akan mengikat cinta mereka dalam sebuah pertunangan malam ini juga.”

Ify membelalakkan mata, mulutnya melongo. Apa ia salah dengar? Cinta mereka? Mario stevano? Pertunangan? Ada apa ini?!

“PERTUNANGAN?!?!?!” pekik seseorang di seberang ify. “PAPA SAMA SEKALI NGGAK BILANG SAMA RIO SOAL INI!”

“Rio... turuti papa...”

“NGGAK! RIO NGGAK MAU DI JODOHIN. APALAGI DI TUNANGIN!”

Ify melirik cowok itu sekilas dan betapa terkejutnya ia melihat sosok Rio yang ia kenal sebagai teman alvin, juga pacar Pricilla. “Rio?” panggilnya.

Rio yang melewatinya pun terhenti. Ia memandangi ify. “Elo... alyssa saufika?”

Dengan berat, ify mengangguk.

Rio melengos, lalu duduk di pojok ruangan. Sama sekali tak berminat dengan pesta ini dan semuanya. Perjodohan. Pertunangan. Harta. HAH. PERSETAN SAMA SEMUANYA!

Zeth haling menghampiri rio, ia menghela napas berat. “Kamu nggak perlu anggap tunangan ini sebagai hal yang besar, rio. Kamu bisa anggap ini sebagai.....permainan... setelah Haling corp stabil kembali dan semuanya berjalan seperti semula, kamu boleh tinggalin perjodohan ini. Hanya sampai semuanya kembali normal.”

“Tapi... sampai kapan, pa?”

“dua tahun. Hanya dua tahun.”

“PAPA! DUA TAHUN BUKAN WAKTU YANG SEBENTAR!”

“Papa tau, tapi untuk perusahaan kita yang sudah diambang kehancuran, dua tahun adalah waktu yang paling singkat untuk mengembalikan semuanya menjadi semula. Kamu Cuma harus nurut, dan sabar sampai waktu itu tiba. Dan kamu bisa tinggalkan ini semua. Papa janji, setelah itu, kamu bebas memilih apa yang kamu ingin.”

“bebas? Apapun?”

Zeth haling mengangguk.

2 tahun? Itu artinya, dua tahun gue harus tahan pacaran sama cewek macam dia? Dua tahun gue berstatus tunangan dia? Dan... Pricilla? Gimana dengan dia? Apa yang harus gue lakuin? Menyelamatkan keluarga gue? Atau menyelamatkan hati gue?

**__**

“Kakek kenapa nggak kasih tau ify dulu, sih?”

“kalo kakek kasih tau, kamu pasti nggak mau.”

“jelas nggak mau, lah. Kakek kira ini zaman siti nurbaya, pake jodoh-jodohan segala? Ify juga bisa, kali, cari pacar sendiri.lagian, ify masih kelas dua SMA. Masih belum pantes pacaran. Pacaran tuh kalo udah lulus, udah mapan. Kenapa kakek kebelet ngasih ify jodoh aja,sih.” Sungut ify

“kedekatan kakek dengan kakek hardiyan udah sangat lama, kami berteman baik. Dan ini adalah permintaan terakhir sebelum beliau meninggal Kakek Cuma nggak mau, kalau terlalu lama kakek mengulur waktu, kamu akan menemukan pacar yang membuat kamu buta akan segalanya.”

“Tapi lihat! Rio nggak mau di jodohin sama ify, ujung-ujungnya ify juga yang malu. Lagipula, ify nggak mau di jodohin sama cowok yang udah punya pacar!”

Samuel umari menghela napas, “Kamu harus coba menerima dia, ify. Karena bertunangannya kamu dan dia, itu adalah sebuah project besar untuk Umari corp, dan Haling corp. Kita akan menjadi sebuah perusahaan besar yang nantinya akan mendunia jika melakukannya bersama-sama. Apa kamu nggak ingin membahagiakan orangtua kamu? Sekaranglah saatnya, ify. Kalau kamu sayang sama mereka, turuti perjodohan dan pertunangan ini.” Tandasnya tajam, lalu berlalu darisana.

Ify membeku di tempatnya. Membahagiakan? Dengan cara merelakan kebahagiaan gue sendiri?! Hah!

**__**

Senangnya dulu saat bersamamu...
Setiap waktu terasa indah bagiku...
Saat kau memelukku... ku makin jatuh cinta...
Takkan ku lupa rayuan cintamu...

Alvin calling...

Sivia tersenyum kecut saat mengingat bagaimana senangnya dia, dulu, empat tahun yang lalu, saat nama alvin tertera pada layar ponselnya. Sekarang? Muak.

Alvin: via, angkat please.

Sivia tak mengacuhkan sms dari alvin. Sampai tiba-tiba jendela kamarnya berbunyi.

Klotek.. klotek...

Ia mendekat, dan membuka jendelanya. Alvin sudah ada disana, di hadapannya. Sedang tersenyum padanya. Senyum yang membuat jantungnya berdetak lebih kencang daripada biasanya. Senyum yang selalu di nantikannya. Tapi senyum itu juga yang menghancurkan segalanya.

Sadar, ia memasang ekspresi sinisnya kembali.

Bahagia ku rasa... hanya sementara...
Ku terbuai cintamu...

“Ngapain kamu kesini?”

“Salah sendiri nggak respon telfon, sms, dan chatku.”

“Males.”

“Yaudah, kan mending ngomong langsung biar nggak males.”

“Makin males. Udah, kamu pulang sana. Udah malem, aku ngantuk, mau tidur.”

Alvin kembali mencekal pergelangan tangan via. “Via... maafin aku...”

“Nggak ada yang perlu di maafin.”

“Tapi aku merasa aku salah,maafin aku via, maafin aku.”

Air mata sivia mulai tak bisa di bendung lagi. ia pun meninggalkan alvin yang masih berdiri pada jendela kamarnya, dan masuk kedalam selimut tempat tidurnya. Tangannya dengan asal mengklik tombol play pada musik, dan keluarlah reff lagu Gruvi yang membuat alvin tertohok di luar sana.


Dulu kau bilang... sayang padaku...
Dulu kau bilang... ya Cuma aku...
Selalu kau bilang... kau rindu aku...
Tapi ternyata... semua itu palsu...

**__**

“Kita tetap lanjutkan acara pertunangan ini.” Tegas Hanafi Umari via telfon.

“Papa...” lirih ify.

“Ini juga buat kebaikan kita semua, fy. Sudah,lah. Turuti saja, toh, nggak merugikan kamu. Papa denger-denger, anak Haling juga ganteng, kan? Apa salahnya kalau gitu.”

“Terserah!” ify memutuskan sambungan telfon. Dia sudah benar-benar badmood malam ini.

Ketika sang MC asik berkoar-koar tentang acara pertunangan ini, badan ify bahkan hampir bergetar menahan semua emosi yang seakan-akan berbondong ingin keluar saat ini juga. Tiba-tiba sebuah tepukan tangan di pundaknya membuat ia tersadar dan menoleh.

“Rio?”

“Nggak papa, kita lanjutin aja.”

“Tapi... Pricilla?”

“Urusan gue. Yang penting malem ini, urusan disini kelar dulu. Ayo, kesana.” Ajaknya.

Ify menghela napas sekali lagi, menguatkan dirinya sendiri. “Ya,” gumamnya malas.

**__**

Pertunangan done!

Ify merebahkan dirinya di atas kasur, memandangi cincin yang sekarang tersumat di jarinya. Dia bukan lagi seorang remaja normal. Dia seorang remaja yang sudah memiliki tunangan! Bayangkan. Dia bahkan belum pernah merasakan bagaimana indahnya jatuh cinta, saat faktanya sekarang ia bahkan sudah punya tunangan.

Kenapa hidup gue serumit ini, sih?

Ify menenggelamkan mukanya ke bantal. Hari ini sangat menguras emosinya. Ingin ia berteriak kencang-kencang sekarang, tapi dia bukanlah gadis yang tidak punya etika dan sopan santun.

Shilla calling...

Ify meraba-raba kasurnya, mencari sumber getaran dari ponselnya. Lalu menyerngit ketika mendapati shilla menelfon.

“halo? Ada apa shill?”

“No, no. Im not shilla. Im cakka, fy. Fy, can you help me? Shilla pingsan dan sekarang ada di rumah sakit dekat sekolah. Can you come here please? Now?”

“Hah? Shilla di rumah sakit? Iya, iya. Gue kesana. Oke, tunggu bentar ya kka.”

“Iya, asap fy.”

Klik. Telfon di matikan.
Ify segera mendial satu nomor lagi. sivia.

**__**

“Apa? Shilla masuk rumah sakit?? Dimana, fy?”

“Rumah sakit deket sekolah, lo tau kan?”

“Iya, rumah aku deket kok dari situ. Aku kesana duluan ya,”

“oke, kayanya parah banget sampe cakka panik.”

“sepertinya kita utang penjelasan sama dua anak itu, hahaha. Oke fy aku siap-siap dulu. Bye.”

Setelah memakai sweeter kebesarannya, bergambar Liverpool, ia segera memakai sepatu sneakersnya dan berpamitan pada mamanya. Dan melesat keluar.

“Mau kemana kamu?”

Sivia terjengat kebelakang. “alvin? Ngapain masih disini?”

“Nggak tau, masih pengen aja. Kamu mau kemana?”


“Rumah sakit, shilla pingsan.”

“Ah, aku anterin ya?”

Sivia menimbang-nimbang. Ia harus sesegera mungkin berada di rumah sakit. Dengan terpaksa ia mengangguk. Sedetik kemudian, tangannya sudah ada dalam genggaman alvin yang menuntunnya menuju motor alvin yang terparkir di sebelah rumah sivia.

**__**

“Dia sudah tidak apa-apa, Cuma kekurangan darah saja. Dia punya anemia, dan berdiri di jalan selama berjam-jam, ayolah, itu sangat menyita tenaganya. Kamu jangan bikin dia menunggu lagi, ya.”

“Hah? Maksudnya, dok?”

“Kamu pacarnya, kan? Pasti dia nungguin kamu, nih, sampe pingsan gini.”

Cakka speechless. Ia hanya tersenyum kikuk dan mengucapkan  terimakasih kepada dokter wanita yang baru saja memeriksa shilla.

“Errhh, aku...dimana?”

“Hospital..” cakka mendekati shilla. “Kamu pingsan. Lagi ngapain, sih, berdiri di jalan dingin gitu tanpa pake jaket?”

“Aku... Cuma nungguin nasi goreng lewat, kka.”

“Astaga, kenapa nggak telfon aja? My house is near from your house. You can ask me to buy fried rice. Kamu sendirian dirumah, kalo aku nggak jalan-jalan tadi, mungkin kamu pingsan disana sampe pagi.”

“Sorry, abis udah kelaperan tingkat dewa. Hehehe” Shilla tertawa garing.

“Shilla!!!” panggil Sivia heboh di ambang pintu. Cakka dan shilla menoleh. “Kamu kenapa? Ada yang luka? Kok bisa pingsan, sih? Lihat hantu? Ah, mana mungkin kalo hantunya secakep cakka.”

Shilla melongo. “Sivia!” tegurnya.

Sivia cengengesan.

Alvin menyipit melihat cakka. Nih cowok deketin sivia, tapi juga deketin shilla? Sok playboy ato gimana, sih?!?!

“Kok sama alvin, vi?”

“Oh.. iya.. itu.. ehm..”

“Abis ngerjain tugas osis bareng di rumah gue.” Jawab alvin singkat, dengan pandangan sinis tak lepas dari cakka.

“Gitu... oiya, aku cakka. Exchange student dari singapura.”

“Alvin.” Ujarnya sambil melengos.

Sivia menyipit melihat gelagat alvin yang aneh. Tapi hendak ia bertanya, ify datang dengan napas terengah-engah. “Kaya abis di kejar setan aja, lo.”

“loh...nggakh...tau...tadhi...ghueeh..suruhh..bhaphak..thankshi..nyahh..ngebhuthh...”

“Fy, minum dulu...”Cakka menyodorkan sebotol air mineral pada ify.

“Makhashih...kkha....”

Tuh! Abis sama sivia, terus shilla, sekarang sama ify. Maksud nih cowok apa coba? Mau gaet tiga-tiganya sekaligus? Alvin makin meneliti sosok cakka dari atas sampai bawah.

“eh, ada lo juga vin. Ngapain lo disini?”

“ah.. gue nganterin sivia..”

Ify berdehem. “Lo berempat utang penjelasan sama gue.”

“Utang penjelasan apa, fy?” tanya alvin bingung.

“kenapa kalian bisa....bercouple-couple gini?”

Sivia berdehem. “aku sama alvin abis ngerjain tugas osis, fy.”

“cakka nggak sengaja lewat depan rumah aku, pas aku udah pingsan.” Jelas shilla

Ify tertawa geli melihat ekspresi keempat temannya. “Kaya ketauan maling aja lo berempat.”

“Apaan sih.” Alvin mendorong bahu ify.

Ify masih tertawa. “Cinta lokasi mulai bersemi.” Ujarnya pelan tapi membuat keempat pasang mata melihat tajam kearahnya.

“IFYYY!!!!!”

**__**


TRAP [3]

3. Bangkrutnya Haling


Shilla mendengus, tangannya terasa kram karena sudah hampir satu jam lamanya ia mencatat materi sejarah yang seakan-akan tak ada ujungnya. Ify bahkan berkali-kali menguap karena mulai mengantuk dan bosan dengan kesunyian di kelas. Bu Ira, guru sejarah sedang marah, pasalnya minggu kemarin, separuh murid di kelas ini tidak mengejarkan PR. Dan kekesalannya ia luapkan dengan bungkam selama pelajaran dan mencatat tanpa henti.

“sampai kapan nih guru diem?” keluh Ify frustasi.

“sampe bel istirahat bunyi, Fy.” Shilla terkekeh.

“Gawat juga kalo tiap ngambek dia kaya gini. Bisa memutus syaraf tangan ini, mah.”

“Paling bentar lagi selesai, udah mau istirahat, nih.”

“Minggu depan, kita ulangan. Pelajari semua yang sudah ibu tuliskan hari ini.” Ujar bu Ira dingin, dan berlalu dari sana, beriringan dengan suara bel istirahat yang menggema di seluruh ruangan kelas.

“Akhirnyaaa!!!!” lega Ify

“Ke kantin?” tawar shilla. Ify mengangguk.

**__**

“ini...kan...prokernya dayat? Kenapa musti kita yang ngerjain, sih?” Alvin berdecak kesal.

“siapa lagi anak osis yang bisa di andalin? Pricilla? Zevana? Mereka nggak mungkin. Difa? Oik? Oca? Cahya? Itu juga gak mungkin. Cuma kita, senior, yang paling ngerti soal ini. Lagian, kan, kamu tau sendiri dayat, tuh, sibuknya kaya gimana.”

“Tapi ini tanggung jawab dia, program kerja dia, Cuma gara-garra dia, kita yang kena imbasnya. Kita yang repot. Kita yang nanggung,”

“Kalo kamu nggak mau yaudah, nggak apa-apa. Aku kerjain sendiri.” Tegas Sivia yang lalu beranjak dari ruang Osis.

“loh? Loh? Via!” alvin berlari mengejar Sivia.


“Darimana, via?” tanya Cakka yang tak sengaja melihat Sivia terburu-buru berjalan di koridor.

“dari ruang osis. After meeting,”

Cakka meng O kan mulutnya. “I wanna go to canteen. Do you want join with me?

“Boleh. Wait for minute, aku mau kembaliin ini dulu.”

“Nggak usah, i bring that for you, come here.” Cakka meraih kertas-kertas dan sebuah buku yang sangat tebal yang sedang di bawa Sivia. Sivia terkekeh saja,

“Thankyou, Mr. Cakka.”

“Youre welcome, Mrs. Sivia.”

Alvin mengepalkan tangannya pada dinding kuat-kuat. Melihat peristiwa yang baru saja terjadi di hadapannya tersebut membuat hatinya teremas-remas.

“Jadi... ini yang di namain cemburu?” Alvin tertawa sinis, pada dirinya sendiri.

**__**

Ify memandangi Shilla yang sibuk dengan ikat rambutnya. “Ribet amat, sih, gitu doang?”

“Tau, nih. Kayanya aku musti potong rambut. Gimana kalo nanti pulang sekolah kita ke mall? Mau potong, udah gerah.”

“Oke, terserah. Tapi temenin gue hunting novel di gramed, ya”

“Siap, boss.”

“Hai, berdua aja? Aku sama cakka boleh gabung, kan?” tanya Sivia yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapan mereka bersama Cakka.

“Boleh, tentu aja. Silahkan, silahkan.” Shilla merapatkan duduknya pada Ify. Cakka masuk dan duduk di sebelah Shilla. Mau tak mau membuat semburat merah jambu mekar di wajah putih Shilla.

“Mau pesen apa?” tanya Sivia.

“Nitip somay, ya, mba.” Ujar ify sambil tertawa

“Yeee, oke. Kamu apa, shill? Kka?”

“bakso aja,” jawab keduanya bersamaan.

“Cie, bisa kompakan gitu. Minumnya?”

“Lemon tea”

Ify dan sivia membulatkan matanya, mendengar jawaban dari Shilla dan Cakka yang lagi-lagi sama.

“oke, oke, kalau emang udah ada chemistry-nya, sih, emang nggak di ragukan, hahaha. Tungguin bentar ya, aku pesen dulu.” Sivia langsung beranjak darisana.

“Gimana disini? Enak?” tanya Ify membuka pembicaraan

“Not bad, kok. Standartnya sama, like my singapore’s school. Pelajarannya, guru-gurunya, anak-anaknya, they was fun, kind.”

“Nggak kefikiran buat terus stay di Indonesia?” tanya Shilla

I think...not for now. I mean, suatu saat, ada harapan untuk stay di Surabaya, di Indonesia, remember i still have javanesse blood in my body.

“Kamu orang jawa?”

My father was born in Jogjakarta, my brother too. Aku lahir di Singapore, besar disana. Dan baru berkesempatan mengunjungi indonesia sekarang, hanya untuk dua bulan. Exchange student. I will finishing my study first, and i promise i will back soon to Indonesia.”

Ify tersenyum jahil, “buat siapa lo berjanji?” ujarnya sambil melirik Shilla

Cakka tersenyum, “buat siapa saja yang menagih janji kepadaku,”

Muka shilla merah padam. Kedatangan Sivia menyelamatkan Shilla dari rentetan introgasi ify.

“Sayang, kamu tau, kan hari ini, tuh, hari ulang tahun adek aku, Lydia. Kok kamu nggak bisa dateng, sih? Aku, kan, mau ngenalin kamu ke orang tua aku.” Kesal Pricilla.

“Maaf, Priss. Aku bener-bener nggak bisa. Ada sebuah acara keluarga yang harus aku datengi. Kalo aku nggak dateng, aku nggak menjamin tetep bisa make mobil ke sekolah. Bisa anter jemput kamu lagi. karena papa aku ngancem kaya gitu, sayang.”

Mata ify menyipit mendengar pembicaraan yang ada di depannya. Sivia yang tau arah tatapan ify pun hanya mengangkat bahunya, tak acuh. “Mereka pacaran. Dan... freak. Aku jijik sendiri ngelihat mereka berdua kalo udah pacaran. Rio yang biasanya aku lihat cool, keren, pendiem, bisa 180 derajat beda kalo ada di depan cewek itu. Hih.” Sivia bergidik ngeri.

“mereka pacaran? Gue baru tau, si nenek sihir satu itu ada yang mau juga.”

“Jangan salah, fy. Rio, tuh, cinta mati banget sama dia. Dia selalu ada di samping Pricilla. So sweet gila. Rio yang prefeksionis, bisa pacaran sama anak manja yang Cuma suka ngesok di depan anak-anak. Dunia memang aneh,” Komentar Shilla.

“Kalian lagi ngomongin apa?” tanya cakka yang tidak mengerti.

“Tuh, mereka. Sepasang mahluk aneh yang lagi pacaran di depan kita. Udah, ah, daripada ngeliatin mereka mending makan aja. Nggak bikin kenyang juga ngeliatin mereka.” Sivia kembali melahap mangkuk soto yang ada di hadapannya. Diikuti Shilla dan Cakka. Fikiran ify masih melayang-layang.

Sedikit aneh. Tapi..... ah, sudahlah.

**__**


“Kamu yakin, kka, mau ikut?” tanya Shilla tak yakin.

of course. Seminggu aku disini, aku belum sempat jalan-jalan. I heard from sivia, if you both will go to plaza. Can i join with you?”

“Boleh-boleh aja, sih, tapi kita naik angkot, loh.” Ujar Ify tak enak.

“Nggak usah, pake mobil aku aja. Ada di parkiran. Yuk.” Cakka berjalan mendahului ify dan shilla.

**___**

Hati alvin terasa tak tenang. Ia merasa sangat bersalah kepada Sivia, apalagi sivia selalu mengabaikan panggilan telefon, chat, dan smsnya. Rasa bersalahnya makin menumpuk, saat mengetahui tugas yang kemarin di serahkan Bu Risa padanya dan Sivia sudah terselesaikan atas kerja keras Sivia sendiri.

Ia tau, hari ini sivia ada di ruang osis, mengecek proposal yang di buat oleh osis junior mereka untuk acara BRAV-FEST minggu depan. Ia pasti sangat sibuk, dan sebagai wakil ketua osis, ia merasa gagal.

Alvin melangkah masuk, melihat sivia membelakanginya dengan rambut di cepol, gaya khas sivia kalau sedang berkonsentrasi. Alvin tersenyum sendiri. Lalu duduk di sampingnya. “Perlu saya bantu, ketua?”

Sivia terjengat ke belakang kalau alvin tak memegangi kursi sivia. “alvin...ngagetin aja.” Responnya.

“Maaf... aku kesini mau minta maaf soal kemarin. Bukannya aku nggak mau ngerjain tapi−“

“nggak papa. Tugasnya udah selesai, udah aku kasih ke bu Risa. Udah beres, kok. Nggak perlu di fikirin.”

“Bukan gitu, via... aku...”

“Udah, lah, vin. Nggak usah di perpanjang.”

“Sekali lagi maafin aku, ya, vi. Aku emang egois. Dari dulu−“

“Nggak usah bahas-bahas yang dulu.” Desis sivia tajam, “Aku udah berusaha bersikap profesinal ke kamu, selama dua tahun. Asal kamu tau aja. Itu semua nggak gampang, perlu proses yang panjang. Jangan pernah ngebahas yang udah lewat. Karena masalalu, ya masalalu. Nggak perlu untuk di ungkit-ungkit lagi.” Sivia bangkit dari sana, lalu menyambar tasnya.

“via,” Alvin mencekal pergelangan tangan Sivia.

“aku cinta kamu. Seharusnya kalimat ini yang keluar empat tahun yang lalu. Aku...cinta...kamu...”

“Lepasin, vin.” Alvin menurut. Ia melepaskan cekalan tangannya. Dan sedetik kemudian, sivia sudah tak ada disana. Ia sudah berlari.

“bego lo vin... lo bego vin bego..” maki alvin pada dirinya sendiri.

**__**

“Mau potong model gimana mbak?”

“Potong pendek aja, kaya ini nih,” Shilla menunjuk salah satu foto yang ada di hadapannya.

“Kamu mau potong sependek itu?” kaget cakka.

“Apaan? Cuma sebahu, kok. Nggak pendek-pendek banget.”

“Iya, mas. Cuma sebahu. Rambutnya kalo kepanjangan jelek, keliatan nggak fresh.” Ujar mbak-mbak pemotong rmabut(?)

“Udah, kka. Bagus, kok kalo pendek. Gaya baru seorang shilla gitu itung-itung.” Ujar ify sambil terkekeh.

“whatever. Kalau jadinya jelek awas, ya, mbak.”

“kok jadi dia, sih, yang sensi? Pacarnya, ya mbak?” bisik mbak-mbak pada shilla.

Shilla terkejut, sedetik kemudian ia tertawa. “Nggak, mbak. Baru juga kenal beberapa hari.”

“Oh, kirain pacarnya. Cocok, sih, mbak, sama mbak.”

“Ah, bisa aja.” Shilla melirik ke arah cakka diam-diam. Apa iya, aku sama Cakka cocok kalo pacaran?

“Kenapa lo shill senyum-senyum geje gitu?”

“hah? Nggak, nggak papa.” Jangan berhayal ketnggian, shill. Inget, kamu tuh siapa. Cuma anak orang miskin yang nggak pantes bergaul sama mereka. Kamu harus sadar derajat.

Shilla menghembuskan napas, panjang.

**__**


“Perusahaan papa ada di ujung tanduk, Rio. Kalau kita nggak cepet-cepet cari jalan keluar, kita akan benar-benar jadi gembel. Apa kamu mau, tidur di emperan jalan?!?! Haling corp berdiri atas jerih payah papa bertahun-tahun, papa sudah mempertahankannya mati-matian. Tapi semuanya di perburuk dengan masalah penipuan klien dan korupsi manager papa. Perusahaan benar-benar akan hancur.”

Rio terdiam.

“Jalan satu-satunya ya dengan perjodohan kamu! Nggak usah nolak, kalau kamu nolak, papa bener-bener jamin setelah ini, kita akan tidur di kolong jembatan!” Zeth haling meninggalkan Rio di ruang kerjanya.

Rio bingung, frustasi. Mendengar kabar dari mamanya bahwa dia akan di jodohkan dengan relasi bisnis ayahnya yang akan membantu kesuksesan bisnis keluarganya yang sempat tersendat karena krisis moneter perusahaan beberapa waktu yang lalu.

“kenapa harus rio, sih? Ada kak marzel. Kenapa rio? Kenapa?”

“karena papa sayang sama rio. Papa mau rio bahagia. Kak marzel udah bahagia, dengan pilihannya sendiri, meninggalkan kita. Papa nggak ingin, kamu juga meninggalkan mama dan papa seperti kakak kamu. Kami ingin kamu bahagia bersama kami, Rio.”

“Tapi nggak kaya gini caranya, ma. Rio udah punya pacar. Orang yang sangat rio cintai. Rio nggak bisa ninggalin dia.”

“Bantulah papa kamu mempertahankan perusahaannya yang ia bangun atas kerja kerasnya, rio. Apa kamu tidak ingin mempertahankan semuanya? Kesuksesan papa kamu, kebahagiaan kita, semuanya. Itu tak ternilai harganya. Mama dan papa nggak pernah minta apa-apa sama kamu. Jadi, kali ini saja, turuti papa. Maaf, mama nggak bisa bantu banyak. Karena mama setuju dengan ide papa kali ini.”

“Mama!” teriak rio frustasi.

**__**

“cari novel apa, sih, fy? Lama bener. Udah jam 5 sore, nih.”

“Bentar, kalo kalian mau balik dulu nggak papa, rumah gue deket, kok dari sini. Gue bisa pulang sendiri.”

“Nggak, ah. Kamu kan perempuan, aku nggak akan ninggalin kamu buat pulang sendirian” sahut cakka

“yaudah, kalian tunggu aja. Ke foodcourt kek ato kemana gitu. Gue masih lama soalnya.”

“hmm yaudah, kita ke foodcourt aja, yuk, shill? Aku kurang suka di toko buku.”

“Oh, mm iya deh. Gak apa-apa, kan, kalo aku tinggal?”

“nggak papa asal nggak di tinggal pulang.”

“Oke, paling lambat jam 6 sore udah harus selesai. Aku tunggu di foodcourt!”

“Siap boss!”

Ify kembali menjelajahi rak demi rak buku, dan  terpaku saat buku yang selama ini diincarnya sudah bertengger manis disana.

“L’s bravo viewtiful!” pekiknya senang. Tapi, ketika ia akan mengambilnya, seorang cowok berpostur tinggi mengambil buku tersebut.

“yah... padahal itu satu-satunya,” sedih ify.

“Kamu mau ini?”

Mata ify berbinar saat cowok itu menyodorkan buku yang ia incar di hadapannya.

“Nih, buat kamu aja. Aku bukan penggemar kpop, aku Cuma penasaran sama buku fotografi. Ini buku fotografi kan?”

ify mengangguk. “Bener nih buat aku?”

“Iya, lagian buku fotografi masih banyak disana.”

“Ya ampun mas, makasih banget ya makasih. “

“Iya, sama-sama.”

Cowok itu pun pergi darisana. Ify bersyukur dan mulai menjerit-jerit histeris. Tapi sebuah telefon menyadarkannya dari kegilaan yang sedang berlangsung.

“Halo?”

“kamu dimana?”

“ify di toko buku, kek.”

“kakek kan sudah bilang, kosongkan jadwalmu hari ini! Kamu lupa, hari ini kamu ada acara sama kakek?”

“astaga! Ify lupa! Maaf, kek, abis ini ify pulang..”

“cepetan. Sebelum jam 7, kamu udah harus sampe sini.”

“Iya kek.”

Mampus. Suara kakek udah menggelegar begitu. Bisa-bisa sampe rumah gue di makan nih. Wah gawat.

**__**


hai part 3nya selesai , makin gak jelas aja perasaan =_='
haha tinggalkan comment. sudah di tag ya :3