24 Juli 2013

TRAP [8]

8. Konser Kpop dan Dia.

“Untuk merayakan keberhasilan kita, walaupun openingnya nggak sesuai harapan.” Sivia terkekeh sambil membagikan somay kepada Ify, Cakka, Shilla, dan Alvin.

“Bu ketua baik banget, deh. Bangga banget punya ketua osis seperti anda.” Ujar alvin dramatis.

Sivia hanya menjitak kepala alvin dan kembali kepada sifat dinginnya. Alvin mendengus pasrah.

“Aku dapet tiket nonton Infinite World Tour , One Great Step hari Kamis besok. Tapi hari itu aku ada acara di Bandung. Ada yang mau gantiin?” Ujar Shilla sambil mengacungkan sebuah tiket gold.

“Aku nggak suka sama korea-korea gitu.” Jawab Sivia.

“Shill....lo gak lagi bercanda kan? Infinite world tour... di surabaya... serius?”

Shilla mengangguk. “Kalo mau,kamu bisa gantiin aku dateng ke konser itu. Lagian, aku juga nggak terlalu suka infinite, sih.”

“ASTAGA MAU BANGET SHILL MAU BANGET! Itu standing VIP?!?!”

“Iya. Nih, buat kamu.”

“Makasih shilla makasih makasih lo emang sahabat gue yang paaaling baik aaaa”

“Udah mulai gilanya deh,”alvin geleng-geleng.

“Ada acara apa di bandung, shill?”

“ehm, ada acara sama keluarga besar aku, kka.”

“Berapa lama?”

“Duh ilaaaah, belum juga di tinggal udah ada bau-bau kangen aja.” Cibir alvin yang sukses membuat cakka dan shilla salah tingkah.

**__**

“Pricilla bener-bener keluar dari sekolah ini?” bisik Dea pada Fatin.

“Yaiyalah, bayangin aja kalo kamu jadi dia, terus kebohongan kamu di ungkap disebuah festival besar sekolah. Sama pacar sendiri, lagi.”

“HEH!ngomong apa kalian barusan?!” bentak Febby didepan Dea dan Fatin.

Dea tersenyum sinis, “Kamu fikir, kita takut sama kamu? Setelah semua kebenaran terungkap, nggak ada alasan lagi buat takut sama kamu.pricilla, ataupun zevana. Kaliann kira kalian siapa? Genk anak pemilik sekolah? HAHAHA lucu. Bohong kok di pelihara.”

“Jaga ya omongan kamu!”

“Udah,febb, udah. Yang kaya gini nggak usah di ladenin.” Ujar Zevana menengahi.

“Tapi dia jelek-jelekin prissy didepan kita. Apa kita mau diem aja?! Prissy sahabat kita,ze! Apapun yg terjadi, dia tetap sahabat kita. Kita udah sahabatan sejak SMP. Cuma gara-gara ini, kita pecah? Gak. Gak bisa.”

“Wow. Betapa mengharukannya kisah persahabatan kalian.” Acha geleng-geleng kepala sok kagum.

“Ya, keren banget. Terharu dengernya.”

Seluruh kelas pun tertawa. Febby dan zevana menatap mereka semua penuh kebencian.

**__**

“Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif...”

“AARRGGHHH please aktifin hape lo priss... gue salah... maaf...” ujar Rio kalut.

“Menyesal sama apa yang kamu lakuin?” sinis febby tepat di sebelah Rio.

Rio menoleh kearahnya, sedetik kemudian ia melengos.

“Kamu jahat,mario. Cowok macam apa kamu ini? Katanya sayang. Cihh. Basi tau nggak.”

“Gak usah ikut campur urusan gue.”

“urusan kamu? Prissy sahabat kita!” bela Zevana. “Kamu kira kita gak hancur liat dia kaya gitu? Kamu nggak tau, gimana sayangnya pricilla ke kamu. Dan kamu hianatin dia, dengan tunangan sama cewek lain, sekaligus mempermalukan prissy di depan umum. Kamu loser.”

“Gue...”

“Aku gak akan ngizinin, sahabatku, prissy, punya pacar loser kaya kamu! Pengecut! Penghianat! Norak! Yuk,ze, cabut.”

Setelah kepergian zevana dan febby, rio membanting ponselnya kelantai. “KENAPA SEMUANYA KAYA GINI SIH?!?! Sialan!”

**__**

“Makasih.”

“sama-sama. Gue langsung pulang.” Ujar rio dingin.

Ify mengangguk. Lalu keluar dari mobil Rio.

Sejak kejadian kemarin, rio makin ngotot untuk mengantar jemput ify. Bahkan akhir-akhir ini rio selalu bergabung dengan Ify cs saat istirahat. Walaupun semuanya sadar, jiwa rio seperti tidak ada di dalam tubuh rio.

“maaf, yo.”

“Buat apa?”

“Kejadian kemarin. Prissy. Gara-gara gue...”

“itu salah dia sendiri. Gak akan ada abu kalo gak ada api. Lo gak usah khawatirin itu.”

“Gue tau lo sayang banget sama dia, yo. Sekesel apapun gue sama prissy, sejahat apapun dia sama gue, gue tetep merasa bersalah sama dia.”

“Nggak usah di bahas. Gue balik dulu.”

Ify mengangguk. Mobil  rio pun beranjak pergi dari rumah kakeknya.

“Kasian juga gue ngeliat Rio jadi murung gitu abis gak ada pricilla. Tapi...tunggu. apa peduli gue? Ngapain gue peduli sama mereka? Kayanya otak lo udah kegeser deh fy.” Ify bergidik ngeri dan segera masuk ke dalam kamarnya.

**__**

“Tiket, udah. Kamera, udah. Handphone, udah. Apalagi ya?” ify mengecek tasnya. “Udah nggak ada lagi. baiklah, malam ini, gue siap ketemu lo, Myungsoo Oppa.” Ujarnya tak karuan.

Setelah sampai di ballroom SSCC,jantung ify makin berdetak tak karuan. Mengingat selangkah lagi ia bisa melihat idolanya, yang jauh-jauh datang dari Korea. Teriakan disana-sini, menyebut nama biasnya masing-masing. Ify masih di tempatnya, mengantre untuk masuk kedalam venue.

Setelah bersabar mengantre selama setengah jam, ia berhasil juga masuk kedalam venue yang sudah di padati hampir ratusan orang tersebut. Setelah mengambil tempat yang pas, ia mulai mengeluarkan kamera pocketnya.

“Hai, boleh geser dikit nggak?”  ujar suara berat yang mau tak mau membuat ify mendongak.

“Eh? Iya..”

“Lo yang di toko buku itu kan? Terus yang kemaren jatuh di BRAV-FEST itu?”

Ify menyerngit, “kok lo bisa tau?”

“Gue Tristan...” ujarnya memperkenalkan diri.

“Gue ify. Waw, lo nonton konser kpop? Fanboy?”

Tristan menggeleng cepat. “Bukan. Gue lagi ngeliput acara ini aja, kok”

“Kalo fanboy ngaku aja kali mas, disini banyak fanboy juga, kok.” Ify terkekeh melihat ekspresi gugup dari Tristan.

Tristan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, “Ya... sebenernya emang lagi ngeliput... tapi juga suka sama mereka, sih” ujarnya sambil meringis.

Ify tertawa. “Nggak perlu gengsi... jadi fanboy kan nggak dosa.”

Ketika Tristan hendak menjawab, musik di dalam venue mulai berdentum. Teriakan histeris dimana-mana. Sebagian orang di standing vip ini melompat girang ketika member infinite satu persatu mulai memasuki venue.

“Sunggyu oppa!!!”

“Woohyun oppa!!”

“AAAA Hoya oppaaaa...”

“Dongwoo oppaaaa...”

“Sungjoong!! Sungyeol!!!”

Dan teriakan paling keras jatuh pada sosok ganteng yang memasuki venue paling akhir. “KIM MYUNGSOO!!!!”

Ify histeris sendiri melihat idolanya mulai memamerkan senyum khasnya. Hingga tanpa sadar, jaraknya dengan Tristan hanyalah satu jengkal jari saja. Tristan yang awalnya jaim pun mulai mengikuti seruan para gadis disekelilingnya.

Ify terkekeh diam-diam melihat ekspresi Tristan yang berbinar. Ntah mengapa, ia ingin waktu berhenti sekarang juga. Ketika jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ketika ia melihat Tristan tersenyum.

Seperti lagu pembuka yang dinyanyikan infinite, 60 seconds. Ya,60 detik waktu yang di perlukan untuk menyukai seseorang.

**__**

“Kamu bikin keributan apa kemarin?” tanya zeth haling ketika Rio duduk di meja makan.

“Nggak ada apa-apa, pa.”

“Papa denger. Aksi kamu buat membela putri keluarga umari kemarin benar-benar membuat semua orang takjub. Papa bangga, kamu melaksanakan tugas kamu dengan baik.”

Rio menghela napasnya. Tetap diam.

“Kamu harus berhasil bikin dia jatuh cinta sama kamu. Cuma kamu harapan keluarga ini. Perusahaan haling. Kalo kamu memang sayang sama keluarga kamu, kamu harus ngelakuin apa yang papa suruh.”

“ya, pa.” Balas Rio malas.

“Terus, gimana? Kamu sama pacar kamu udah putus?”

Rio tersedak mendengarnya, “Udah, pa.”

“Oke... bagus.”

Tiba-tiba, selera makan Rio menghilang.

**__**

“Konsernya seru banget. Nggak nyangka bisa ngelihat langsung member-member infinite. Aaaaa myungsoo oppa... kalo aja ada fanmeetingnya. Gue bawa deh buku nya myungppa, terus minta sign.”

Tristan terkekeh. “Yang seru, tuh, karena konser ini, gue bisa ketemu lagi sama lo.”

Ify yang sedang minum pun langsung menoleh kearah Tristan. “Maksud...lo?”

“Gue seneng bisa ketemu lagi sama lo. Tau nggak, di awal pertemuan kita, gue udah suka sama lo. Tapi gue berusaha nggak nyari informasi apa-apa dari lo, karena gue yakin, kalo emang jodoh, kita bakal ketemu lagi...” tristan tersenyum. “...terus, kita ketemu di BRAV-FEST.awalnya gue gak yakin itu lo. Tapi setelah gue perhatiin. Ternyata itu bener-bener lo. Sayangnya lo lagi kacau banget hari itu, right?”

Ify mengangguk. “Ya, gitudeh.”

“Dan ternyata... kita ketemu lagi disini. Apa kita bener-bener jodoh, ya?”

“percaya aja sama jodoh. Masih kecil juga. Masih SMA. Mana mungkin jodoh dateng secepet itu?” ujar ify berusaha melawak, menghilangkan rasa saltingnya.

“Nggak ada salahnya kalo kita percaya sama jodoh. Buktinya, tiga kali kita ketemu  tanpa sengaja.”

Tiba-tiba ponsel ify berbunyi.

“Halo , kek?”

“Kamu ini dimana, sih? Udah jam 12 malem. Kok belum pulang. Keluyuran kemana kamu. Hah?”

“Eee...ify lagi sama rio, kek.”

“Bener sama rio?”

“Iya.. udah, lah. Abis ini ify pulang. “

“awas aja kalo kamu bohong. Kalo sampe kamu pulang nggak sama rio, nggak ada uang jajan selama seminggu!”

“lah... yah kakek.. iya iya.. ify pulang sekarang.”

Ify memutuskan sambungan telfonnya. Lalu mendengus kesal.

“kenapa fy?”

“Eh, itu...kakek gue udah nyariin...”

“mau gue anter pulang?”

“Nggak.. nggak usah. Gue pulang sama sepupu gue aja...”

“bener nggak usah?”

Ify mengangguk.

“Yaudah, gue tunggu sampe sepupu lo jemput ya?”

“Makasih tris...”

Dengan gerakan kilat, ify segera mengetik SMS ke rio. Berharap rio belum tidur dan bersedia untuk menjemputnya.

**__**

Ify : Bs tlg jemput gue ga? Gue di SSCC. Gue gak boleh pulang kl gak sama lo. Please ya lo jemput gue.

Rio melotot. Lalu melihat kearah jam dindingnya. “Tuh cewek gila? Jam dua belas malem? Dan masih kelayapan?! Astaga!!” Rio segera menyambar jaketnya dan mengambil kunci mobilnya.

“Kamu mau kemana??” tanya zeth haling di ruang tamu.

“Mau jemput ify, pa.”

“Malem malem gini?”

“Iya, dia minta di jemput. Yaudah, rio duluan ya pa.”

“Abis anter ify langsung pulang...”

Rio hanya mengangguk dan beranjak dari sana.

**__**

Mobil rio memasuki pelataran parkir SSCC, lalu ia mengklakson mobinya saat melihat ify duduk tak jauh dari mobilnya berjalan. Tapi ...tunggu... sama cowok?

“;Itu sepupu gue udah jemput... makasih udah nemenin gue, ya.”

“Sama-sama...”

“kalo gitu... gue duluan...” ify tersenyum dan melambaikan tangannya.

“Tunggu!”

Ify berbalik. Tiba-tiba tristan mendekatinya dan memberikan ponselnya pada ify. “Boleh minta nomor hape lo?”

Ify terkekeh. “Boleh.” Setelah mengetikkan sederet nomor yang ia hafal di luar kepala, ia pun beranjak pergi darisana.


========


maaf belum sempet tag lagi. numpang on bentar soalnya hehehe.
comment jangan lupaaaa. kalomisal ceritanya tambah ancur boleh di kritik kok(?)
makasihhhh

TRAP [7]

7. BRAV-FEST

Ify sudah bersiap di luar aulaputih,dibantu Difa,ia berjalan menuju panggung. Dimana sebuah grand piano putih telah menantinya. Di ujung sana, Pricilla tersenyum sinis menantikan sejarah hidup baru ify akan di mulai. Sebentar lagi...

Ify melenggang santai menuju grandpiano putihnya,semua orang tertuju kepada kecantikan ify,yang siang itu menggunakan sebuah dress berwarna putih(?) dengan makeup natural yang makin menambah kesan anggun pada penampilannya. Ia mulai bersiap untuk duduk...tapi...

Krekk.. kratak...
BRAKKK...

Ify terjengat kebelakang, kursi yang ia duduki patah jadi dua, semua orang yang ada disana terheran-heran. Bahkan dengan gerakan reflek, Rio sudah ada diatas panggung, membantu Ify untuk bangun.

“Rio? Ngapain?” semua orang bertanya-tanya melihat rio yang dengan sigap membantu ify berdiri dan merapikan dressnya. Ify yang masih linglung hanya diam saja dengan perlakuan Rio.

“Apa-apaan sih?!?!” Pricilla mendatangi Rio dan ify yang ada dipanggung, lalu menarik tangan Rio.

“Kamu ini apa-apaan? Kenapa nolongin dia, sih?” protes pricilla tak terima.

“Dia lagi kena musibah, apa salah gue bantuin dia?”

“Kok jadi gue-elo sih ngomongnya?!?! Lo suka, sama ify?!”

Najis! Nih cewek satu norak banget, sih. Nggak sadar, apa, diliatin orang-orang. Hih. Ify bergidik ngeri melihat Pricilla dan Rio yang ada di tengah panggung, sedangkan dia sudah bersembunyi di samping stage, dibantu Sivia dan Alvin.

“Rio jangan diem! Jawab gue!” desak Pricilla sambil menarik lengan Rio.

“Gue sama ify udah tunangan! Puas, lo?!”

Sontak, semua orang yang mendengar ucapan Rio sibuk berkasak-kusuk. Ify yang mendengar itu pun langsung berlari menjauh darisana. Berulang kali Rio, Sivia, Alvin meneriakkan namanya. Tapi ify tetap berlari.

Gue berasa ingin lenyap! selamany−“AWWW!”

Ify terjatuh, wegdes yang ia pakai tidak seimbang. Lututnya lecet terantuk tanah kasar lapangan.

“Nggak apa-apa?” tanya seseorang sambil membantu ify berdiri.

“Nggak.. makasih.” Ujar ify lalu beranjak darisana.

Cowok yang menolong ify itu hanya mengangkat bahunya, tak peduli.

**__**

“Tunangan?? Maksud lo apa??” suara Pricilla makin meninggi.

“Ya, gue tunangan. Sama ify, pemilik sekolah ini.”

Terdengar suara ‘oh’ dan ‘wow’ dimana-mana. Telinga Pricilla panas, emosinya makin meledak.

“Pemilik sekolah ini gue, bukan Ify!”

“berhentilah sama obsesi lo, Priss. Terima kenyataan, kalo lo bukan anak pemilik yayasan, anak pemilik sekolah. Lo ya pricilla, bukan siapa-siapa.” Desis Rio tajam

Pricilla terdiam di tempatnya. Semua orang kini menatap Pricilla dengan ekspresi jijik, makian terdengar disana-sini. Merasa dirinyalah yang sekarang sedang di permalukan, ia pun beranjak darisana.

**__**

“Rio tengil! Pesek! Nyebelin! Kenapa, sih, dia bangga banget sama status tunangan? Kenapa, sih,dia gak berencana buat ngebatalin pertunangan aja? Apa dia nggak tau, gue bener-bener nggak suka sama status ini? ARRGHHH nyebelin!”

“Jadi disini lo?!?!”Pricilla menghampiri Ify dan menatapnya penuh emosi.

“Apa? Nggak puas, lo, mempermalukan gue di depan anak-anak?”

“Harus nya gue yang bilang gitu ke lo! Lo udah mempermaluin gue di depan anak-anak!”

Ify berdiri dari tempat duduknya. “Gue sama sekali nggak merasa mempermaluin lo di depan anak-anak! Lo yang mempermalui diri lo sediri!”

Pricilla tertawa sumbang, “Jangan karena tunangan lo tersayang itu belain lo, lo bisa seenaknya, ya, sama gue!”

“Dia...bukan...tunangan...gue...”desis ify sinis.

“Terserah! Yang jelas, karena dia lebih belain elo daripada gue, yang jelas-jelas pacar dia, lo udah sangat kurang ajar. Lo udah merebut rio dari gue. Lo bikin gue malu di depan anak-anak. Denger, ya, fy. Suatu saat, gue pasti bakal baless semua perbuatan lo. GUE KELUAR DARI SEKOLAH INI!!” ujar Pricilla diiringi sebuah gebrakan di meja.

Ify hanya terdiam di tempatnya, sambil menatap tubuh Pricilla yang makin menjauh darisana.

**__**

“Pasti Pricilla udah nggak punya muka lagi, kasian.” Ujar Alvin dengan ekspresi sok sedih.

“Kasian juga, sih, dia. Niatnya mempermalukan ify, malah dia sendiri yang kena batunya. Parah, Rio frontal banget.” Sahut Shilla takjup.

“Pricilla lebih parah, ngaku-ngaku jadi anak pemilik yayasan. Tapi ternyata dia bukan siapa-siapa.”

“ada yang aneh... rio, kan, cinta mati sama pricilla. Tiba-tiba bisa kaya gitu ke Pricilla, hanya dalam waktu kurang dari empat hari... apa kalian percaya sama apa yang kalian liat, tadi?” tanya alvin masih dengan bingungnya.

Shilla dan cakka mengedikkan bahunya, sama-sama tak mengerti.

“tapi....tunangan...sejak kapan, rio sama ify tunangan?”

“beberapa hari yang lalu. Aku baru aja di ceritain sama ify dua jam yang lalu.”

“Jadi...itu bener?”

Cakka dan Shilla mengangguk.

“kejadian tadi nggak usah terlalu di fikirin, kalian fokus aja sama acara ini. Abis ini, kita yang tampil. Fokus, ya guys.” Perintah Sivia sambil membenarkan microphonenya.

**__**

“Priss.. maafin gue Priss.. maafin gue...” ujar Rio sambil menarik lengan Pricilla.

“Lepas.”

“Bu..bukan maksud gue...gue...”

PLAKKK
Pricilla menampar rio keras-keras, hingga sampai beberapa detik kemudian, rio merasakan pipinya masih berdenyut-denyut.

“Kita putus. Makasih buat hari ini. Lo bener-bener sukses mempermalukan gue didepan anak-anak. Thanks banget buat lo, Mario Stevano.”

“Ta...tapi Priss.. gue sayang sama lo...gue...”

“Makasih.” Pricilla menyambar tasnya dan segera masuk kedalam mobilnya.

“AARRGGHHH” Rio menendang mobilnya sendiri, yang berada di samping mobil Pricilla. “rusak semua! Rusak! Arrghhh lo bego mario!!!”

**__**

“Maaf, maaf, ada kesalahan teknis tadi. Sekarang kita sambut, BraveSound!”ujar sang MC.

Sivia, Shilla, Cakka, Zevana dan Debo menempati posisinya masing-masing.

“Siang, semuanya.” Ujar sivia semangat.

“SIAANGGG!!”

“Kita mau bawain lagu dari Taylor Swift, yang judulnya You Belong With Me. Yang tau lagunya, nyanyi bareng yaaa!!”

Tabuhan drum dan gitar mulai berkumandang di lapangan BRAVIE,sebagian penonton sudah mulai bernyanyi mengikuti irama.

You’re on the phone, with your girlfriend she’s upset...
She’s going off about something that you said...
She doesn’t get your humor like i do...”

“Vi, lo tau? Berantem sama Aren bener-bener bikin frustasi. Dia bener-bener nggak asik...dikit-dikit ngambek.” Keluh Alvin pada Sivia di suatu cafe.

“Kamu kali, yang nggak bisa memahami hati cewek.” Sindirnya.

“Kurang apa gue? Gue udah berusaha peka sama Aren. Tapi dianya kaya gitu. Nyebelin.”

“Kamu berusaha, tapi nggak berhasil, kan? Kamu tuh bukan tipe cowok yang bisa peka sama keadaan sekitar.”

“Lah, kok lo nyalahin gue?”

“Kan emang gitu kenyataannya.”

“I’m on the room, it’s typical Tuesday  night...
Im listening to the kind of music she doesn’t like...
She’ll never know your story like i do...”

“Lagi apa, lo, mbul?”

“Sialan, kamu Pit.”

Alvin tertawa. “Gue mau cerita. Boleh?”

“Biasanya nggak usah pake izin juga mulut kamu bergerak dengan sendirinya.”

“Ye, kali ini beda.”

“Paling juga cewek-cewek kamu lagi.”

“Cewek-cewek? Emang gue punya berapa cewek?”

Sivia melotot. “Kamu amnesia? Setelah kamu pacaran sama empat cewek dalam waktu seminggu, kamu masih tanya, kamu punya berapa cewek?!?!”

“Peace.” Alvin membentuk tanda V di tangannya. “Eh, gue serius mau cerita.”

“Yaudah cerita aja, ada apaan, sih?”

“Tadi...gara-gara gue nggak bikin PR Matematika... gue di hukum, disuruh bersihin toilet.”

“Toilet sekolah? Menjijikkan.”

“Bayangin gimana penderitaan gue. Bahkan, hampir tiga tahun gue sekolah di SMP kita, ke kamar mandi bisa di hitung. Lah, hari ini, sialnya, gue malah disuruh bersihin. Gue muntah-muntah. Yang ada, gue nggak jadi bersihin kamar mandi malah ke UKS. Pingsan.”

“Serius?”

“Lah, kenapa gue harus bohong? Gue pingsan! Gara-gara bersihin kamar mandi!”

Sivia tertawa ngakak. “Seorang playboy SMP Harapan pingsan Cuma karena bersihin kamar mandi? Luntur deh tuh harga diri.”

Alvin menjitak Sivia hingga sivia mengaduh kesakitan. “Apa-apaan, sih, kamu?”

“Jangan di ketawain! Aarrgh itu adalah hal paling memalukan di dalam hidup gue. Jangan kasih tau siapa-siapa, ya? Gue Cuma cerita ini ke lo.”

“Asal di beri ice cream aja buat tutup mulut.”

“Oke! Deal!”

“But she wears short skirts, i wear t-shirt...
She’s cheer captain and i’m on the bleachers...
Dreaming about the day, when you wake up and find that what you’re...
Looking for has been here the whole time...”

“Liat, vi. Cantik banget, kan, Angel? Sekali-kali , lo harus make dress kaya dia. Keliatan anggun. Masa pake baju kaya cowok melulu. Ntar orang-orang kira gue jalan sama cowok, lagi.”

“Masa bodoh. Ini style aku, terserah aku, dong mau pake baju yang kaya gimana. Aku bukan angel. Aku bukan cewek-cewek kamu yang pakaiannya kurang bahan gitu. Aku ya aku. Sivia.” Kesal Sivia lalu meninggalkan Alvin sendiri.

“Loh? ViA~ Gue kan Cuma bercandaaa!!”

“If you could see that i’m the one who understands you...
Been here all along so why can’t you see? You belong with me...
You belong with me...”

“Sampai kapan, sih, kamu mau main-main sama cewek? Nggak kasian, apa, sama mereka?”

“Gue nggak main-main, via.”

“Aku ini cewek, vin. Aku bisa ngerasain gimana perasaan mereka waktu kamu mainin mereka.”

“Gue nggak mainin mereka. Gue berusaha sayang. Tapi nggak bisa.”

“Kalo nggak bisa yaudah, berhenti main-main. Dan cari yang bener-bener bisa bikin kamu sayang. Karma itu ada, vin.”

“Lo nyumpahin gue?!”

“Walking the streets with you and your worn out jeans...
I can’t help thiking this is how it ought to be...
Laughing on a park bench thinking to my self...
Hey isn’t this easy?”

“Vi, kenalin. Ini Chelsea. Chels, kenalin, ini via.”

“Hai.” Ujar chelsea ogah-ogahan.

Sivia hanya tersenyum kikuk. “eng...aku ke toilet dulu, ya?”

Alvin mengangguk. Chelsea hanya melengos.

“Dia siapa?”

“Sahabat aku,”

“Kenapa kencan pertama ngajak dia, sih?”

“Keluarganya nitipin dia ke aku empat hari, chels. Sebagai sahabat yang baik, aku harus melaksanakan amanah dari kedua orang tuanya. Kita udah deket banget, kaya sodara.”

“Tapi ini kencan pertama kita, alvin. Aku nggak suka kamu ngajakin dia.”

“kenapa gak suka? Dia nggak ganggu, kok.”

“Kok kamu belain dia?!”

“Yayalah, dia sahabat aku.”

“Jadi kamu lebih pilih dia, daripada aku?”

Alvin menghela napasnya, mencoba tenang. “Dia sahabat aku. Dari awal aku masuk sekolah. Cuma dia yang tau baik buruknya aku. Dia segala-galanya, karena dia selalu ada disaat senang maupun susahku. Jadi, dia prioritas utamaku setelah kedua orangtuaku.”

“Terserah! Pokoknya aku tetep gak suka. Kalo kamu sayang sama aku, ayo kita pulang sekarang.”

Alvin menggeleng. “Kalo lo mau pulang, pulang aja sana. Kalo lo nggak bisa nerima dia, kita putus!”

“PUTUS?! Oke! Terserah!” Chelsea beranjak darisana dengan air mata berlinangan.

“vin, kamu keterlaluan.” Ujar sivia yang mendengar semua pembicaraan alvin dan chelsea.

“Kenapa? Persahabatan, kan, lebih penting dari segalanya. Dia aja kekanak-kanakan. Gue gak butuh cewek yang nggak bisa ngertiin gue.” Jawab alvin santai.

“And you’ve got a smile that could light up this whole town...
I haven’t seem it in  awhile since she brought you down...
You say you’re fine i know you better than that...
Hey what you doing with a girl like that?”

“Via! Lo tau, gue udah nemuin cewek yang bener-bener cocok sama gue! Hobi kita sama, selera humor kita juga sama, anaknya seru, kayak lo gitu deh vi. Mana cantik banget lagi.”

“Oh. Selamat.”

“Gitu doang? Yaelah vi. Lo iri?”

“Ngapain? Nggak penting juga iri sama kamu,”

“Tapi kan selama ini lo jomblo mulu. Sedangkan gue udah nemuin orang yang pas buat jadi pasangan gue. Jomblo kan identik dengan galau...sedih...”

“Jomblo nggak menjamin seseorang bahagia atau nggak.” Sinis sivia yang lalu kembali menyibukkan dirinya dengan setumpuk soal tryout dihadapannya.

“She wears high heels, i wear sneakers...
She’s cheer captain and i’m on the bleachers...
Dreaming about the day, when you wake up and find that what you’re...
Looking for has been here the whole time...”

“Girang banget, kamu kayanya. Ada apa?”

“Gue kasih ciuman pertama gue buat Marsha. Gila, gue nggak nyangka bisa seekstrem itu.”

“vin! Kita mau aja naik kelas tiga SMP. Dan kamu udah berani cium cewek? Astaga... bejat.”

“Bejat apasih? Itu semua kejadian gitu aja. Gue juga baru sadar beberapa detik kemudian. Dia...bener-bener cewek yang tepat buat gue.”

“Oh.”

“lo kenapa, sih, vi? Kayanya lo gak suka gue jadian sama marsha.”

“Masa? Biasa aja, tuh.”

“Sory kalo misalnya gue udah jarang ngeluangin waktu berdua sama lo.”

“Gak papa. Kamu udah punya kehidupan kamu sendiri. Aku juga udah punya. Kita sama-sama punya hidup kita masing-masing.”

“via...”

“If you could see that i’m the one who understands you...
Been here all along so why can’t you see? You belong with me...
Standing by and waiting at your backdoor...
All this time how could you not know baby... you belong with me...
You belong with me...”

“Sekali lagi maafin aku, ya, vi. Aku emang egois. Dari dulu−“

“Nggak usah bahas-bahas yang dulu.” Desis sivia tajam, “Aku udah berusaha bersikap profesinal ke kamu, selama dua tahun. Asal kamu tau aja. Itu semua nggak gampang, perlu proses yang panjang. Jangan pernah ngebahas yang udah lewat. Karena masalalu, ya masalalu. Nggak perlu untuk di ungkit-ungkit lagi.” Sivia bangkit dari sana, lalu menyambar tasnya.

“via,” Alvin mencekal pergelangan tangan Sivia. “aku cinta kamu. Seharusnya kalimat ini yang keluar empat tahun yang lalu. Aku...cinta...kamu...”

“Lepasin, vin.” Alvin menurut. Ia melepaskan cekalan tangannya. Dan sedetik kemudian, sivia sudah tak ada disana. Ia sudah berlari.

“bego lo vin... lo bego vin bego..” maki alvin pada dirinya sendiri.


“Oh, i remember you driving to my house...
In the middle of the night...
I’m the one who makes you laugh, when you know you’re about to cry...
And i know your favorite songs, and you tell me about your dreams...
Think i know where you belong... think i know it’s with me...”

Alvin menatap lekat-lekat sivia yang sedang bernyanyi penuh penghayatan di atas panggung. Suara halusnya membuat alvin tak ingin mengalihkan pandangannya barang sedetikpun. Lagu ini seperti menyindirnya habis-habisan.

Apa gue bener-bener gak peka sama perasaan lo dulu ke gue? Kok gue bego banget ya vi? Sekarang gue kehilangan lo. Lo ada di sisi gue, tapi seperti nggak ada. Semuanya udah nggak kaya dulu. Maafin gue vi. Gue bakal bikin semuanya balik kaya dulu. Gue janji.

“If you could see that i’m the one who understands you...
Been here all along so why can’t you see? You belong with me...
Standing by and waiting at your backdoor...
All this time how could you not know baby... you belong with me...
You belong with me...”

Tepukan riuh mengakhiri penampilan BraveSound siang hari ini. Semuanya tersenyum senang. Berhasil!

**__**


TAGNYA NTAR YAK. ini on juga numpang hehehe. dont forget commentnyaaa. maaf kl makin kesini makin geje :)
@achaDG