24 Juli 2013

TRAP [7]

7. BRAV-FEST

Ify sudah bersiap di luar aulaputih,dibantu Difa,ia berjalan menuju panggung. Dimana sebuah grand piano putih telah menantinya. Di ujung sana, Pricilla tersenyum sinis menantikan sejarah hidup baru ify akan di mulai. Sebentar lagi...

Ify melenggang santai menuju grandpiano putihnya,semua orang tertuju kepada kecantikan ify,yang siang itu menggunakan sebuah dress berwarna putih(?) dengan makeup natural yang makin menambah kesan anggun pada penampilannya. Ia mulai bersiap untuk duduk...tapi...

Krekk.. kratak...
BRAKKK...

Ify terjengat kebelakang, kursi yang ia duduki patah jadi dua, semua orang yang ada disana terheran-heran. Bahkan dengan gerakan reflek, Rio sudah ada diatas panggung, membantu Ify untuk bangun.

“Rio? Ngapain?” semua orang bertanya-tanya melihat rio yang dengan sigap membantu ify berdiri dan merapikan dressnya. Ify yang masih linglung hanya diam saja dengan perlakuan Rio.

“Apa-apaan sih?!?!” Pricilla mendatangi Rio dan ify yang ada dipanggung, lalu menarik tangan Rio.

“Kamu ini apa-apaan? Kenapa nolongin dia, sih?” protes pricilla tak terima.

“Dia lagi kena musibah, apa salah gue bantuin dia?”

“Kok jadi gue-elo sih ngomongnya?!?! Lo suka, sama ify?!”

Najis! Nih cewek satu norak banget, sih. Nggak sadar, apa, diliatin orang-orang. Hih. Ify bergidik ngeri melihat Pricilla dan Rio yang ada di tengah panggung, sedangkan dia sudah bersembunyi di samping stage, dibantu Sivia dan Alvin.

“Rio jangan diem! Jawab gue!” desak Pricilla sambil menarik lengan Rio.

“Gue sama ify udah tunangan! Puas, lo?!”

Sontak, semua orang yang mendengar ucapan Rio sibuk berkasak-kusuk. Ify yang mendengar itu pun langsung berlari menjauh darisana. Berulang kali Rio, Sivia, Alvin meneriakkan namanya. Tapi ify tetap berlari.

Gue berasa ingin lenyap! selamany−“AWWW!”

Ify terjatuh, wegdes yang ia pakai tidak seimbang. Lututnya lecet terantuk tanah kasar lapangan.

“Nggak apa-apa?” tanya seseorang sambil membantu ify berdiri.

“Nggak.. makasih.” Ujar ify lalu beranjak darisana.

Cowok yang menolong ify itu hanya mengangkat bahunya, tak peduli.

**__**

“Tunangan?? Maksud lo apa??” suara Pricilla makin meninggi.

“Ya, gue tunangan. Sama ify, pemilik sekolah ini.”

Terdengar suara ‘oh’ dan ‘wow’ dimana-mana. Telinga Pricilla panas, emosinya makin meledak.

“Pemilik sekolah ini gue, bukan Ify!”

“berhentilah sama obsesi lo, Priss. Terima kenyataan, kalo lo bukan anak pemilik yayasan, anak pemilik sekolah. Lo ya pricilla, bukan siapa-siapa.” Desis Rio tajam

Pricilla terdiam di tempatnya. Semua orang kini menatap Pricilla dengan ekspresi jijik, makian terdengar disana-sini. Merasa dirinyalah yang sekarang sedang di permalukan, ia pun beranjak darisana.

**__**

“Rio tengil! Pesek! Nyebelin! Kenapa, sih, dia bangga banget sama status tunangan? Kenapa, sih,dia gak berencana buat ngebatalin pertunangan aja? Apa dia nggak tau, gue bener-bener nggak suka sama status ini? ARRGHHH nyebelin!”

“Jadi disini lo?!?!”Pricilla menghampiri Ify dan menatapnya penuh emosi.

“Apa? Nggak puas, lo, mempermalukan gue di depan anak-anak?”

“Harus nya gue yang bilang gitu ke lo! Lo udah mempermaluin gue di depan anak-anak!”

Ify berdiri dari tempat duduknya. “Gue sama sekali nggak merasa mempermaluin lo di depan anak-anak! Lo yang mempermalui diri lo sediri!”

Pricilla tertawa sumbang, “Jangan karena tunangan lo tersayang itu belain lo, lo bisa seenaknya, ya, sama gue!”

“Dia...bukan...tunangan...gue...”desis ify sinis.

“Terserah! Yang jelas, karena dia lebih belain elo daripada gue, yang jelas-jelas pacar dia, lo udah sangat kurang ajar. Lo udah merebut rio dari gue. Lo bikin gue malu di depan anak-anak. Denger, ya, fy. Suatu saat, gue pasti bakal baless semua perbuatan lo. GUE KELUAR DARI SEKOLAH INI!!” ujar Pricilla diiringi sebuah gebrakan di meja.

Ify hanya terdiam di tempatnya, sambil menatap tubuh Pricilla yang makin menjauh darisana.

**__**

“Pasti Pricilla udah nggak punya muka lagi, kasian.” Ujar Alvin dengan ekspresi sok sedih.

“Kasian juga, sih, dia. Niatnya mempermalukan ify, malah dia sendiri yang kena batunya. Parah, Rio frontal banget.” Sahut Shilla takjup.

“Pricilla lebih parah, ngaku-ngaku jadi anak pemilik yayasan. Tapi ternyata dia bukan siapa-siapa.”

“ada yang aneh... rio, kan, cinta mati sama pricilla. Tiba-tiba bisa kaya gitu ke Pricilla, hanya dalam waktu kurang dari empat hari... apa kalian percaya sama apa yang kalian liat, tadi?” tanya alvin masih dengan bingungnya.

Shilla dan cakka mengedikkan bahunya, sama-sama tak mengerti.

“tapi....tunangan...sejak kapan, rio sama ify tunangan?”

“beberapa hari yang lalu. Aku baru aja di ceritain sama ify dua jam yang lalu.”

“Jadi...itu bener?”

Cakka dan Shilla mengangguk.

“kejadian tadi nggak usah terlalu di fikirin, kalian fokus aja sama acara ini. Abis ini, kita yang tampil. Fokus, ya guys.” Perintah Sivia sambil membenarkan microphonenya.

**__**

“Priss.. maafin gue Priss.. maafin gue...” ujar Rio sambil menarik lengan Pricilla.

“Lepas.”

“Bu..bukan maksud gue...gue...”

PLAKKK
Pricilla menampar rio keras-keras, hingga sampai beberapa detik kemudian, rio merasakan pipinya masih berdenyut-denyut.

“Kita putus. Makasih buat hari ini. Lo bener-bener sukses mempermalukan gue didepan anak-anak. Thanks banget buat lo, Mario Stevano.”

“Ta...tapi Priss.. gue sayang sama lo...gue...”

“Makasih.” Pricilla menyambar tasnya dan segera masuk kedalam mobilnya.

“AARRGGHHH” Rio menendang mobilnya sendiri, yang berada di samping mobil Pricilla. “rusak semua! Rusak! Arrghhh lo bego mario!!!”

**__**

“Maaf, maaf, ada kesalahan teknis tadi. Sekarang kita sambut, BraveSound!”ujar sang MC.

Sivia, Shilla, Cakka, Zevana dan Debo menempati posisinya masing-masing.

“Siang, semuanya.” Ujar sivia semangat.

“SIAANGGG!!”

“Kita mau bawain lagu dari Taylor Swift, yang judulnya You Belong With Me. Yang tau lagunya, nyanyi bareng yaaa!!”

Tabuhan drum dan gitar mulai berkumandang di lapangan BRAVIE,sebagian penonton sudah mulai bernyanyi mengikuti irama.

You’re on the phone, with your girlfriend she’s upset...
She’s going off about something that you said...
She doesn’t get your humor like i do...”

“Vi, lo tau? Berantem sama Aren bener-bener bikin frustasi. Dia bener-bener nggak asik...dikit-dikit ngambek.” Keluh Alvin pada Sivia di suatu cafe.

“Kamu kali, yang nggak bisa memahami hati cewek.” Sindirnya.

“Kurang apa gue? Gue udah berusaha peka sama Aren. Tapi dianya kaya gitu. Nyebelin.”

“Kamu berusaha, tapi nggak berhasil, kan? Kamu tuh bukan tipe cowok yang bisa peka sama keadaan sekitar.”

“Lah, kok lo nyalahin gue?”

“Kan emang gitu kenyataannya.”

“I’m on the room, it’s typical Tuesday  night...
Im listening to the kind of music she doesn’t like...
She’ll never know your story like i do...”

“Lagi apa, lo, mbul?”

“Sialan, kamu Pit.”

Alvin tertawa. “Gue mau cerita. Boleh?”

“Biasanya nggak usah pake izin juga mulut kamu bergerak dengan sendirinya.”

“Ye, kali ini beda.”

“Paling juga cewek-cewek kamu lagi.”

“Cewek-cewek? Emang gue punya berapa cewek?”

Sivia melotot. “Kamu amnesia? Setelah kamu pacaran sama empat cewek dalam waktu seminggu, kamu masih tanya, kamu punya berapa cewek?!?!”

“Peace.” Alvin membentuk tanda V di tangannya. “Eh, gue serius mau cerita.”

“Yaudah cerita aja, ada apaan, sih?”

“Tadi...gara-gara gue nggak bikin PR Matematika... gue di hukum, disuruh bersihin toilet.”

“Toilet sekolah? Menjijikkan.”

“Bayangin gimana penderitaan gue. Bahkan, hampir tiga tahun gue sekolah di SMP kita, ke kamar mandi bisa di hitung. Lah, hari ini, sialnya, gue malah disuruh bersihin. Gue muntah-muntah. Yang ada, gue nggak jadi bersihin kamar mandi malah ke UKS. Pingsan.”

“Serius?”

“Lah, kenapa gue harus bohong? Gue pingsan! Gara-gara bersihin kamar mandi!”

Sivia tertawa ngakak. “Seorang playboy SMP Harapan pingsan Cuma karena bersihin kamar mandi? Luntur deh tuh harga diri.”

Alvin menjitak Sivia hingga sivia mengaduh kesakitan. “Apa-apaan, sih, kamu?”

“Jangan di ketawain! Aarrgh itu adalah hal paling memalukan di dalam hidup gue. Jangan kasih tau siapa-siapa, ya? Gue Cuma cerita ini ke lo.”

“Asal di beri ice cream aja buat tutup mulut.”

“Oke! Deal!”

“But she wears short skirts, i wear t-shirt...
She’s cheer captain and i’m on the bleachers...
Dreaming about the day, when you wake up and find that what you’re...
Looking for has been here the whole time...”

“Liat, vi. Cantik banget, kan, Angel? Sekali-kali , lo harus make dress kaya dia. Keliatan anggun. Masa pake baju kaya cowok melulu. Ntar orang-orang kira gue jalan sama cowok, lagi.”

“Masa bodoh. Ini style aku, terserah aku, dong mau pake baju yang kaya gimana. Aku bukan angel. Aku bukan cewek-cewek kamu yang pakaiannya kurang bahan gitu. Aku ya aku. Sivia.” Kesal Sivia lalu meninggalkan Alvin sendiri.

“Loh? ViA~ Gue kan Cuma bercandaaa!!”

“If you could see that i’m the one who understands you...
Been here all along so why can’t you see? You belong with me...
You belong with me...”

“Sampai kapan, sih, kamu mau main-main sama cewek? Nggak kasian, apa, sama mereka?”

“Gue nggak main-main, via.”

“Aku ini cewek, vin. Aku bisa ngerasain gimana perasaan mereka waktu kamu mainin mereka.”

“Gue nggak mainin mereka. Gue berusaha sayang. Tapi nggak bisa.”

“Kalo nggak bisa yaudah, berhenti main-main. Dan cari yang bener-bener bisa bikin kamu sayang. Karma itu ada, vin.”

“Lo nyumpahin gue?!”

“Walking the streets with you and your worn out jeans...
I can’t help thiking this is how it ought to be...
Laughing on a park bench thinking to my self...
Hey isn’t this easy?”

“Vi, kenalin. Ini Chelsea. Chels, kenalin, ini via.”

“Hai.” Ujar chelsea ogah-ogahan.

Sivia hanya tersenyum kikuk. “eng...aku ke toilet dulu, ya?”

Alvin mengangguk. Chelsea hanya melengos.

“Dia siapa?”

“Sahabat aku,”

“Kenapa kencan pertama ngajak dia, sih?”

“Keluarganya nitipin dia ke aku empat hari, chels. Sebagai sahabat yang baik, aku harus melaksanakan amanah dari kedua orang tuanya. Kita udah deket banget, kaya sodara.”

“Tapi ini kencan pertama kita, alvin. Aku nggak suka kamu ngajakin dia.”

“kenapa gak suka? Dia nggak ganggu, kok.”

“Kok kamu belain dia?!”

“Yayalah, dia sahabat aku.”

“Jadi kamu lebih pilih dia, daripada aku?”

Alvin menghela napasnya, mencoba tenang. “Dia sahabat aku. Dari awal aku masuk sekolah. Cuma dia yang tau baik buruknya aku. Dia segala-galanya, karena dia selalu ada disaat senang maupun susahku. Jadi, dia prioritas utamaku setelah kedua orangtuaku.”

“Terserah! Pokoknya aku tetep gak suka. Kalo kamu sayang sama aku, ayo kita pulang sekarang.”

Alvin menggeleng. “Kalo lo mau pulang, pulang aja sana. Kalo lo nggak bisa nerima dia, kita putus!”

“PUTUS?! Oke! Terserah!” Chelsea beranjak darisana dengan air mata berlinangan.

“vin, kamu keterlaluan.” Ujar sivia yang mendengar semua pembicaraan alvin dan chelsea.

“Kenapa? Persahabatan, kan, lebih penting dari segalanya. Dia aja kekanak-kanakan. Gue gak butuh cewek yang nggak bisa ngertiin gue.” Jawab alvin santai.

“And you’ve got a smile that could light up this whole town...
I haven’t seem it in  awhile since she brought you down...
You say you’re fine i know you better than that...
Hey what you doing with a girl like that?”

“Via! Lo tau, gue udah nemuin cewek yang bener-bener cocok sama gue! Hobi kita sama, selera humor kita juga sama, anaknya seru, kayak lo gitu deh vi. Mana cantik banget lagi.”

“Oh. Selamat.”

“Gitu doang? Yaelah vi. Lo iri?”

“Ngapain? Nggak penting juga iri sama kamu,”

“Tapi kan selama ini lo jomblo mulu. Sedangkan gue udah nemuin orang yang pas buat jadi pasangan gue. Jomblo kan identik dengan galau...sedih...”

“Jomblo nggak menjamin seseorang bahagia atau nggak.” Sinis sivia yang lalu kembali menyibukkan dirinya dengan setumpuk soal tryout dihadapannya.

“She wears high heels, i wear sneakers...
She’s cheer captain and i’m on the bleachers...
Dreaming about the day, when you wake up and find that what you’re...
Looking for has been here the whole time...”

“Girang banget, kamu kayanya. Ada apa?”

“Gue kasih ciuman pertama gue buat Marsha. Gila, gue nggak nyangka bisa seekstrem itu.”

“vin! Kita mau aja naik kelas tiga SMP. Dan kamu udah berani cium cewek? Astaga... bejat.”

“Bejat apasih? Itu semua kejadian gitu aja. Gue juga baru sadar beberapa detik kemudian. Dia...bener-bener cewek yang tepat buat gue.”

“Oh.”

“lo kenapa, sih, vi? Kayanya lo gak suka gue jadian sama marsha.”

“Masa? Biasa aja, tuh.”

“Sory kalo misalnya gue udah jarang ngeluangin waktu berdua sama lo.”

“Gak papa. Kamu udah punya kehidupan kamu sendiri. Aku juga udah punya. Kita sama-sama punya hidup kita masing-masing.”

“via...”

“If you could see that i’m the one who understands you...
Been here all along so why can’t you see? You belong with me...
Standing by and waiting at your backdoor...
All this time how could you not know baby... you belong with me...
You belong with me...”

“Sekali lagi maafin aku, ya, vi. Aku emang egois. Dari dulu−“

“Nggak usah bahas-bahas yang dulu.” Desis sivia tajam, “Aku udah berusaha bersikap profesinal ke kamu, selama dua tahun. Asal kamu tau aja. Itu semua nggak gampang, perlu proses yang panjang. Jangan pernah ngebahas yang udah lewat. Karena masalalu, ya masalalu. Nggak perlu untuk di ungkit-ungkit lagi.” Sivia bangkit dari sana, lalu menyambar tasnya.

“via,” Alvin mencekal pergelangan tangan Sivia. “aku cinta kamu. Seharusnya kalimat ini yang keluar empat tahun yang lalu. Aku...cinta...kamu...”

“Lepasin, vin.” Alvin menurut. Ia melepaskan cekalan tangannya. Dan sedetik kemudian, sivia sudah tak ada disana. Ia sudah berlari.

“bego lo vin... lo bego vin bego..” maki alvin pada dirinya sendiri.


“Oh, i remember you driving to my house...
In the middle of the night...
I’m the one who makes you laugh, when you know you’re about to cry...
And i know your favorite songs, and you tell me about your dreams...
Think i know where you belong... think i know it’s with me...”

Alvin menatap lekat-lekat sivia yang sedang bernyanyi penuh penghayatan di atas panggung. Suara halusnya membuat alvin tak ingin mengalihkan pandangannya barang sedetikpun. Lagu ini seperti menyindirnya habis-habisan.

Apa gue bener-bener gak peka sama perasaan lo dulu ke gue? Kok gue bego banget ya vi? Sekarang gue kehilangan lo. Lo ada di sisi gue, tapi seperti nggak ada. Semuanya udah nggak kaya dulu. Maafin gue vi. Gue bakal bikin semuanya balik kaya dulu. Gue janji.

“If you could see that i’m the one who understands you...
Been here all along so why can’t you see? You belong with me...
Standing by and waiting at your backdoor...
All this time how could you not know baby... you belong with me...
You belong with me...”

Tepukan riuh mengakhiri penampilan BraveSound siang hari ini. Semuanya tersenyum senang. Berhasil!

**__**


TAGNYA NTAR YAK. ini on juga numpang hehehe. dont forget commentnyaaa. maaf kl makin kesini makin geje :)
@achaDG

TRAP [6]

6. Rahasia Ify


“Permainan piano kamu bagus, fy. Kamu pernah les?”

Ify menggeleng, “Saya otodidak, bu. Mama saya suka main piano, saya belajar dari mama. Tapi nggak lama setelah itu, mama saya mulai sibuk sama urusan kerjaan. Jadi, saya udah hampir nggak pernah menyentuh piano yang ada dirumah.”

“Sayang banget, padahal kamu bisa jadi composer terkenal, loh, kalo terus di latih.”

Ify terkekeh. “Cita-cita saya bukan jadi composer, atau pemusik, atau apalah yang ada hubungannya dengan musik. Karena musik Cuma hobi saya, bukan untuk dijadikan sebuah cita-cita.”

“Lalu, apa cita-cita kamu?”

“Saya ingin menjadi seorang chef, seperti mama saya.”

Great, it was a big dream, fy. Kamu harus mewujudkannya, someday.”

“Ya, cakka. I will.”

“Oke, gladi bersih cukup. Saya rasa kalian siap tampil besok. Ingat, jaga stamina. Saya ingin BREV-FEST berjalan lancar besok.”

“Siap bu!”

Cakka, shilla dan sivia melongo melihat seseorang yang masuk kedalam ruang musik. Dilihatnya sosok Rio, dengan gaya coolnya, dan tatapan tak acuh pada sekitar, berjalan menuju Ify. “Udah selesai? Pulang, yuk?”

Ify keki di tempatnya. “Lo apa-apaan, sih? Kenapa lo kesini? Ini sekolah, mario!”

“So? Lo tunang...”

Ify menutup mulut Rio. Seluruh ruangan menatap kedua orang ini dengan tatapan penuh penjelasan.

“ARGHH!!!” ify mengerang dan menyambar asal tasnya. Lalu beranjak darisana tanpa mengatakan apa-apa.

Sedetik kemudian, rio menyusul ify.

Zevana mencium sesuatu yang tak beres. Segera ia mengetikkan sesuatu pada Pricilla.


Zevana: Rio, tadi ke ruang musik. Nyamperin ify. Kayanya mau nganterin ify pulang.

“Liat, nih, sayang. Aku suka yang ini.” Ujar Pricilla menunjuk boneka teddy bear besar di depan sebuah toko.

“kamu mau yang ini?”

Pricilla mengangguk dan memasang muka penuh harap.

“tunggu bentar disini,”

Senyum pricilla mengembang, tapi sedetik kemudian, senyum itu lenyap saat ponselnya bergetar dan memperlihatkan isi pesan di dalamnya.

“Sialan tuh cewek! Bener-bener minta di habisin!” geramnya.

“Ini buat kamu!” ujar Kenneth sambil memberikan teddy bear yang baru saja di belinya.

“Udah gak mood. Ayo pulang,” jutek Pricilla yang lalu berjalan mendahuluinya.

“Loh? Loh? Gimana, sih? Pricilla, tunggu!”

**__**

“Fy, tungguin gue!”

“lo pulang sana sendiri! Bilang sama bokap lo, kalo lo udah anter gue pulang. Gue juga bakal bilang gitu ke kakek gue.” Sinisnya.

“fy gue minta maaf kalo kata-kata gue kemarin...”

“Ya, ya, ya. Udah gue maafin. Udah, pergi sana.” Usir ify

“Nggak, lo harus pulang bareng gue hari ini.”

“Gue bilang nggak mau, ya nggak mau. Denger nggak sih?!”

“Nggak. Gue nggak denger. Kecuali lo bilang mau pulang bareng gue, gue bakal dengerin.”

“ARGHHH Tuhan kenapa kau memberi cobaan kepada hambamu yang tidak berdosa ini...” rintih ify frustasi.

Rio tersenyum simpul. “Gue bakal ngikutin kemanapun lo pergi. Nggak ada tempat buat lo lari dari gue, fy.”

“Lo kira gue mau lari dari lo? Gue bukan pengecut! Oke, gue pulang sama lo.” Kesal ify yang lalu berjalan menuju mobil Rio.

Rio terkekeh. “Gengsi kok di gedein.” Gumamnya.

**__**

“Rio...sama...ify?” pertanyaan sivia menggantung, melihat Cakka, Shilla dan Alvin yang sama-sama memasang ekspresi nggak tau apa-apa.

“Ada yang aneh, ada rahasia yang disembunyiin ify dan rio dari gue... ify nggak biasanya diem aja. Apalagi dia tau, rio udah punya cewek.” Simpul alvin.

“Ify juga nggak cerita apa-apa....eh, tunggu.”

Sivia, alvin dan cakka menatap Shilla penuh Tanya.

“kemarin pagi, muka ify kusut banget. Pas aku nanya kenapa, dia bilang dia lagi kesel sama rio, rio nyebelin, tapi pas aku mau nanya udah keburu masuk bu Ira-nya.”

“Berarti, sebelum ini mereka udah deket...”

are they in a relationship?”

“gue akan cari tau,” Lirih alvin sambil melihat mobil rio yang perlahan mulai meninggalkan parkiran sekolah.

**__**

“gue ingetin, tuan Haling. Jangan sekali-kali lo nyebut tentang status kita di depan anak-anak.”

“Kenapa? Lo malu punya tunangan seganteng gue? Seperfect gue? Oh, c’mon. Semua cewek-cewek di sekolah ingin jadi pacar gue.”

“Sorry, tolong minimalisir kenarsisan lo didepan gue. Karena gue bukan satu di antara cewek-cewek di sekolah yang mau jadi pacar lo.” Ujar ify sambil mengutip ucapannya.

yes, you are. Karena lo mau jadi tunangan gue.”

“Itu terpaksa!”

“Gak peduli apapun alasannya, sekali tunangan, ya tunangan. Lo lebih dari pacar gue.”

“Gue nggak pernah anggep lo tunangan gue.”

“Terserah, nggak ngaruh, karena lo tetep tunangan gue.”

Ify mulai frustasi lagi menghadapi manusia ganteng di hadapannya ini. Tunggu, ganteng? Ya, dia memang ganteng, tapi busuknya lebih hina daripada koruptor!

“Berdamailah sama situasi. Gue udah mulai menerima lo dalam hidup gue. Sebaiknya lo juga kaya gitu ke gue.”

Ify menoleh. “Menerima lo? Nggak! Nggak akan!” ify geleng-geleng sendiri. Nih anak abis kebentur apa, sih?? Kok omongannya ngaco banget.

“Tunggu aja, fy. Gue akan bikin lo jatuh cinta sama gue.” Ucap rio dengan santainya, membuat pupil mata ify melebar selebar lebarnya.

“turunin gue!”

“No.”

“Turunin gue sekarang!”

“Gak akan.”

“Rio turunin gue!!!” ify menjambak rambut rio, hingga terpaksa rio menepikan mobilnya. Pintu mobil masih terkunci, ify tidak bisa keluar.

“yo, buka mobilnya.”

“Gak”

“buka!”

“Gak mau!”

“ARRGGHHH!!”

Tiba-tiba, rio tangan rio terulur mendekatkan tubuh ify kearahnya, sejurus kemudian, ia mencium puncak kepala ify. Membuat ify mematung di tempat duduknya.

“Lo kurang ajar!!” tuding ify emosi.

“apa? Gue tunangan lo, nona Umari.”

“AARRRGGHH!!!!!!” ia pun langsung pindah ke jok belakang. Tak peduli tatapan protes dari Rio. Dia tidak ingin melihat wajah rio sekarang. Kalau bisa selamanya.

**__**

Cakka calling...

Shilla menyerngit, tumben? Ia melirik jam dinding rumahnya. Udah jam 8 malem, ada apa?

“Halo, ada apa, kka?”

“Nggak apa-apa, are you hungry? Mau cari makan sama aku?”

Shilla terkekeh, “kamu masih ngehawatirin aku, gara-gara kejadian kemarin?”

“Iya, siapa yang gak khawatir, nunggu nasi goreng lewat sampe pingsan.”

“Jangan diingetin, ah, malu. Aku udah makan, tadi beli KFC pulang sekolah.”

“Jangan makan junk food terus, nggak sehat. nanti gendut.”

“Suka-suka aku, lah. Kenapa kamu jadi kaya mama aku gini, sih?” diam-diam, muka shilla memerah malu karena perhatian cakka yang semakin hari semakin berlebihan padanya.

“aku cerewet, because i care to you, Ashilla. Aku nggak ingin kejadian kemarin keulang lagi.”

thankyou, kka.”

For what?”

For your care, its too much for me.”

“Jangan sungkan, ini gunanya sahabat, kan?”

Glek. Sahabat? Jadi Cuma sahabat ya?

“Hahaha, ya. Yaudah, aku ngantuk. Malam, kka.”

Night, see you tomorrow. Nice dream, Shilla.”

Klik. Telfon di matikan. Tak terasa, air mata shilla jatuh menetes.

**__**

Sekolah masih sepi. Hanya ada segerombol anggota osis, dan anak-anak ekskul yang sedang bekerja rodi menyulap lapangan menjadi sebuah pasar dengan berbagai stand. Setiap kelas wajib menyumbangkan sesuatu, entah itu makanan, baju bekas, atau apapun itu. Bravie-festival diadakan setahun sekali, dan dana dari BRAV-FEST sendiri di kumpulkan untuk membantu bencana-bencana yang makin banyak di Indonesia.

Pricilla mendekor panggung yang nantinya akan menjadi opening dari BRAV-FEST. Alvin dan Sivia sibuk mengecek semuanya, tak lupa dengan handycam di tangan alvin. Alvin benar-benar mengabadikan momen-momen sebelum BRAV-FEST di mulai hingga hari H.

“Eh, kalian udah dateng! Kalian bisa masuk ke aula putih, ada kostum disana. Terus ada make up. Bakal ada yang ngurus, kok. Maaf, ya, aku nggak bisa kesana. Kerjaan aku disini juga lumayan banyak.”

“Nggak papa, via. Semangat ya! Pasti sukses!” ujar ify menyemangati.

“Thanks, fy.” Sivia kembali sibuk dengan Dayat dan Oik.

Ify, shilla, dan cakka segera menuju aula putih untuk bersiap-siap.

**__**

“Yakin sama rencana kamu?” tanya Zevana takut-takut.

“Yakin, lah! Gue udah gak bisa mundur. Dan nggak ada alasan buat nggak yakin. Semuanya udah gue susun. Dia harus tau, kalo Rio tuh milik gue!” Pricilla melenggang santai di atas panggung, lalu mengelus grand piano putih di pojok panggung. “Semoga lo beruntung, Ify.”

**__**

“Ify dimana?” tanya Rio tanpa ekspresi, membuat Shilla sedikit takut untuk menunjuk kearah ify sedang bermake up ria.

“Lo kenapa berangkat sekolah sendiri?” tanya Rio dingin, sambil mencekal lengan Ify

“Rio lepasin!”

“kenapa lo berangkat sekolah sendiri?!?!”

“Terserah gue, dong! Bukan urusan lo.”

“urusan gue, ify. Lo tuh tunangan gue! Jangan seenaknya sendiri kalo ambil keputusan!” bentak Rio emosi.

PLAKKK...

Ify menampar Rio keras-keras. “Gue...udah...bilang...jangan...sebut...status...kita...disini..” ujarnya penuh penekanan, dengan emosi yang menggumpal di dadanya.

“kenapa? Lo emang tunangan gue. Lo nggak bisa apa-apa lagi dengan status itu. Lo punya gue.”

“Nggak! Sampai kapanpun, gue gak setuju tunangan sama lo.”

“Fine! Dan lo bakal tau akibatnya!” Rio beranjak darisana.

Cakka dan shilla masih melongo di tepat duduk mereka. Ify menatap kedua temannya itu dengan tatapan sendu. Cakka menyenggol bahu shilla, memberi kode. Shilla yang menangkap langsung mengangguk dan mendekati ify.

“kalo kamu ada masalah, kamu bisa cerita ke kita, kok. Kalopun rahasia, kita juga bisa jaga rahasia kamu. Kita temen, inget?”

Ify yang tak kuat akhirnya menangis, dan meluncurlah cerita dari mulutnya. Runtut, dan jelas. Sesekali shilla dan cakka menepuk bahu ify, menenangkannya.

“Mungkin Rio bener, fy. Mulailah menerima kenyataan, karena ini kehendak keluarga kamu. Mereka tau yang terbaik buat kamu. Aku yakin, mereka ingin kamu bahagia dengan orang yang benar.”

“Rio? Dia orang yang benar?” sinis ify.

life must go on, fy. Kamu nggak mungkin terus-terusan nentang keputusan keluarga kamu. Suatu saat kamu pasti mengalah. Keputusan keluarga itu telak, kalo ngelawan, kita dosa. Kalau ngejalanin dengan terpaksa, kita juga dapet dosa. Mulai ikhlas aja. Pasti semua nya akan berujung indah.” Cakka tersenyum melihat tangis ify yang sudah berhenti.

“Makasih, kka, shill. Gue nggak tau apa jadinya tanpa kalian.”

“Ya, itulah gunanya sahabat.” Cakka mengacak-acak rambut ify.

Seketika jantung shilla mencelos. Kata-kata itu lagi. batinnya pedih.

“Cakka! Rusak, tau!”

“Kamu udah cukup berantakan karena nangis, jadi aku tambahin aja.”

“Udah, jangan kaya anak kecil. Dua jam lagi acara mulai, kita harus siap-siap.” Ujar Shilla menengahi.

“Siap, bu guru...” koor ify dan cakka sambil cekikikan.

**__**

Part 6 sudah di possstt!!!
Jangan lupa commentnyaaaaa (:
@achaDG